30.3 C
Jakarta

Pancasila dan Cara Nabi Menata Negara

Artikel Trending

KhazanahOpiniPancasila dan Cara Nabi Menata Negara
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam Islam, Nabi Muhammad menelurkan banyak poin penting yang dijalankan umat manusia sampai sekarang. Keteladanannya menuai sambutan hangat, bahkan dari kalangan non-muslim.

Michael H Hart dalam The 100, A Ranking of The Most Influential Persons in History misalnya, menempatkan Nabi Muhammad sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah. Hal ini didasarkan pada pengaruh Nabi Muhammad yang menyentuh banyak aspek, termasuk pondasi suatu negara.

Pertama kali diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad tidak serta merta menggelorakan reformasi politik, justru yang paling sering beliau suarakan adalah revolusi sosial-kultural untuk membangun masyarakat yang humanis, toleran, dan egaliter. Kesemuanya itu beliau wujudkan dalam aksi pembebasan budak-budak, mengangkat derajat sosial, dan menyamakan kasta semua orang.

Tantangan terbesar Nabi dalam menciptakan sistem ideal adalah fanatisme kesukuan. Nabi sering menghadapi persoalan bentrok antar suku yang disebabkan rasa gengsi dan pandangan sinis antar suku.

Kepungan diskriminasi yang terjadi hampir setiap hari, membuat Nabi harus bekerja keras untuk mendekontruksi sistem sosiokultural tersebut. Beberapa strategi dilakukan Nabi, baik dengan lobi politik dengan ketua suku maupun pendekatan langsung dengan kaum tertindas.

Strategi tersebut menemui titik temu, yang menghapuskan sistem tirani dan eklusif. Berkembang pula dakwah Nabi yang berhasil menghapuskan sistem diskriminasi dan egaliter dengan berpegang teguh pada kalam Allah. Kemudian Nabi mengembangkan pluralisme suku dan etnik sebagai jawaban fanatisme buta yang menjadi adat masyarakat Arab kala itu.

Kisah peletakan kembali Hajar Aswad adalah kisah kegemilangan Nabi Muhammad dalam meredam fanatisme kesukuan. Diceritakan ketika terjadi banjir besar yang meruntuhkan dinding Ka’bah, membuat Hajar Aswad terjatuh. Banyak kabilah yang berdebat tentang siapa yang paling berhak meletakkan benda suci itu ke tempat semula.

Maka datanglah tokoh tertua Quraisy, Abu Umayyah ibn al-Mughiroh al-Mahzumy dengan membawa solusi untuk menunjuk orang pertama yang masuk Ka’bah dari pintu Bani Syaibah sebagai sosok yang berhak meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula.

Atas kehendak Allah, Nabi Muhammad menjadi orang pertama yang memasuki Ka’bah dari pintu Bani Syaibah. Nabi Muhammad dikabari atas peristiwa penting tersebut. Saat ingin meletakkan Hajar Aswad, Nabi Muhammad mengambil sorbannya dan meminta setiap kabilah secara bersamaan meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula. Koalisi yang dilakukan Nabi, membawa bangsa Arab ke babak baru dalam menata sistem sosio-kultural.

BACA JUGA  Indikator Moderasi Beragama dalam Fenomena Populisme Islam

Selain pada aspek sosial, politik, dan demokrasi, Nabi Muhammad juga menggariskan unsur ekonomi untuk menata masyarakat Arab. Nabi mengambil prinsip egaliterianisme sebagai jalan pemerataan ekonomi. Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (Al-Isra: 26). Oleh Nabi, sistem kapitalisme dipinggirkan, sehingga semua masyarakat Arab dapat bergandengan tangan membangun kehidupan yang layak.

Terakhir, untuk menguatkan prinsip-prinsip yang sedari awal dibangun, Nabi membuat sistem hukum yang kuat. Piagam Madinah adalah contoh sistem hukum yang kuat, yang terus menerus diterapkan Nabi sepanjang hidupnya. Sehingga pada saat itu, kondisi masyarakat Arab benar-benar stabil, bahkan memperoleh perkembangan yang luar biasa.

Apabila berkaca dari dakwah Nabi, sebenarnya prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila adalah intisari dari dakwah Nabi. Dimana dalam setiap poin Pancasila terkandung butir yang mempengaruhi keseluruhan hidup masyarakat.

Bahwa masyarakat Indonesia, harus mempunyai keyakinan, menghormati manusia lainnya, bersikap pluralisme, menghargai pendapat berbeda, dan sistem ekonomi kerakyatan yang menjurus kesejahteraan semua pihak.

Setiap nilai yang ada Pancasila bahkan sudah dikuatkan dengan sistem hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Maka untuk menunjang keberhasilan yang sama dengan apa yang dilakukan Nabi, sistem yang ada dalam Pancasila harus dijalankan dan diamalkan setiap harinya. Semua nilai yang ada dalam Pancasila adalah pandangan hidup masyarakat Indonesia dan dirumuskan oleh pendiri bangsa sebagai alat pemersatu bangsa.

Oleh karena itu, cara tercepat untuk menata negara menjadi stabil, bahkan mengalami kemajuan dari sebelumnya, adalah pengamalan Pancasila. Melaksanakan setiap nilai kebajikan yang ada didalamnya, hingga membekas, hingga Indonesia menjadi negara yang dihormati serta dijadikan panutan bagi negara lainnya.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru