31.7 C
Jakarta

Pancasila dalam Kepungan Neo-Komunisme, Apakah NKRI Terancam?

Artikel Trending

Milenial IslamPancasila dalam Kepungan Neo-Komunisme, Apakah NKRI Terancam?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Hari ini, 1 Oktober, merupakan momentum memilukan dalam sejarah. Ini berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September (G30S), yang juga dikenal dengan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau juga Gestok (Gerakan Satu Oktober), yang terjadi selewat malam pada tanggal 30 September sampai 1 Oktober tahun 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia dibunuh para komunis. Sekarang, benarkah ada ancaman baru bernama neo-komunisme?

Sampai hari ini, film G30S PKI menjadi topik tahunan yang mungkin bahkan sudah tertanam menjadi mindset kolektif tentang kekejaman ideologi komunis. Buktinya, G30S menjadi trauma jangka panjang yang bahkan tidak juga sembuh meski sudah lewat setengah abad. Padahal, setahun setelah peristiwa 1965, yakni tahun 1966, Orde Baru menjadikan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Lalu kenapa masih pada khawatir pada PKI?

Membahas PKI dan pemberontakannya, juga tentang pembantaian terhadap mereka sebagai pembalasan di tahun yang sama, faktanya tidak melulu berkaitan dengan pertengakaran umat Islam dengan para komunis. Lebih dari itu, ia memiliki ujung yang sama, yaitu ihwal perebutan kekuasaan yang hari ini, baik umat Islam maupun komunis, juga tetap menginginkannya. Untung saja, islamisme maupun komunisme masih kalah pada Pancasila.

Mengapa Pancasila dikepung oleh islamisme maupun komunisme? Itu pertanyaannya. Dan lebih lanjut bisa ditanyakan pula, apakah NKRI dengan ideologi Pancasila terancam? Dua pertanyaan tersebut penting untuk dijawab di momentum Hari Kesaktian Pancasila ini. Rakyat Indonesia harus menyadari bahwa ancaman terhadap NKRI sangatlah kompleks, dan karenanya memahami ancaman-ancaman akan menjadi langkah mitigasi bersama.

Istilah “neo-komunisme” dipakai di sini untuk mengafirmasi bahwa baik islamisme maupun komunisme selalu dinamis, meski tujuan mereka sama: menguasai bangsa. Maka di sini perlu ditegaskan, dalam pembahasan ini, istilah tersebut tidak spesifik disematkan kepada para anggota PKI saja, melainkan juga pada siapapun yang berada di pusaran tersebut sekalipun mereka beragama Islam. Ini, dengan kata lain, bukan hanya tentang partai, melainkan ideologi.

Komunisme Bukan Partai Saja

Terlepas dari kritik atas film G30S PKI yang diproduksi di zaman Orde Baru, dan secara otomatis isinya menguntungkan rezim yang wkatu itu berkuasa sebagai pahlawan penumpas komunis, PKI tetaplah menakutkan. Artinya, mereka tidak bisa dianggap enteng. Kejijikan terhadap teroris tidak lain ditujukan pada umat Islam saja, karena komunis PKI juga teroris, tapi yang niragama. Ini harus disadari, karena hari ini banyak yang mengabaikannya.

Apakah komunisme benar-benar hidup? Sebagai ideologi iya, tapi sebagai partai ia sudah lama mati. Hal ini sama dengan khilafah yang sebagai partai, ia sudah mati bersama bubarnya HTI dan semakin hilang dari publik setelah FPI—yang dalam anggaran dasarnya menginginkan khilafah Islamiyah—menjadi ormas terlarang. Faktanya, hari ini komunisme memantik islamisme, dan juga sebaliknya islamisme memantik komunisme ke permukaan.

Mari kita permudah istilahnya agar mudah dipahami, melalui dua pertanyaan kunci: siapa yang gencar bicara kebangkitan islamisme? Siapa yang getol bicara kebangkitan komunisme? Jawaban atas pertanyaan ini mengindikasikan lahirnya problem baru untuk Pancasila, yaitu neo-komunisme. Neo-komunisme adalah aktor di balik narasi itu sendiri. Dan pada bagian ini, umat Islam yang kerjanya menakuti pakai isu PKI juga tidak kalah bahayanya.

BACA JUGA  Dakwah Islamisme Fatih Karim yang Salah Kaprah

Partai PKI dan HTI boleh bubar, tapi keberlangsungan ideologi kedua partai yang ambivalen tersebut tidak bisa dimusnahkan. Ideologi itulah yang mengepung Pancasila, menyerangnya dari berbagai sisi sambil saling klaim paling Pancasilais di antara mereka. Komunis teriak islamis, dan islamis teriak komunis. Apa yang ada di balik teriakan mereka? Tidak lain adalah propaganda terselubung untuk NKRI yang bertujuan menguatkan ideologi mereka masing-masing.

Bahwa NKRI bukan negara Islam sekaligus bukan negara sekuler, itu benar adanya. Sementara itu, Pancasila mengakomodasi kedua sisi, melalui apa yang disebut sebagai ‘ideal moral’ Pancasila. Pada saat yang sama, sebagai ideologi bangsa, nilai Pancasila dijadikan legitimasi untuk agenda kedua musuh bangsa tadi. Misalnya, HTI-FPI teriak-teriak komunis, padahal dalam makna derivatifnya, mereka semua berada di rumpun yang sama: penggerus kedaulatan negara.

Mewaspadai Neo-Komunisme

Neo-komunisme secara sederhana bisa dipahami sebagai lahirnya komunisme baru, baik itu wacana atau fakta, juga maupun itu diungkap oleh pihak komunis sendiri atau dinarasikan oleh para islamis yang notabene rivalitas. Artinya neo-komunis tidak berasal dari sisa-sisa PKI saja, melainkan juga dari islamis radikal yang ingin menebarkan ketakutan masyarakat melalui isu lama. Sehingga akibatnya, masyarakat tidak sembuh-sembuh dari traumanya.

Bagaimanapun, andai tidak ada pembingkaian isu, komunisme pasti sudah reda di masyarakat. September-Oktober pun tidak akan lagi menyimpan sejarah ketakutan dan pembantaian. Apalagi, rekonsiliasi pernah digelar pada tahun 2016 lalu, untuk menciptakan kesepahaman bahwa apa pun ideologinya, selama hidup di bawah NKRI, maka ia harus tunduk pada ideologi bangsa yaitu Pancasila. Perpecahan tidak perlu terulang lagi.

Dengan demikian, mereka para islamis yang suka teriak isu PKI dan bahkan menjadikannya sebagai upaya melawan pemerintah karena dianggap PKI, adalah neo-komunis. Mereka bukan kalangan sosialis, tapi islamis yang komunal-ideologis. Mereka tidak akan membantai seperti yang pernah PKI lakukan, tetapi mereka akan selalu menghasut sesama warga negara agar bentrok dengan pemerintah yang tengah berkuasa. Ini fakta.

NKRI apakah berada dalam ancaman? Tergantung. Neo-komunisme ini hanya akan mengakibatkan satu masalah, yaitu perpecahan antarwarga negara. Padahal, komunis PKI hanya isu, karena yang ada di hadapan publik saat ini adalah ancaman para islamis-radikalis. Kita harus hati-hati terhadap kebangkitan PKI, tetapi konstitusi negara sudah menahannya. Yang tidak bisa ditahan adalah neo-komunisme tadi, yang secara gamblang, ini tampak sebagai upaya memerangi Pancasila.

Namun, tenang. Semoga Pancasila tetap sakti melawan semua penganggunya. Selamat Hari Kesaktian Pancasila.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru