28.9 C
Jakarta

Obituari Tengku Zul: Kita Hanya Perlu Mengonter Narasi, Bukan Menghujat Orangnya

Artikel Trending

Milenial IslamObituari Tengku Zul: Kita Hanya Perlu Mengonter Narasi, Bukan Menghujat Orangnya
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Innalillah wa inna ilaih raji’un. Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Ustaz Tengku Zulkarnain, meninggal dunia akibat COVID-19, di Pekanbaru, Riau, Senin (10/5), selepas Maghrib. Sebagai tokoh publik, ucapan belasungkawa berdatangan atas kewafatan Tengku Zul, termasuk dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun, di tengah duka, sementara pihak justru mengungkit kehidupannya yang kontroversial.

Tengku Zul memang kerap kali menuai kontroversi. Ia pernah memprediksi 10 tahun lagi Muslim di Indonesia sisa separuh, juga pernah mengatakan bahwa penolakan toa masjid bagian dari penolakan terhadap Islam. Tidak hanya itu, ia juga pernah menyebut surga jelek jika ada orang hitam, dan bahwa baju batik tak bagus digunakan untuk shalat. Tengku Zul juga pernah melegalkan pemaksaan hubungan seksual suami terhadap istri, dan mengusulkan perumusan UU untuk presiden yang berbohong.

Sebagai pemuka agama yang searah dengan kelompok sebelah, Tengku Zul juga pernah menyebut ibu kota baru, yakni Kalimantan Timur, mudah terancam rudal China. Bahkan, yang kini tengah marak jadi bahan pembicaraan, ia pernah mengatakan akan membantu pemerintah kalau Presiden Jokowi wafat. Tetapi tepatkah mencibir seseorang yang sudah wafat? Lepas dari kontroversinya, ia wafat di bulan yang mulia. Maka baik sekali jika yang kita utamakan adalah husnuzan: ia wafat dalam husnul khatimah.

Tengku Zul sudah menghadap Sang Pencipta. Artinya, ia sudah bebas dari segala kontroversi itu dengan kita, dan yang tersisa tinggal antara ia dengan Tuhan. Apakah tugas kontra-narasi, dengan demikian, juga selesai? Jelas tidak. Kita tetap wajib untuk mengonter narasi yang bertendensi memecah-belah, tetapi kita tidak bisa larut dalam kebencian personal.

Seorang profesor antropolog yang tidak perlu disebut namanya nyinyir di Facebook, tentu profesor tersebut tidak boleh kita ikuti. Paling tidak itu demi menghormati seseorang yang sudah wafat. Lebih-lebih, dalam beberapa hal, ia laik menjadi teladan kehidupan kita.

Tengku Zul dan Keteladanan

Seberapa pun kontroversial seorang Tengku Zul, kita tidak bisa menegasikan keteladanannya. Bahwa kalau pun kita berseberangan, yang hendak kita konter adalah narasi yang dibawanya, bukan sama sekali melupakan kebaikan dan menghujatnya tanpa ampun. Itu tidak tepat. Dalam salah satu ceramah, ia memuji Gus Dur dan meneladaninya. Dalam ceramah yang lain, ia mendoakan para korban COVID-19 agar diberikan kesabaran dan kesembuhan.

Hal itu menjadi isyarat bahwa kontra-narasi mesti tepat sasaran. Ketika ia menghina pemimpin dan memprovokasi umat Islam, kita memiliki tugas mengonter dan meluruskan narasinya. Ketika ia melakukan sesuatu yang pantas menjadi teladan, kita tidak boleh enggan hanya karena ia dianggap lawan. Adakalanya kita mengkritik, adakalanya pula kita mengapresiasi. Kontra-narasi bukan kerja menghujat. Alih-alih efektif, justru ia akan tercitrakan negatif.

Kontra-narasi merupakan tugas positif, sehingga caranya pun tidak boleh negatif. Mengonter narasi tidak berkonotasi menghujat, melainkan meluruskan. Ini penting ditegaskan dan tidak boleh disalahpahami. Faktanya, tidak jarang kita mengonter narasi seseorang berbarengan dengan hujatan terhadap personalitasnya. Akibatnya, kontra-narasinya tidak bernilai apa-apa kecuali menambah antipati berbagai pihak pada kita sendiri.

BACA JUGA  Kemelut MUI dan Potensi Terorisme HTI

Kita harus melihat Tengku Zul dengan kacamata objektif tanpa kebencian. Yang keliru darinya, kita luruskan. Yang provokatif dari ceramahnya, kita berikan tanggapan. Termasuk jika ada sesuatu yang kita anggap keteladanan, kita tidak bisa menutupinya. Ia tidak buruk secara keseluruhan dan tidak sempurna tanpa celah apa pun. Bagi pengikutnya, boleh jadi ia kaya keteladanan.

Lalu bagaimana kalau kita betul-betul tidak mampu melihat keteladanan tersebut—saking tidak sepaham dengannya? Jawabannya adalah menahan diri dari hujatan kebencian di satu sisi, dan menjaga marwah kontra-narasi di sisi lainnya. Mengonter narasi kontroversial sebagaimana yang biasa Tengku Zul lakukan itu harus, tetapi menyerang personalnya itu salah kaprah. Kita tidak perlu menyebut pelakunya, kita semua pasti tahu siapa yang kerjanya suka memelintir.

Jangan Dipelintir!

Al-Qur’an menuntun kita untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan (Ali Imran [3]: 10), juga meminta kita berlaku adil dan jadi duta kebaikan (al-Nahl [16]: 90). Namun harus digarisbawahi, Al-Qur’an juga mewanti-wanti agar kita tidak terjerembab dalam kebencian yang tidak proporsional (al-Maidah [5]: 8) yang alih-alih tujuan kita berhasil, justru kita akan dibenci. Karenanya, memelintir narasi adalah kesalahan fatal.

Tengku Zul ber-Indonesia dengan caranya sendiri, yang boleh jadi berseberangan dengan kita. Tugas kita adalah mengonter narasinya, bukan menghujat orangnya. Terdapat perbedaan signifikan antara pelintiran kebencian (hate spin) dengan kontra-narasi. Panggilan ‘kadrun’, misalnya, sangat stigmatis dan tidak proporsional. Alih-alih lakukan kontra-narasi, justru ia terjebak ujaran kebencian. Duduk perkara membela bangsa sudah terpelintir dari yang seharusnya.

Ke arah mana pun, memelintir tidak dibenarkan. Sementara kalangan mengaitkan kewafatan Tengku Zul sebagai ulah rezim yang membunuhnya melalui virus—tuduhan yang terlampau kejam. Yang lainnya memelintir bahwa kewafatan Tengku Zul merupakan kualat dari ceramahnya yang tidak percaya virus. Keduanya sama-sama manipulatif. Tengku Zul memang ditakdirkan wafat dengan perantara COVID-19, dan kita tidak bisa memelintir takdir untuk kepentingan narasi kebencian.

Masalah Tengku Zul sudah selesai. Tidak baik membicarakan keburukannya, apalagi dengan narasi yang penuh kebencian. Jika ia pernah menyakiti perasaan kita, memaafkannya merupakan keniscayaan. Lalu kita beranjak pada tugas utama, yaitu mengonter narasi yang memecah-belah. Berasal dari siapa pun itu.

Kita tidak bisa membenci Tengku Zul kecuali narasinya yang bertendensi provokatif. Tetapi kita juga tidak bisa membiarkan narasi provokatif yang memperalat Tengku Zul itu sendiri. Kebencian, hasutan, dan hujatan adalah narasi lingkaran setan. Tugas kita dalam kontra-narasi, tidak lain, adalah mengonter lingkaran itu. Sama sekali bukan untuk menyerang personal. Maka kepada Tengku Zul, kita ucapkan selamat jalan. Dan perjuangan kontra-narasi tetap kita lanjutkan.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru