26.5 C
Jakarta

Nilai-Nilai Moral Universal untuk Dakwah, Apa Saja Itu?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanNilai-Nilai Moral Universal untuk Dakwah, Apa Saja Itu?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Dakwah merupakan kegiatan paling efektif yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. guna menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia. Semenjak dakwah itu berlangsung, banyak orang terdekat Nabi Saw. yang mulai masuk Islam, meskipun beliau tidak sedikit pula dihadapkan dengan penolakan masyarakat pada waktu itu. Di antara orang terdekat beliau yang langsung masuk Islam adalah istri beliau Khadijah, Abu Bakar, Ali, dan puncaknya Umar bin Khattab yang mulanya membenci beliau kemudian mendapat hidayah dan masuk Islam dengan hati yang lapang.

Selepas wafatnya Nabi Saw., kegiatan dakwah tidak berhenti sampai di situ, melainkan terus berlanjut. Dakwah ini kemudian dilanjutkan oleh para ulama, yang dalam hadis disebut, sebagai penerus para nabi (waratsah al-anbiya’). Para ulama ini berdakwah dalam segala bentuk di pelbagai wilayah di mana mereka tinggal. Model dakwah ini, sebagaimana disebut dalam sebuah hadis, meliputi: dakwah dengan lisan, dakwah dengan tindakan, dan dakwah dengan hati. Tiga macam model dakwah ini digunakan secara fleksibel.

Tiga model dakwah tersebut, tidak bakal berhasil jika tidak dibarengi dengan nilai-nilai moral universal, yaitu: nilai keadilan, nilai kemaslahatan bersama, nilai saling mencintai dan mengasihi, nilai saling menghormati, serta nilai kerja sama dan tolong-menolong. Beberapa nilai moral ini penting diperhatikan dalam berdakwah, karena nilai-nilai ini merupakan hal-hal yang diperjuangkan oleh Nabi Saw. dalam berdakwah. Jangan sampai berdakwah melupakan nilai-nilai moral universal, karena tanpanya dakwah akan tidak berguna sedikitpun, malahan menghadirkan kemudaratan.

Sebelum membahas lima nilai moral universal yang diajarkan Nabi Saw. dalam berdakwah, saya ingin tekankan bahwa dakwah yang melupakan lima nilai moral tersebut ternyata banyak ditemukan di era sekarang. Perhatikan saja dakwah yang dilakukan oleh kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan sikap angkuh, merasa paling benar, dan tidak segan-segan mengkafirkan orang lain yang tidak sepemikiran dengannya, meskipun orang ini jelas-jelas beragama Islam.

Selain dakwah HTI, juga dapat dilihat model dakwah pelaku terorisme yang menghilangkan nilai kemaslahatan dalam berdakwah. Mereka berdakwah dengan aksi-aksi kejahatan terorisme yang membahayakan banyak orang, baik si pelaku dengan bom bunuh diri ataupun orang lain. Perhatikan saja banyak orang yang menjadi korban akibat dari kejahatan yang mereka perbuat. Telah hilang rasa cinta dalam hati pelaku terorisme itu. Mereka dengan mudahnya memangsa saudaranya sendiri, baik seagama maupun tidak.

Melihat kenyataan tersebut, penting menghadirkan lima nilai moral universal dalam berdakwah: Pertama, nilai keadilan. Islam memerintahkan umatnya untuk bersikap adil terhadap semua manusia tanpa memandang agama yang dianutnya, lebih-lebih tanpa membedakan orang yang sepemikiran atau tidak. Allah Swt. menyebutkan dalam surah al-Maidah ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa.

Kedua, nilai kemaslahatan bersama. Islam hadir di muka bumi ini guna mewujudkan semua yang mendatangkan manfaat bagi manusia, serta menghilang sesuatu yang membahayakan atau menyusahkan mereka. Karena itu, agama langit ini menjadi agama yang penuh dengan kemaslahatan atau rahmat. Disebutkan dalam surah al-Anbiya’ ayat 107: Tiada Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Mengenai kemaslahatan ini, Imam al-Ghazali menyatakan, bahwa kemaslahatan yang harus didapatkan oleh manusia ada lima: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta mereka.

Ketiga, nilai saling mencintai dan mengasihi. Satu-satunya manusia yang paling besar cintanya kepada umatnya adalah Nabi Muhammad Saw. Maka, semua umat Islam harus menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai suri teladan yang baik bagi hidupnya, agar dalam berdakwah terhindar dari kebencian lantaran dakwahnya ditolak atau belum diterima. Saking pentingnya mencintai sesama, Nabi Saw. menyatakan: Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri. Dalam kesempatan lain Nabi Saw. bersabda: Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi sesama manusia.

Keempat, nilai saling menghormati. Menghormati sesama merupakan bagian dari iman. Hal ini disinggung dalam hadis Nabi Saw.: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati tetangganya. Tetangga yang dimaksud di sini adalah orang terdekat, bisa jadi kerabat, teman sejawat, relasi, dan bisa jadi yang lainnya. Pentingnya saling menghormati sesama berhubungan dengan pentingnya dakwah menghindari beberapa hal terlarang, sebagaimana disinggung dalam surah al-Hujurat ayat 11-12, meliputi larangan mengolok-olok orang lain, larangan mencela diri sendiri, larangan memanggil orang lain dengan gelar yang buruk (semisal kafir, thaghut, dan seterusnya), larangan berprasangka buruk, larangan mencari-cari kesalahan orang lain, dan larangan menggunjing sesama.

Kelima, nilai kerja sama dan tolong-menolong. Keberhasilan dalam hidup tidak luput dari tangan-tangan orang lain yang membantu. Maka, di situ terlihat pentingnya kerja sama antar sesama. Mengenai pentingnya kerja sama disebutkan dalam surah al-Maidah ayat 2: Tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Tolong menolong ini tidak memandang latar belakang kehidupan seseorang yang mengalami kesusahan. Nabi Saw. menyatakan: “Bantulah saudaramu, baik yang berbuat zalim ataupun yang dizalimi.” Seorang laki-laki kemudian bertanya, “Wahai Rasul, aku menolongnya ketika ia dizalimi, bagaimana caraku menolong orang yang berbuat zalim?” Rasul menjawab, “Engkau mencegahnya dari berbuat zalim. Itu pertolongan yang dapat kamu berikan.”

Sebagai penutup, dakwah akan berhasil jika menyertakan lima nilai moral universal yang sudah dijelaskan tadi. Karena, lima nilai ini diakui oleh semua umat beragama. Menghilangkan nilai-nilai tersebut akan berakibat negatif dalam berdakwah terhadap banyak orang, baik kepada si pelaku sendiri maupun kepada orang lain. Bukti akibat negatif dakwah tanpa nilai-nilai moral universal dapat dilihat dari dakwah HTI dan dakwah kejahatan terorisme: terjadinya banyak perpecahan dan korban ledakan bom.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru