31.4 C
Jakarta

Nataru, Shock Therapy dan Cerita Lama Terorisme

Artikel Trending

Milenial IslamNataru, Shock Therapy dan Cerita Lama Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Di sebuah angkringan di pinggir jalan arah Solo-Jogja, tak jauh dari markas Kopassus 2 Surakarta, bapak-bapak bercerita tentang Nataru (Natal dan Tahun Baru) dulu kala. Ia yang lahir dan besar serta menjadi tua di Solo, merasakan betul bagaimana detik-detik huru-hara kala itu.

Di Solo, tiap hari perayaan Nataru selalu menjadi hari penting yang menggembirakan. Jalan-jalan dihiasi dengan lampu-lampu merah dan putih mungil. Di tempat-tempat pembelanjaan seperti mall berdiri pohon-pohon natal dan santarklas. Orang-orang pelaku bisnis berjejeran berjualan trompet di pinggir-pinggir jalan. Dan anak-anak perantuan tersenyum lega merasakan liburan bersama keluarga di kampung halaman.

Waktu itu, umat Kristiani dan Muslim guyub, saling rukun membantu menyelenggerakan peristiwa Natal.

Pasca Natal 2000

Tapi setelah tahun 2000 suasana Nataru di Solo berubah. Di Solo, yang sebelumnya merasa aman dan tentram dalam setiap momen perayaan Nataru, mendadak mencengkram.

Pada tanggal 24 Desember di tahun 2000, Bom-bom Natal 2000 meneror beberapa Gereja kota besar di Tanah Air. Tragedi ini mengguncang Gereja di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Sukabumi, Pangandaran, hingga Bandung. Puluhan orang mati, ratusan orang luka-luka. Indonesia seperti banjir bandang darah dan kekalutan. Indonesia suram, natal menjadi buram.

Sayangnya, bom-bom itu tetap berlanjut hingga saat ini. Di beberapa tempat masih terdengar hiruk-pikuk pengeboman demi pengeboman di Gereja. Terakhir, pengeboman gereja di Indonesia pada 2021 di Gereja Katedral Makassar. Sementara pengeboman di Solo terjadi pada 25 September 2011, di sebuah Gereja GBIS, Kepunton, Solo. Dalam peristiwa ini, ada 28 orang luka-luka. Pelakunya adalah Achmad Yosepa Hayat, alias Ahmad Abu Daud seorang muslim dari Jawa Barat.

Keinginan Mereka

Apa yang diinginkan dari pengeboman ini?

Bapak itu sambil nyeruput tehnya mengatakan, “kita dipaksa untuk takut, Mas. Mereka sengaja ingin menyebar teror. Tapi apa kita harus takut?” ucapan tersebut, memang masuk akal jika kita bandingkan apa yang teroris buat sejauh ini. ISIS dan Al-Qaeda yang mencoba mengebom sana-sini, sekadar untuk menoror orang yang tidak berdaya. Atau sekadar melakukan perintah atasan dan mengirim signal pada negara-negara tujuan.

Masyarakat, khususnya negara ingin dibuat takut olehnya. Kelompok mereka ingin terlihat digdaya. Tapi dunia ini tak mungkin sirna jika kita melawan. Dunia tak mungkin mati jika kita memupuskan hasrat mereka. Tapi ada masalah yang luar biasa runyam dari bom yang dialokasin oleh seorang muslim ke umat Kristiani. Apa itu?

Yang saya lihat, serangan bom itu ingin memperburuk hubungan antara Muslim dan Kristen di seluruh wilayah Indonesia. Ini terbukti hingga sekarang. Dalam skala lokal, nasional, dan internasional, kerukunan masih selalu dipertanyakan. Artinya, keragaman menjadi sesuatu yang banyak orang tegangkan dan masalahkan, khususnya dalam tubuh muslim.

Bukti kongkritnya adalah maraknya Islamofobia di banyak negara. Bagi mereka, dengan segala perbuatan brengsek teroris muslim, umat-umat non-Muslim masih merasa takut akan ajaran Islam. Dengan bomnya, dengan swipingnya, dengan grudukannya, dan dengan bahasa-bahasa kasarnya: kafir, masuk negara jahanan, dan lain-lain.

Tujuan lainnya adalah untuk meredam konflik di Ambon. Manurut Syaifullah, peristiwa peledakan bom-bom malam Natal pada tahun 2000 salah satunya didorong oleh konflik Ambon. Bom natal dijadikan sebagai shock therapy agar kisruh di Ambon segera berakhir. Waktu itu sebulan sebelum insiden bom natal 2000, Edy, Dulmatin, Imam Samudera, Muklas, dan Hambali melakukan pertemuan untuk merancang aksi tersebut di Jalan Anggrek Raya No. 4, Malakasari, Klender, Jakarta Timur.   Saya kira taktik shock therapy tetap digunakan sampai sekarang.

Menyisakan Cerita

Namun, Nataru pada tahun 2022 ini masih meninggalkan sesak cerita. Noordin M. Top sudah mati. Tapi peninggalan terornya masih membekas tiap acara perhelatan Nataru di Indonesia. Sebab, hanya dan sebab Noordin M. Top yang bisa membuat bom meladak di mana-mana. Ia yang merangkai dan mengorganisir di setiap peledakan bom pada malam natal itu (Pemikiran dan Aktivisme Islam Abu Jibril: Mengkaji Wacana Islam Radikal di Era Reformasi).

Kita masih mengingatnya, kelompok yang dikomandani Noordin M. Top merupakan kubu teroris sempalan dari Jamaah Islamiyah. Tujuan perjuangan kelompok teroris Noordin M. Top ini adalah untuk menyerang kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di Indonesia. Ia bersama dengan Dr. Azahari adalah murid dari Abu Bakar Baasyir. Keduanya sama-sama keluar dari Jamaah Islamiyah: Abu Bakar Ba’asyir mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan kelompok Noordin M Top mulai memisahkan diri dari JI sejak terjadi peristiwa peledakan Hotel Mariott tahun 2003. Namun pada 2009 Noordin M. top tewas dalam penyergapan yang dilakukan di Surakarta.

Nataru baru berjalan beberapa hari. Apakah peritiwa tahun 2000 akan berurang kembali? Tunggu tulisan selanjutnya.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru