30 C
Jakarta

Nasib Perempuan Afganistan Di Ujung Tanduk: Aturan Agama Menyengsarakan Perempuan

Artikel Trending

KhazanahTelaahNasib Perempuan Afganistan Di Ujung Tanduk: Aturan Agama Menyengsarakan Perempuan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com-Beberapa waktu lalu, sempat ramai tentang pemerintahan Taliban yang membuat peraturan cukup mendapatkan banyak respon dari pelbagai aktifis di Indonesia. Pada 7 Mei, Taliban kembali membuat aturan tentang kewajiban penggunaan Burqa bagi perempuan. Lebih jauh, pemerintah Taliban juga mewajibkan untuk memecat pegawai perempuan yang tidak mengikuti peraturan tersebut.

Atas peraturan itu, Taliban dikecam oleh dunia internasional terkait peraturan yang menyiksa perempuan tersebut. Tidak hanya itu, Taliban bukan hanya kali ini saja membuat aturan gila semacam itu. Semenjak ia berkuasa, peraturan Taliban sangat membelenggu perempuan. Hal ini bisa dilihat dari pembatasan perempuan di bidang pendidikan, karir publik, pemerintahan, hingga pekerjaan lainnya.

Terbaru, pada hari kami 19 Mei 2022 silam, Taliban memberikan peraturan baru yakni pembawa berita perempuan diharuskan menutup wajah. Peraturan tersebut mengindikasikan bahwa, Taliban pelan-pelan akan meniadakan perempuan dalam sosial dan politik. Dalih agama, khususnya agama Islam, tidak bisa dibenarkan dalam melihat konteks aturan itu. Mengapa demikian? Mari kita simak!

Allah pencipta jenis kelamin, bukan keinginan manusia

Islam hadir sebagai agama yang memanusiakan manusia. Jika dilihat dari sejarah sebelum datangnya Islam, budaya yang membunuh kehadiran bayi apabila berjenis kelamin perempuan, menjadi tradisi kelam yang sangat memalukan. Hadirnya Islam justru menjadi pendobrak dari tradisi kolot yang tidak memanusiakan perempuan.

Selain itu, sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah, manusia tidak bisa memilih lahir dengan jenis kelamin seperti apa. Kehendak tersebut merupakan hak preogratif Allah sebagai pencipta.

Di samping itu, perlu kita pahami bahwa, semenjak 14 abad lalu, nalar kritis kita dipaksa untuk berpikir secara jernih dengan melihat lebih jauh tentang kemanusiaan. Islam hadir sebagai agama yang memberikan ruang bagi umatnya untuk memanfaatkan akal dan pikiran secara utuh. Hal itu dibuktikan dengan pelarangan pembunuhan atas bayi perempuan, aturan poligami yang diterapkan agar masyarakat Arab tidak semaunya memperlakukan perempuan, dll.

Aturan yang diterapkan oleh Taliban justru bukan berasal dari aturan Islam, melainkan pelanggengan budaya kolot dari tradisi Arab yang berusaha dibawa dan dipaksakan kepada perempuan di Afganistan. Apalagi, aturan yang diterapkan oleh Taliban bukan hanya sekedar pemakaian Burqa semata, akan tetapi pembatasan peran terhadap perempuan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai manusia.

BACA JUGA  Mampukah Pendekatan Humanis dalam Penanganan Aksi terorisme?

Mungkin kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan seorang perempuan Afganistan dalam sebuah keluarga menjadi orang tua tunggal. Ia harus mencari nafkah untuk menghidupkan keluarganya. Namun karena aturan tersebut, perempuan tidak bisa lagi menghidupi keluarganya. Semangatnya mati, perjuangannya juga dimatikan oleh Taliban.

Tidak hanya itu, barangkali kita perlu mendengarkan kembali apa yang dijelaskan oleh Nigin Ayeen, sekretaris Dubes Afganistan untuk Indonesia dalam sebuah podcast di akun youtube @TVNU, ia menceritakan bagaimana kisah ibunya yang awalnya berada di parlemen pemerintah sebelum datangnya Taliban. Namun, semenjak Taliban berkuasa, ibunya kehilangan ruang untuk berkarir di dunia pemerintahan. Kini, tidak lagi mendapatkan tanggung jawab dalam mengelola negara.

Padahal, kehadiran perempuan dalam dunia pemerintahan sangat diperlukan. Partisipasi perempuan di dunia pemerintahan tidak lain diperlukan untuk membantu mengeluarkan peraturan khususnya yang bersangkutan dengan masalah perempuan. Cerita Nigin Ayeen hanyalah bagian dari kisah perempuan yang tinggal di Afganistan. Faktanya, ada banyak perempuan yang tinggal di Afganistan merasa terancam dengan keberagaan Taliban. Lain dari pada itu, posisi mereka terancam, masa depannya juga dipertaruhkan, kebebasan berekspresi dan dan berpendapat serta hidup layak menjadi manusia pada umumnya tidak bisa didapatkan.

Pada kesimpulannya, Taliban bukanlah pemerintah yang menjunjung nilai-nilai Islam di dalamnya. Sebab pada aturan itu, banyak orang yang tersiksa, bahkan merasa tertindas atas kehadirannya. Bukankah itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam? Wallahu a’lam

Kita semua, khususnya perempuan yang tinggal di Indonesia merasa sangat beruntung. Kita memiliki kebebasan untuk berpendidikan, berkarir, bahkan menggunakan pakaian sesuai dengan keinginan. Tentu, hal itu di dasarkan pada norma yang berlaku.

Meskipun demikian, perjuangan untuk menciptakaan kesetaraan gender, ruang aman bagi perempuan, serta menghasilkan peraturan yang adil gender, masih harus diperjuangkan. Sebab bagi sebagian orang, kesetaraan gender tidak perlu didengungkan, justru beberapa kelompok yang lain menolak perjuangan kesetaraan gender lantaran tidak islami. Maka dari itu,  partisipasi kita untuk memperjuangan kesetaraan gender, harus terus dilakukan.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru