Narasi Islam Tawassuthiyah

0

Narasi Islam Tawassuthiyah

Oleh: Faiz Aziz*

Mula-mula adalah “adaalah atau ta’addul” atau keadilan, yang secara esensial filosofis bermakna “berpegang teguh pada kebenaran” (QS; Al-An’am; 152). Ia menjadi pondasi, akar, dan ruang fundamental yang mengikat. Lalu menumbuh dan berbunga mekar pada prinsip berislam. Salah satu prinsip itu adalah tawassuthiyyah, yaitu prinsip moderat atau jalan tengah. Kekuatan utama dari tawasuth dalam konteks ini bukan hanya terletak pada tidak ekstrem kiri dan kanan, yang selama ini dipahami secara konvensional dan mengalami tuduhan tidak memiliki “kelamin”, namun kekuatannya terletak pada; 1) daya dealektika dan posisinya untuk selalu melihat perkembangan dengan bebas, sehingga bersifat terbuka dengan segala situasi dan kondisi yang ada dan hadir dalam setiap preode kehidupan (dealektika). 2) Memberikan ruang untuk menerima akan sebuah kenyataan (pluralitas fakta).

Melihat dan menerima akan sebuah kenyataan dengan kekuatan dealektika dalam tawasuth mengarahkan untuk melihat fakta secara “jernih dan bersih”, bukan kemudian membenarkan semuanya. Hal ini karena tawasuth memiliki fondasi dasar “ta’addul” yang mengarahkan untuk tetap berpegang ‘teguh pada kebeneran’ itu sendiri. Artinya tawassuth bukan hanya sikap tengah, namun sikap tersebut diteguhkan oleh keadilan itu sendiri. Ini yang oleh Al-Qur’an disebut dengan ummatan wasathan (QS; al-Baqoroh; 143) yang berpegertian mendasar bahwa manusia wasathan adalah manusia yang berprinsip dengan tindakan yang lurus dan bersikap membangun.

Menumbuhnya pondasi keadilan atau ta’adul tidak berhenti pada twaasutiyah (posisi), tapi juga tawazuniyah, (kondisi), tasamuhiyah (sikap), ahlakiyah (cara) dan islahiyyah (orentasi), semua perinsip ini sekali lagi dikendalikan oleh akarnya yaitu keadilan. Setiap prinsip ini jika tidak lupa insha allah akan dibahas pada status khotbah-khotbah jumat berikutnya. Wa’allhu a’lam bis sowab.

*Penulis adalah peneliti Institute of Southeast Asian Islam, tinggal di Yogyakarta