30.5 C
Jakarta

Nahdlatul Ulama dan Masa Depan Perjuangan Melawan Terorisme

Artikel Trending

KhazanahOpiniNahdlatul Ulama dan Masa Depan Perjuangan Melawan Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Santri dipahami secara umum sebagai orang yang menuntut ilmu agama di pondok pesantren. Namun makna tersebut dapat diperluas, sebagai umat Islam yang memiliki sisi keagamaan yang kuat. Hal ini selaras dengan pemahaman yang diungkapkan oleh Clifford Geertz terkait “Islam Jawa” yang mendefinisikan kaum santri sebagai orang Islam yang melakukan pengamalan agama secara konsisten.

Definisi ini dapat dilihat dari karakter utama santri yang memiliki ketaatan luar biasa pada sosok kiyai. Dimana kiyai dalam istilah keagamaan, dipandang sebagai seseorang yang memiliki pemahaman keagamaan mendalam. Penghormatan ini dinisbatkan kepada perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang penghargaan kepada orang berilmu “Aku adalah budak bagi orang yang mengajariku satu huruf dari Al Qur’an”.

Penghormatan inilah yang menjadi daya nyala bagi santri untuk melakukan apa saja yang diperintahkan oleh kiyai. Sehingga pada peristiwa Resolusi Jihad, yang dimotori oleh KH. Hasyim Asyari selaku Rais ‘Am NU menjadi manifestasi ketaatan para santri kepada kiyai. Ketika perintah melaksanakan jihad dikumandangkan oleh para kiyai, bangkitlah kesadaran untuk melawan dengan semangat juang yang membara.

Pelaksanaan resolusi jihad secara tidak langsung menggambarkan konsep nasionalisme yang ada pada santri. Hubb al wathan min al Iman menjadi suatu gambaran bagaimana para santri menggabungkan perintah mempertahankan negara dan kebenaran agama dalam satu perjuangan. Ketika semangat ini sudah ada pada santri, maka seluruh dunia tidak akan ada artinya dibandingkan mempertahankan negara yang menjadi sumber energi keagamaan.

Peran Nahdlatul Ulama

Menimbang soal santri, tidak bisa dilepaskan dari Nahdlatul Ulama. Salah satu ormas terbesar di Indonesia yang terkenal dengan corak pondok pesantrennya. Dalam historitas sejarah, Nahdlatul Ulama mempunyai peran penting dalam membangun nasionalisme bangsa. Pokok gagasan yang dikemukakan oleh Nahdlatul Ulama tidak hanya mempengaruhi para santi secara intern, namun lebih luas mempengaruhi masyarakat yang sedang bergejolak masa itu.

Sepanjang sejarah, Nahdlatul Ulama berusaha menjaga kekuatan nasionalisme yang ada pada diri masyarakat. Terlepas peran Nahdlatul Ulama dalam resolusi jihad, komitmen menjaga negara terus ada sepanjang zaman. Nahdlatul Ulama menanamkan dalam diri masyarakat Indonesia, bahwa nasionalisme itu harus ada di setiap hembusan nafas manusia. Berikut runtutan nasionalisme yang terus ditunjukkan oleh Nahdlatul Ulama sepanjang sejarah.

Pertama, peristiwa pengukuhan Presiden Soekarno sebagai seorang yang berhak mengurusi persoalan umat. Maklumat waliy al amri al dlaruri bi la-syaukah dilontarkan untuk menjaga kesetabilan umat di tengah perdebatan tentang boleh atau tidaknya presiden dalam khazanah syariat Islam. Nahdlatul Ulama secara tegas mengukuhkan posisi Soekarno sebagai pemimpin negara sekaligus pengatur ormas di Indonesia.

Kedua, Nahdlatul Ulama mengeluarkan maklumat bahwa Indonesia sudah menjadi negara Islami (Darul Islam) yang wajib dibela dan dipertahankan. Maklumat ini secara signifikan mempengaruhi persatuan umat untuk bersamaan melakukan pengamanan terhadap Indonesia.

BACA JUGA  Mempertanyakan Pencegahan Radikalisme Kampus yang Tidak Jelas

Ketiga, prinsip Nahdlatul Ulama yang menerima Pancasila sebagai dasar negara. Penerimaan terhadap Pancasila diungkapkan dalam Muktamar Nahdlatul Ulama pada tahun 1984 di Situbondo. Hal ini sangat penting dilakukan, di tengah gejolak penolakan banyak ormas untuk menggunakan Pancasila sebagai ideologi mereka.

Kebanyakan ormas masa orde baru menggunakan Syariat Islam sebagai ideologi mereka. Dengan adanya penerimaan Pancasila, Nahdlatul Ulama sekali lagi membuktikan nasionalismenya untuk melindungi negara dari konflik besar antar umat. Penguatan syariat Islam sebagai dasar negara dikhawatirkan akan mempengaruhi umat non-muslim untuk melakukan protes besar, seperti halnya peristiwa pergantian kalimat sila pertama dalam Pancasila.

Keempat, dalam beberapa persoalan yang menghambat kemajuan bangsa, seperti korupsi, proses pemilihan pemimpin yang tidak jujur, dan kemunduran karakter bangsa, Nahdlatul Ulama terlibat aktif menyumbang suara. Ditunjukkan dalam Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama tahun 2012, NU mengusulkan untuk menghukum mati koruptor untuk memangkas kerugian negara terhadap perilaku korupsi, serta peran aktif pemerintah dalam membentuk karakter bangsa yang baik.

Jihad Abadi Para Santri

Komitmen Nahdlatul Ulama dalam menjaga nasionalisme bangsa, sesungguhnya juga menjadi khittah resolusi jihad abadi para santri untuk menjaga nasionalisme dalam dirinya dan negara. Jika dahulu jihad dimaknai sebagai upaya untuk mengusir para penjajah dari bumi Nusantara, jihad di masa modern dapat dimaknai sebagai upaya untuk menjaga negara dari segala hal yang mengancam.

Hal paling urgent yang harus dilakukan oleh para santri di masa sekarang adalah menjaga kesetabilan negara dari ancaman ideologi transnasional. Dalam tiap waktu, proses pengamanan negara terhadap ancaman ideologi transnasional akan selalu berbeda, karena dipengaruhi oleh variasi serangan yang dilakukan oleh pelaku. Pengamanan ideologi transnasional di masa moden, harus meliputi dunia digital yang menjadi sumber kehidupan manusia masa kini.

Perang narasi dalam dunia digital harus dimenangkan, untuk menumbangkan ideologi transnasional yang berusaha menggantikan Pancasila. Selain itu, perjuangan melawan ideologi transnasional merupakan estafet perjuangan yang telah dilakukan oleh para ulama masa lalu. Oleh karena itu, perjuangan melawan ideologi transnasional harus terus dikumandangkan di sepanjang zaman.

“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar”. Ungkapan tersebut menjadi satu semangat para santri untuk menggelorakan resolusi jihad abadi mempertahankan nasionalisme bangsa. Dimulai dengan meyakinkan diri sendiri bahwa nasionalisme dan menjaga seluruh elemen bangsa adalah hal yang penting. Kemudian meyakinkan banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Itulah esensi resolusi jihad yang harus diteruskan oleh para santri.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru