30 C
Jakarta

Muslihat Para Tokoh HTI dalam Mengkampanyekan Khilafah

Artikel Trending

Milenial IslamMuslihat Para Tokoh HTI dalam Mengkampanyekan Khilafah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ketika para tokoh Khilafatul Muslimin ditangkap gara-gara konvoi mewartakan khilafah, banyak orang mempertanyakan balik, kenapa para tokoh HTI masih juga belum ditangkap? Padahal sama-sama kampanye tentang khilafah? Apakah khilafahnya HTI beda dengan khilafahnya Khilafatul Muslimin?

Kita tahu, tokoh-tokoh HTI ketika melihat aksi polisi menangkap Khilafatul Muslimin mereka tidak terima. Mereka memberikan kritik dan kajian mengenai apa itu khilafah dan lain-lainnya. Bahkan para petinggi HTI membuat judul yang bombastis: “Menyorot Para Pembenci Khilafah”.

Klaim Pembenci Khilafah

Mereka mengatakan, bahwa orang-orang yang bereaksi menolak, membuat narasi, dan menahannya adalah orang yang membenci khilafah. Mereka dianggap membenci suatu sistem Allah yang benar-benar ada di zaman Nabi. Mereka mengklaim khilafah adalah sistem yang memang diperintahkan Allah untuk ditegakkan.

Klaim di atas sebenarnya tidaklah baru bahkan bisa dibilang jemu. Karena dengan klaim itu, meraka seolah ingin bermain dua isu. Pertama, bahwa khilafah adalah perintah Allah, dan kalau perintah wajib ditegakkan, kalau tidak ditegakkan adalah tidak taat menjadi muslim. Kedua, jika ada yang menolak memperjuangkan sistem khilafah, dianggap sebagai orang yang pembeci aturan-aturan Tuhan. Inilah yang sering didengungkan oleh tokoh HTI.

Muslihat itu terus dimainkan dengan tujuan-tujuan tertentu. Yang kentara terlihat hari ini, adalah mereka ingin menutupi dirinya, bahwa gerakan mereka sebenarnya adalah gerakan politik, yang memang didesain untuk mengacaukan isu-isu sentral di Asia. HTI ingin menutupi bahwa yang mereka usung adalah memperjuangan sistem transnasional khilafah.

HTI ingin menjadikan Islam sebagai referensi dalam ruang publik secara kaffah. Mereka ingin mengimplementasikan syariah (hukum Islam) dan mendirikan Khilafah. Mereka tidak mau tahu dengan agama/suku/etnis lain yang memperjuangkan Indonesia berdiri. Yang penting bagi mereka Khilafah menjadi sistem yang tegak di Indonesia ini. Maka itu, HTI disebut-sebut sebagai organisasi revivalis yang memainkan politik pan-Islamis.

BACA JUGA  Menuju Idul Fitri; Menggapai Kemenangan Melawan Radikalisme dan Terorisme

Tujuan Para Petinggi Khilafah

Sejak Taqiyuddin Al-Nabhani pada tahun 1953 di Al-Quds, Palestina mendirikan Hizbut Tahrir, tujuan utamanya adalah mengembalikan kaum muslimin untuk kembali taat kepada hukum-hukum Allah SWT yakni hukum Islam. Di antaranya, mereka ingin memperbaiki sistem perundangan dan hukum negara yang dinilai tidak Islami agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam, serta membebaskan dari sistem hidup dan pengaruh negara Barat. Dan semuanya harus diganti dengan sistem syariah. Gerakan ini, kemudian berkembang dan berlaku di hampir semua negara, seperti Palestina, Turki, hingga di Indonesia. Di Indonesia, HTI masuk pada pada tahun 1980-an, dikenal dengan nama Hizbut Tahrir Indonesia. Namun akhirnya dibubarkan.

Meski dibubarkan, mereka tetap eksis dan bermain muslihat. Mereka tetap melakukan kajian, propaganda, dan perekrutan lewat berbagai macam cara. Para tokoh eks HTI mencoba membentuk sayap kanan guna merekrut dan menyebarkan pemahaman keagamaan versi HTI ke masyarakat luas. HTI juga masih melakukan gerakan penyebaran ideologi khilafah melalui dakwah dengan berkedok agama dengan sasaran pelajar dan mahasiswa. Oreintasi mereka hanya satu: proyek khilafah tetap jalan.

Ini jelas tak sama dengan Khilafatul Muslimin. Mereka berkonvoi saja, para petingginya sudah ditanggap. Tapi para petinggi HTI, meski terus menerus menarasikan Khilafah di sosial medianya, dan di beberapa forum, mereka sampai hari ini masih aman-aman saja. Hal inilah yang sebenarnya mengancam masyarakat dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Para petinggi HTI bermain muslihat dalam mengampanyekan khilafah. Dengan pura-pura membuat kajian tentang khilafah, dll. Terakhir, mereka mengklaim bahwa orang yang menghlanginya adalah orang yang membenci khilafah. Oleh sebab itu, kita sebaiknya berhati-hati atas narasi ini. Minimal bisa mengkounternya.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru