30.3 C
Jakarta

Musim Semi Terorisme, Perempuan Pion Teror?

Artikel Trending

EditorialMusim Semi Terorisme, Perempuan Pion Teror?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Tersisa dua bulan lagi kita akan meninggalkan tahun 2022. Harapannya, kejadian-kejadian yang lalu tak terjadi tahun ini, dan yang terjadi hari ini tak terulang tahun depan. Mulai dari chaos, ujaran kebencian, hoaks, hingga aksi teror, tahun mendatang dicitakan menjadi era paceklik dari semua malapetaka tersebut. Sudah saatnya bangsa ini berpikir tentang sains ke depan, tidak larut stagnan sebab masalah-masalah yang tak kunjung usai; radikalisme-terorisme.

Kompleksitas terorisme terletak pada dua elemen. Pertama, subjeknya. Para pelaku tindakan radikal seringkali bukan orang sembarangan, melainkan orang yang berpengaruh di mata publik (public sphere). Artinya, ekstremisme sering sekali dilakukan oleh para ustaz/dai dan mereka yang ucap-sikapnya dianut publik. Akibatnya, yang dangkal ilmu mudah terpengaruh, dan yang fanatis semakin gila diri. Kedua, objeknya. Objek radikalisasi seringkali mereka yang ilmu keagamaannya rendah.

Baik kedangkalan pengetahuan tersebut disebabkan karena terlambat mendalami ilmu agama, atau memang karena keterbatasan usia, seperti anak kecil misalnya. Yang terakhir ini jauh lebih berbahaya, lantaran memori mereka masih jernih dan mudah didoktrin. Apa yang ditanamkan ke otak mereka akan diingat hingga dewasa. Nahasnya, hari ini yang menjadi sasaran tembak adalah perempuan. Musim semi terorisme menjadikan perempuan sebagai pion teror.

Kemarin lusa, hampir terjadi peristiwa nahas kepada Presiden Jokowi, ketika seorang perempuan menerobos Istana Merdeka sambil bawa pistol. Untungnya petugas berhasil menghadangnya, dan Presiden tidak mengalami hal buruk seperti yang dialami Wiranto pada 2019 silam. Namun demikian, sinyal-sinyal hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan dari pergerakan terorisme. Alih-alih habis, ternyata terorisme semakin bersemi. Ini benar mengkawatirkan.

Sinyal-sinyal musim semi terorisme ini bersamaan dengan semakin dekatnya Pemilu. Karenanya, waspada menjelang Pilpres merupakan hal yang niscaya. Masyarakat tidak boleh terpolarisasi, apalagi sampai mencederai kebhinekaan dan meretakkan kesatuan dan persatuan bangsa. Para teroris tengah menyebarkan ketakutan, menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka ada di mana-mana dan siapa pun bisa jadi korban.

BACA JUGA  Fatih Karim dan Masa Depan Lapas di Tengah Doktrinisme HTI

Faktor utama paham radikal-terorisme di negara ini ialah doktrin eksklusivisme, yakni ketertutupan dan mudah menyalahkan semua yang berbeda. Kejadian di Istana Merdeka kemarin cukup menjadi kado menjalang akhir tahun, untuk merefleksikan betapa terorisme amat dekat dengan kita. Kita tidak pernah tahu, di mana ia akan menyebar. Tidak pernah tahu, kapan kejadian nahas bernama teror akan menimpa kita. Di masa bersemi, ia menjadi tidak terkontrol.

Langkah reaktif petugas saat di lokasi mesti kita apresiasi. Tetapi untuk mengatakannya berhasil menangkal terorisme, PR-nya masih terlalu besar. Atas semua ini, kita perlu mengkritik pemerintah, terutama para menteri Kabinet Kerja II Jokowi-Ma’ruf, sejauh apa kinerjanya dalam memberantas terorisme? Jelas ini bukan pertanyaan yang menegasikan keberhasilan kontra-terorisme, melainkan mencari celah lalu mencarikannya solusi untuk melawan kebangkita atau musim semi terorisme.

Untuk itu, dedoktrinasi bisa menjadi solusi untuk mencegah aksi-aksi teror serupa kemarin. Terutama sejak masa pendidikan, perempuan yang sering kali dinomorduakan secara sosial harus menjadi perhatian khusus agar tidak menjadi agen teror di masa depan. Mencekoki mereka ajaran misoginis, tanpa membuka ruang diskusi, adalah menjerumuskan mereka ke dalam lubang terorisme. Intinya, perempuan tidak boleh sampai menjadi pion aksi terorisme. Harus dicegah dan dilawan.

Mungkin tanda musim semi terorisme ini masih tergolong sedikit. Meskipun demikian, mengabaikannya merupakan sesuatu yang terlarang. Jangan sampai masyarakat dan pemerintah tak menyadari ancaman yang ada di depannya, hingga tiba kekuatan teror mencapai puncak dan kontra-terorisme baru mau dilakukan. Untuk melawan terorisme, bangsa ini harus satu langkah lebih maju dari pikiran teroris. Hari ini, terorisme menyasar perempuan. Maka, harus segera ada tindakan taktis untuk semua itu.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru