Motivasi dari Sosok Profesor


0
12 shares
Foto: Pixabay

Dua samudera ilmu, adalah Prof. Nashruddin Baidan Guru Besar Ilmu Tafsir dan Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar M.A. Guru Besar Pendidikan Islam. Keduanya Guru Besar di IAIN Surakarta.

Perjumpaan penulis dengan dua Profesor ini pada beberapa kesempatan. Baik saat bersama sama menghadiri seminar maupun dalam kesempatan wawancara.

Dari kesempatan itu, penulis memiliki catatan-catatan yang sayang kalau dilewatkan. Kedalaman dan kematangan ilmu para ahli ini, hingga membuahkan teladan yang mulia layak dipublikasikan dengan harapan menginspirasi banyak orang.

Prof. Nashruddin Baidan, Profesor yang Produktif 

Prof. Nashruddin Baidan tidak asing ditelinga para pecinta buku. Banyak kalangan baik akademisi maupun masyarakat merujuk tulisannya.

Satu hal menonjol yang penting diteladani dari sosok Prof. Nashruddin Baidan adalah produktifitasnya dalam menulis. Banyak karya yang ia hasilkan baik dalam bentuk artikel jurnal, artikel media maupun dalam bentuk buku. Tema-tema yang beliau angkat beragam, mulai dari pendidikan, kemanusiaan maupun agama.

Karya beliau didominasi tema kajian Ilmu Al Qur’an dan Tafsir. Hal ini tidak lepas dari kapasitasnya sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir. Tafsir Kontemporer Surah Al Fatihah, Perkembangan Tafsir Al Qur’an di Indonesia, Tafsir Maudhu’i, Wawasan Baru Ilmu Al Qur’an dan Metodologi Tafsir Al Qur’an adalah beberapa karya monumental beliau.

Dengan kapasitasnya sebagai Guru Besar dan banyak karya, tidak lantas membuat pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Surakarta ini besar kepala. Bak padi yang semakin berisi semakin menunduk, ia selalu bersikap sederhana.

Diberbagai kesempatan, penulis sering menyaksikan beliau duduk bersama para peserta saat menghadiri sebuah acara yang dihadiri para dosen muda dan mahasiswa, bahkan tampak antusias mendengarkan ketika yuniornya memaparkan materi dalam acara seminar atau workshop.

Baca Juga:  Demo Makar Selesai Sholat Jumat

Keterlibatannya dalam mengawal kemajuan akademik tidak pernah luntur. Tak lupa ia selalu memberikan masukan dalam banyak kegiatan yang diikuti. Misalnya kehadirannya dalam sebuah workshop “Pengembangan Kurikulum dan Silabus Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di PTKIN-PTKIS”, Senin (18/12/2017). Serta pada sebuah acara yang diadakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) yakni sosialisasi pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di rektorat IAIN Surakarta, Kamis (18/1/2018). 

Kiprahnya tidak hanya dalam dunia akademik, Prof. Nashir kerap mengisi ceramah keagamaan di tengah masyarakat. Misalnya beliau menjadi penceramah di Masjid Agung Surakarta dan tempat tempat lain di Jawa Tengah. 

Prof. Usman Sosok Pejuang Dibalik Layar 

Profesor yang sangat menginspirasi berikutnya adalah Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar M.A. Guru Besar Pendidikan Islam. Pria yang akrab disapa Prof. Usman ini merupakan sosok pejuang dibalik layar. Ia merupakan “sutradara” berbagai capaian besar IAIN Surakarta hingga menjadi eksis berkembang seperti yang sekarang kita saksikan bersama.

Luasnya jaringan dan kepandaian dalam lobi akademik untuk menjalin kerja sama berkontribusi bagi kemajuan pendidikan, khususnya di IAIN Surakarta. Capaian terbaru, beliau berperan besar dalam merintis program Pascasarjana S3 yang segera di-launching pertengahan 2018 mendatang.

Dalam sebuah kesempatan, pria kelahiran Palembang yang pernah menjabat sebagai Ketua STAIN (Sekarang IAIN) Surakarta ini berucap, “Semua perjuangan harus berdasarkan pengabdian”, terangnya saat penulis mewawancarainya pada Selasa (09/01/2018) di ruang kerjanya Pascasarjana IAIN Surakarta.

Berbagai terobosan dan inovatifnya memimpin kala itu, telah mengantarkannya mendapatkan penghargaan Menteri Agama RI pada HAB Kemenag sebagai Ketua STAIN Terkreatif dan Inovatif.

Selain organisator yang ulung, kapasitasnya sebagai akademisi tidak diragukan lagi. Hal ini terbukti dari keberhasilan pria yang pernah mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Pengabdian 25 tahun dari Presiden RI, pada titik jabatan akademik tertinggi yakni sebagai Guru Besar.

Baca Juga:  Perang Pemikiran di Era Medsos

Masih dalam wawancara, Prof. Usman tak lupa memberikan nasehat dan motivasi agar terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. “Jangan mengejar jabatan karena ruh Perguruan Tunggi adalah para Doktor dan Profesor”, demikian pesan Prof. Usman yang menamatkan S3 di IAIN (sekarang UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta.

Inilah setetes dari samudera keteladanan dua diantara banyak profesor yang ada di Indonesia. Semoga menjadi jembatan kecil antara akademisi dengan masyarakat yang selama ini dipersepsikan memiliki jarak. Tidak lagi berdiri bak menara gading, tetapi hadir ditengah seluruh lapisan masyarakat. 

Winarto, S.ThI., M.S.I., Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta


Like it? Share with your friends!

0
12 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.