26.5 C
Jakarta

Minggat Total dari Tetek Bengek Ekstremisme

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuMinggat Total dari Tetek Bengek Ekstremisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul Buku: Berislam Secara Kaffah, Penulis: Sarjoko S., Penerbit: IRCiSD, Kota Terbit: Yogyakarta, Tahun Terbit: 2022, ISBN: 978-623-5348-38-4, Halaman: 178, Peresensi: Bagis Syarof.

Harakatuna.com – Negara beragama seperti Indonesia yang sudah mempunyai ideologi yang final, bukan tidak mungkin di dalamnya terdapat ancaman isme-isme (baca; paham) yang berbahaya dan dapat menggoyahkan keutuhan berbangsa, dan bernegara. Isme tersebut tumbuh dari kalangan kita sendiri, yang terpengaruh paham dari luar negeri yang tentunya dapat mengoyahkan keutuhan dalam negeri, salah satunya adalah ekstremisme.

Buku ini berisi esai-esai yang akan mengubah cara berpikir kita, tentang agama Islam. Islam kita sekarang oleh sebagian orang dikenal sebagai agama yang mengandung ekstremisme yang dapat membayakan keselamatan manusia. Buku ini mengarahkan pembaca, dan memberi fakta-fakta, bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin (kedamaian bagi seluruh alam).

Penulis menjelaskan dalam esainya yang berjudul “Terorisme dan Islamophobia,” bahwa, sudah terjadi fakta-fakta yang membuat agama Islam menjadi agama yang ‘dijudge’ sebagai agama ekstremis. Pada tahun 2002 terjadi bom di Bali, dilakukan oleh orang yang beragama Islam terjadi pengeboman gereja, penyerangan tempat polisi, dan lain-lain. Hal-hal tersebut membuat nama Islam tercoreng, dari agama yang membawa perdamaian, menjadi agama yang penuh dengan kekerasan, kebencian, pembunuhan dan lain-lain.

Penulis, adalah orang yang berlatar belakang pesantren. Tentunya Islam di pesantren tidak ada ajaran Islam untuk berbuat ekstrem. Penulis menceritakan, bahwa beliau diajarkan untuk bijaksana dalam menghadapi gempuran isme yang membuat Islam tercoreng. Contohnya, amar ma’ruf, nahi mungkar (mendorong kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran).

Hal tersebut dijadikan sebagai dalil untuk melakukan hal-hal ekstremis. Memberantas kemungkaran, mereka artikan hal mutlak, serta dijadikan pembenaran untuk melakukan persekusi, pelarangan pendirian tempat ibadah bagi non muslim, dan lain-lain.

Menurut ajaran pesantren, “mencegah kemungkaran” tidak bisa dijadikan dalih untuk berbuat hal-hal yang dapat membahayakan orang lain, pengeboman, pembunuhan, ujaran kebencian, dan lainnya. Tidak ada kebenaran bagi orang yang ingin memberantas kemungkaran, tapi berbuat mungkar. Masih banyak cara-cara lain, dalam mencegah kemungkaran, tanpa harus dengan ekstremis, teror, persekusi, dan lain-lain.

Ciri-ciri Salah, Islam Radikal

Seperti kita tahu, ada beberapa orang yang menganggap orang yang bercelana cingkrang, adalah orang yang berpaham radikal, cara berpikirnya—pendek—tidak mau menerima pendapat orang dan ektremis. Penulis dalam bukunya menyuguhkan beberapa fakta, bahwa tidak semua orang bercelana cingkrang, bersumbu pendek. Dalam pengalamannya kuliah di Yogyakarta, beliau bertemu dengan orang yang sering menggunakan celana cingkrang akan tetapi kelakuannya sangat ramah, berbaur dengan masyarakat dan tentunya tidak ‘bersumbu pendek’.

Pakaian yang kearab-araban, membuat sebagian orang terkadang berpikir, bahwa berpakaian kearab-araban, mereka yang cara berpikirnya radikal, keras kepala, dan tidak mau nerima opini dari orang lain. Sebuah anggapan bahwa orang dengan gaya pakaian seperti tersebut, berpikirnya pendek, akan menjauhkan sekat antara kita dan mereka.

Orang dengan ciri-ciri pakaian di atas, seharusnya tidak kita judge akan tetapi, kita ajak untuk duduk bersama. Tentu tujuan utamanya, untuk  silaturahmi sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, dan juga untuk mengetahui cara berpikir mereka yang sebenarnya.

Buku ini, adalah sebuah jalan dalam kita beragama, agar juga berpikir, berakhlak, dan berbudaya. Kita beragama tanpa harus meninggalkan logika, sopan santun sebagaimana sudah diajarkan oleh leluhur kita semua dan juga berbudaya, tidak meninggalkan nilai-nilai budaya lokal yang seharusnya dilestarikan, bukan ditinggalkan.

Dari dulu, leluhur kita, masyarakat Indonesia, sudah biasa hidup berdampingan. Mereka berbeda agama, tapi mereka tidak saling membenci, mereka saling menghargai, mereka hidup rukun, tanpa memandang agama apa pun.

Lalu kenapa orang yang peradabannya lebih maju seperti kita hari ini, saling membenci antaragama?

Ekstremisme, terorisme, dan radikalisme, bisa datang dari mana saja. Tidak memandang usia. Untuk mencegah semua itu, maka penting agama Islam untuk lebih bijak dalam menaggapi sebuah ajaran. Setiap ajaran yang mengandung hal berbau ekstremis, seperti ajakan untuk membunuh, persekusi, membenci umat agama, secara mutlak adalah salah, dan tidak patut diikuti.

Penulis dalam buku ini memberikan sebuah solusi, agar orang yang menyebarkan, atau orang diduga menyebarkan paham ektremis, tidak harus di-judge juga sebagai orang yang tidak benar, karena hal tersebut akan memperpanjang rantai kebencian antarumat yang membelenggu.

Hendaknya kita membangun dialog bagi siapa pun termasuk orang yang dianggap ekstremis, orang pakaiannya kearab-araban yang juga dianggap ektremis. Karena dengan adanya dialog kita akan bisa lebih menyatukan pemikiran untuk sama-sama membangun Indonesia yang damai, tanpa kebencian, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme.

Bagis Syarof
Bagis Syarof
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru