Milenial sebagai Agen Deradikalisasi

Kantong-kantong interaksi dalam media sosial mesti dimanfaatkan untuk melakukan upaya deradikalisasi.


Sejarah perekrutan jihadis-teroris di Indonesia memang masih menggunakan cara offline, bertatap muka melalui pengajian-pengajian, namun bukan berarti mengabaikan potensi media sosial. Media sosial oleh kelompok terorisme dijadikan lahan basah persebaran ideologi radikalisme. Hal ini agaknya efektif, mengingat animo masyarakat yang cukup tinggi dalam penggunaan media sosial.

Hal ini disampaikan Salahudin, selaku pengamat Terorisme dari Universitas Indonesia (UI) dalam sebuah forum diskusi. Menurutnya, alasan rekruitmen secara tatap muka, karena kelompok radikalisme-terorisme melihat media sosial sebagai media yang mudah dimanipulasi; akun dengan foto profil perempuan bisa jadi laki-laki, karenanya cukup riskan jika diadakan rekruitmen online. Berbeda dengan ekstrimis luar negeri yang sudah melakukan rekruitmen online (merdeka.com/2018)

Data tersebut setidaknya bisa kita jadikan acuan untuk berjuang melawan terorisme, dengan cara menutup pintu awalnya, yakni radikalisme, yang dijajakan lewat media sosial. Karena, mustahil seseorang gabung dengan gerakan terorisme tanpa terlebih dulu mengalami radikalisasi paham radikalisme dalam batok kepalanya, misal, setelah melihat video atau membaca tulisan pembantaian umat Islam di belahan dunia lain, yang didapat dari media sosial. Tentu, rasa persaudaraan seiman kerap membuat seseorang tergerak untuk berjihad melawan musuh-musuh Islam.

Hal ini juga pernah disinggung Wahid Institute, berkaitan dengan fenomena yang terjadi dalam organisasi keagamaan di SMA, Rohis. Yenny Wahid selaku Direktur Wahid Institute mengatakan, ada sekitar 58 persen rohis di sekolah ingin jihad ke Suriah. Responden yang diwawancarai bukanlah siswa biasa, melainkan mereka yang tergolong siswa berprestasi di sekolahnya. (merdeka.com/2018)

Survei tersebut dilakukan dua tahun sebelumnya, yang agaknya hingga kini masih sangat relevan. Pasalnya, usia-usia remaja, katakanlah generasi milenial (lahir 1980-an sampai 1990-an), terlebih yang tidak memiliki tradisi literasi yang baik, amat mudah terpengaruh konten radikalisme di media sosial. Apalagi konten-konten tersebut menjual kepedihan umat Islam, sehingga milenial-netizen merasa simpati dan perlahan terkonsep dalam benak, bahwa para penindas muslim tersebut wajib dibinasakan. Maka wajar belaka jika sampai ada temuan beberapa anggota rohis yang berambisi jihad ke Suriah, di mana umat Islam di situ menderita.

Baca Juga:  Santri Meneguhkan Keindonesiaan

Agaknya, Kemkominfo telah melakukan tugasnya dengan maksimal, dengan menyisir jagad online dari konten-konten radikalisme. Terlebih paska kejadian bom Surabaya, dikabarkan Kemkominfo melakukan penyisiran selama 2 jam sekali, dan bisa ditingkatkan sewaktu-waktu menjadi 1 jam sekali. Mereka melakukan penyisiran dengan mesin sensor, begitu mendeteksi situs bermuatan radikalisme, langsung memblokir situs tersebut. Hanya saja, kelemahan sistem ini adalah, tidak bisa diaplikasikan dalam berbagai platform media sosial semacam facebook, twitter, dll. Penanganan radikalisme di media sosial, dengan begitu, bergantung pada partisipasi masyarakat.(merdeka.com/2018) Di sinilah, pentingnya kehadiran milenial-netizen yang berwawasan kebangsaan, untuk berpartisipasi dalam upaya pembersihan konten radikalisme dari media sosial.

Lawan potensi terorisme

Radikalisme adalah pintu masuk dari gerakan terorisme, inilah yang mesti kita pahami kini. Benar bahwa rekruitmen teroris masih manual, tatap muka, tapi persebaran ideologi mereka dilakukan secara online. Generasi mileniallah yang rawan menjadi korban, mengingat karakteristiknya yang enggan jauh dari gawai, dengan begitu juga media sosial.

Maka dari itu, upaya literasi di media sosial mutlak perlu dilakukan. Bahwa kantong-kantong interaksi dalam media sosial mesti dimanfaatkan untuk melakukan upaya deradikalisasi. Misalnya, rutin menyebar konten-konten positif, baik di postingan maupun status pribadi, yang mengarah pada persatuan bangsa dan manusia secara umum. Nilai-nilai tersebut akan banyak kita temukan dalam laku hidup para pendiri bangsa; bagi umat Islam, sosok Nabi Muhammad Saw. adalah teladan paling sempurna yang mengajarkan hidup rukun-tentram-damai, sekalipun berdampingan dengan orang yang berbeda-beda latar belakangnya.

Proses internalisasi nilai pedamaian, dari sebatas pengetahuan lalu menguat menjadi prinsip hidup, kemudian memancar sebagai laku hidup, butuh proses yang panjang. Karena itu, segenap relawan milenial mesti memahami makna perjuangan melawan radikalisme; bahwa tidak ada kata akhir dalam perjuangan, selain mulut telah disumpal dengan tanah. Milenial bukan pemadam kebakaran yang bereaksi setelah kebakaran terjadi, melainkan petani yang selalu merawat bibit tanaman hingga dewasa, tanpa lelah. Merawat benih damai-bersaudara, hingga tumbuh menjadi pohon rindang bernama: Indonesia.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Imron Mustofa

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis lepas asal Kebumen, yang untuk sementara waktu berdomisili di Jogja.