31.9 C
Jakarta

Mewaspadai Transformasi Peran Perempuan dalam Gerakan Terorisme

Artikel Trending

KhazanahPerempuanMewaspadai Transformasi Peran Perempuan dalam Gerakan Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Pada Selasa (25/10/2022) lalu, publik dikejutkan oleh peristiwa percobaan aksi teror yang dilakukan seorang perempuan. Tidak tanggung-tanggung, target aksi teror kali ini ialah Istana Negara. Tempat pemimpin tertinggi negara ini tinggal dan berkantor sehari-harinya. Beruntungnya, Polisi yang saat itu bertugas sigap menangkap pelaku dan menyita sepucuk senjata FN dari tangan perempuan tersebut.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada kasus penodongan senjata oleh perempuan di Mabes Polri pada Maret 2021. Peristiwa ini sekaligus menambah panjang daftar aksi teror yang dilakukan oleh perempuan. Data Badan Nasional Penanggulagan Terorisme (BNPT) menyebut bahwa fenomena terorisme yang dilakukan perempuan menunjukkan kecenderungan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam catatan BNPT, selama 10 tahun terakhir terjadi tidak kurang dari 19 aksi terorisme yang melibatkan perempuan. Ironisnya lagi, mereka yang terlibat umumnya masih berusia muda (dibawah 40 tahun). Mayoritas dari mereka merupakan “korban” dari propaganda radikalisme di media sosial. Selain itu, ada semacam transformasi peran perempuan dalam gerakan terorisme belakangan ini.

Sebelum tahun 2016 peran perempuan dalam gerakan terorisme umumnya masih terbatas pada pendukung di balik layar. Mulai dari menjadi penghubung alias kurir antar-teroris, menyediakan senjata dan alat teror, sampai menjadi perekrut calon pelaku teror. Namun, belakangan peran itu mengalami semacam transformasi. Seperti kita lihat belakangan ini, perempuan tidak lagi berperan di balik layar, namun sudah menjadi aktor lapangan aksi teror.

Bahkan, tidak jarang perempuan melakukan aksi teror tunggal (lone wolf terror) yang merencanakan aksi, memilih target dan mengeksekusinya sendirian. Aksi teror di Mabes Polri tahun lalu dan percobaan teror di Istana Negara tempo hari adalah dua contoh bagaimana perempuan menjadi aktor tunggal terorisme.

Mengapa Perempuan Terlibat Jaringan Terorisme?

Tentu ada banyak faktor mengapa perempuan terlibat gerakan terorisme. Dari lingkup yang paling kecil, keterlibatan perempuan pada gerakan terorisme umumnya dilatari oleh rendahnya pemahaman keagamaan. Infiltrasi ideologi radikal yang masif terutama di media sosial menjadi salah satu penyumbang andil maraknya perempuan terlibat gerakan ekstrem-terorisme. Pelaku teror di Mabes Polri misalnya merupakan simpatisan ISIS yang terpengaruh paham radikal dari konten-konten yang diakses dari media sosial.

Sedangkan dari lingkup yang lebih luas, isu sosial-politik seperti ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan politik juga menjadi salah satu penyebab mengapa perempuan terjun ke dalam gerakan terorisme. Isu ketimpangan sosial dan ketidakadilan politik inilah yang kerap dijadikan sebagai bahan propaganda kaum radikal untuk mencari simpatisan baru.

Para penyebar ideologi radikal selalu mengembuskan isu bahwa umat Islam saat ini berada di bawah penindasan dan ketidakadilan. Dan, pangkal ketidakadilan itu adalah kebijakan pemerintah yang dicap Islamofobia. Maka, sasaran utama kelompok teror hari ini lebih mengarah pada pemerintah dan aparaturnya.

BACA JUGA  Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Menampilkan Wajah Islam yang Rahmah dan Maslahah

Transformasi peran perempuan dalam gerakan terorisme ini tentu patut diwaspadai. Di dalam Islam, perempuan atau ibu kerap dipersepsikan sebagai al madrasah al ula alias sekolah pertama bagi anak-anaknya. Perempuan ialah pilar penting bangsa dan negara lantaran mereka lah yang melahirkan dan memegang peranan penting dalam pengasuhan anak. Bagaimana jadinya jika mereka justru terlibat gerakan teror?

Kondisi ini menuntut respons sigap seluruh elemen bangsa. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan idealnya memiliki kebijakan khusus untuk membentengi masyarakat terutama perempuan dari infiltrasi gerakan ekstremisme berbaju agama. Perlu ada aturan khusus yang melarang penyebaran ideologi selain Pancasila.

Pentingnya Pemberdayaan Perempuan

Di saat yang sama, penting kiranya pemerintah menguatkan kebijakan pemberdayaan pada perempuan. Selama ini, keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi terutama pada perempuan dari kalangan menengah ke bawah telah menyebabkan banyak perempuan terpikat masuk ke dalam organisasi radikal-teroris. Keterbelakangan dan kemiskinan bagaimana pun masih menjadi salah satu akar suburnya terorisme.

Pemberdayaan perempuan, baik dari sisi pendidikan dan kesejahteraan ekonomi kiranya akan mencegah para perempuan masuk ke dalam gerakan terorisme. Perempuan yang memiliki kemandirian intelektual dan finansial niscaya tidak akan mudah terbujuk oleh propaganda radikalisme yang mengumbar janji utopis tentang surga.

Selain itu, penguatan pemahaman nasionalisme di kalangan perempuan juga harus terus-menerus digalakkan. Harus ada upaya serius membangun kesadaran kebangsaan di kalangan perempuan dengan jalan melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan strategis. Partisipasi perempuan dalam penyusunan kebijakan ini kiranya akan menghindarkan perempuan dari perasaan inferior atau rendah diri. Jika kepentingan peremuan diakomodasi dalam kebijakan negara, kecil kemungkinan mereka akan mencari aktualisasi diri di kelompok teroris.

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya adalah memaksimalkan agenda moderasi beragama di kalangan perempuan. Produksi wacana keagamaan terutama Islam selama ini masih banyak didominasi oleh laki-laki. Kiai, ulama, ustad, dan tokoh agama umumnya dipegang oleh sosok laki-laki. Hal ini menyebabkan pandangan keagamaan kita acapkali mengalami bias gender. Alhasil, posisi perempuan di ranah keagamaan kerapkali hanya di pandang sebelah mata.

Ke depan, perlu ada upaya nyata untuk mendorong perempuan menempati posisi strategis di ranah keagamaan. Misalnya menempati jabatan strategis di organisasi-organisasi keagamaan berhaluan moderat seperti NU atau Muhammadiyah. Hal ini penting agar agenda moderasi beragama bisa menyentuh semua kelompok masyarakat, termasuk perempuan.

Desi Ratriyanti
Desi Ratriyanti
Lulusan FISIP Universitas Diponegoro, bergiat di Indonesia Muslim Youth Forum.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru