25.1 C
Jakarta

Mewaspadai Provokasi Radikal di Tengah Demo Penolakan Harga BBM

Artikel Trending

Milenial IslamMewaspadai Provokasi Radikal di Tengah Demo Penolakan Harga BBM
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi mendapat penolakan keras dari sebagian besar bangsa Indonesia. Karena hal tersebut tidak sejalan dengan cita-cita negara Indonesia yang mengharapkan kesusaian dan kesejahteraan bangsanya.

BBM Naik, IKN Jalan Terus

Harga BBM naik karena salah sasaran dari pengelola. Harga BBM dinaikkan untuk menutupi beban negara. Tapi nahasnya, di tengah inflasi demikian, kenapa proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) masih harus terus dilanjutkan? BBM adalah barang pokok harian yang terus dikonsumsi oleh masyarakat. Sementara IKN bukan sekadar tidak pokok, malah bangunan itu tidak ada manfaatnya bagi bangsa Indonesia di tengah situasi kondisi terpuruk macam ini.

Tapi keluh kesah itu siapa yang akan mendengarkan? Negara? Tidak ada. Bahkan para politisi ada yang walk out menolak kenaikan BBM karena harganya tidak terjangkau dan menyengsarakan rakyat.

Kita tahu, kenaikan BBM adalah pintu masuk bagi naiknya harga barang lainnya. Realitas demikian kita rasakan sejak masak Soeharto hingga masa Jokowi ini. kita pasti sering mendengar keluh dari ibu-ibu di kampung: “sejak BBM naik, telor, minyak, beras, dan barang-barang lainnya pada naik”. Suara ibu itu seperti bergetar dari dalam, merasakan dalam ketidaksanggupan menghadapi ini. Tapi mau gimana lagi!

Lewat panggung politik pun, kenaikan BBM masih belum dibatalkan. Dan malah BBM seperti Vivo juga dinaikkan. Naiknya harga BBM tidak sebanding dengan panghasilan rakyat dan UMR di beberapa provinsi dan kota di Indonesia. Oleh karena itu, naiknya harga BMM, ini menjadi tidak adil dan bahkan menjadikan rakyat menderita.

Demo dalam Kerentanan Provokasi

Hari ini banyak masyarakat menolak dengan cara-cara yang mereka bisa. Turun ke jalan salah satunya. Ini patut diapresiasi selagi demo mengajukan tuntutan dan tidak membuat onar atau tindakan yang kebablasan. Namun nyatanya tidak, terdengar demo mahasiswa juga masih ditunggangi oleh oleh kelompok yang ingin menyudutkan pemerintah dan juga mengotori aksi tuntunan mahasiswa.

BACA JUGA  Idul Adha: Mengurbankan Egoisme dan Radikalisme Agama

Di Jakarta, empat orang demonstran berhasil diamankan aparat kepolisian saat melakukan aksi di depan Gedung DPR/MPR RI pada 29 Agustus lalu. Namun, keempat demonstran tersebut sudah dipulangkan setelah diperiksa dan dipastikan tidak melakukan pelanggaran atau tindak pidana.

Selain itu, penolakan juga terjadi di NTB, di mana sejumlah kader dan pengurus HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) menggelar aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM di depan kantor DPRD Kabupaten Dompu, NTB. Aksi unjuk rasa tersebut berakhir ricuh. Akibatnya, sejumlah aktivis HMI mengalami luka-luka dan terpaksa dibawa ke RSUD Dompu untuk m  endapatkan perawatan medis.Hal yang sama terjadi di Pagedangan, Tangerang Selatan.

Provokasi semacam itu memang pasti terjadi di dalam demo, karena selain jiwanya panas, udaranya panas dan merasakan dahaga, juga banyak misi-misi terselubung dari permasing-masing orang dan organisasi. Ingat kasus Ade Armando, di mana ia dikeroyok oleh kemarahan orang yang tidak bertanggungjawab. Disinyalir pengkeroyok Ade berlatang belakang dari organisasi radikal, yang selama ini memang menjadi pembenci negara.

Mewaspadai Hasutan Kelompok Radikal

Makanya, melihat aksi tuntutan atas kenaikan BBM juga perlu dilihat secara jelas. Karena banyak orang yang memiki misi terselubung di dalamnya. Sehingga aksi-aksi mahasiswa tidak tersampaikan. Aspirasi dan nilainya menjadi nol. Bahkan dari sini banyak masyarakat yang tidak suka serta dianggapnya aksi demo tidak ada gunanya. Tapi ikut senang, jika BBM ternyata dibatalkan naik.

Ingat, organisasi radikal biasanya juga sangat senang jika ada aksi-aksi demo mahasiswa. Karena baginya, aksi demikian menjadi arena yang pas untuk meluapkan semua emosinnya, bahkan dengan cara provokasi. Sayangnya, hanya bermanfaat untuk membangkitkan kemarahan, menghasut serta pancingan kerusuhan. Dan provokasi radikal sangat menimbulkan banyak kerugian.

Oleh sebab itu, mengetahui banyak orang-orang yang akan memanfaatkan aksi ini, kiranya mahasiswa dan masyarakat perlu waspada dan saling menjaga. Mahasiswa dan masyarakat harus saling mengontrol dan tidak ikut terhasut oleh provokasi kelompok radikal di tengah inflasi ini.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru