30.2 C
Jakarta

Mewaspadai Bahaya Dark Empath Kelompok Radikal-Terorisme

Artikel Trending

KhazanahOpiniMewaspadai Bahaya Dark Empath Kelompok Radikal-Terorisme
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Islam adalah agama yang sangat mengajarkan kepedulian dan saling memahami satu sama lain. Dalam Al-Qur’an sendiri dikisahkan, tentang bagaimana kaum Ansar dan Muhajirin saling memahami satu sama lain. Mereka saling membantu ketika dalam keadaan kesulitan, dan mereka membantu atas dasar keikhlasan. Kisah tersebut pun diabadikan dalam QS. Al-Hasyr ayat 9-10. Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin). Dan mereka (Ansar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Sikap saling memahami akan masalah orang lain pada umumnya kita sebut dengan empati. Menurut KBBI, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Mereka yang berempati adalah mereka yang dapat memahami perasaan orang lain dengan baik. Sikap berempati tentu adalah hal yang baik ketika dijalankan dengan penuh keikhlasan. 

Namun sayangnya, tidak jarang sikap empati ini justru digunakan ke arah yang tidak baik dengan tujuan untuk melakukan manipulasi. Atau juga, misalnya, digunakan untuk meraih kepentingan-kepentingan tertentu. Perilaku empatik yang diarahkan kepada jalan yang salah ini biasanya disebut dengan dark empath atau empati gelap.  

Agar kita terhindar dari bahaya dark empath, maka kita perlu mengetahui sebenarnya apa itu dark empath? Bagaimana cara kerja dark empath dalam memengaruhi korban untuk masuk ke dalam kelompok radikal-terorisme? 

Dark empath adalah kemampuan memahami perasaan dan pengalaman seseorang, tetapi digunakan untuk kepentingan yang tidak baik bahkan merugikan orang lain. Dilansir dari Well and Good, dark empath adalah master manipulator. Mereka akan terlihat baik dan berempati di awal perkenalan, namun memanfaatkan empati tinggi tersebut untuk kebutuhan dirinya atau kelompoknya. Perilaku dark empath pada umumnya bisa ditemukan di lingkungan mana pun. Baik dalam lingkungan pekerjaan, sekolah, maupun organisasi.

Kemampuan dark empath inilah yang tak jarang pula digunakan oleh kelompok radikal-terorisme. Cara kerja dark empath sendiri awal mulanya mereka akan berpura-pura dan seakan peduli dengan korban. Mereka yang ahli menggunakan dark empath ini biasanya mereka sangat sensitif secara emosional dan menggunakan kepekaannya untuk bersimpati dengan orang lain. 

BACA JUGA  Nasionalisme dari Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia yang Harus Diapresiasi

Dark empath hanya memiliki empati kognitif. Mereka secara intelektual dapat memahami perasaan orang lain, namun mereka kurang simpati atau kasih sayang untuk memperlakukan orang lain dengan baik.

Mereka yang menggunakan dark empath bertujuan untuk menarik rasa simpati dan mempermainkan psikologis korban. Dengan harapan korban akan merasa dan melihat bahwa orang/individu ataupun kelompok ini sangat baik. Dengan begitu korban akan bersedia menuruti dan masuk ke kelompok tersebut. Bahkan paling parahnya korban bisa sampai terbangun ikatan yang kuat dengan kelompok yang telah memanipulasinya.  

Setelah korban masuk ke dalam kelompok radikal-terorisme dan terkena manipulasi oleh kelompok tersebut dengan dark empath, tahap selanjutnya mereka akan mencari tahu bagaimana pemahaman korban tentang agama. Apakah korban paham betul tentang agamanya atau tidak?

Jika dalam prosesnya ditemukan bahwa korban tidak paham dan awam agama, mereka selanjutnya akan membuat korban mempertanyakan dirinya. Pertanyaan tersebut bisa berupa apa tujuan hidup si korban? Bagaimana pandangannya tentang jihad? Ketika korban tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, dan mulai meragukan dirinya ataupun agamanya selama ini, pada kondisi itulah korban dimanipulasi dengan diberikan jawaban-jawaban pemahaman radikal-terorisme. 

Kondisi korban yang sudah terjebak dengan dark empath, sekaligus ikatan hubungan yang dibangun sudah kuat dengan kelompok yang telah memanfaatkannya. Akhirnya, korban merasa yakin bahwa jawaban yang diberikan oleh kelompok radikal ini adalah sebuah jawaban yang benar. Pada tahap inilah akhirnya korban menjadi anggota kelompok radikal-terorisme dan yakin dengan ideologinya tersebut. 

Ketika korban dark empath sudah merasa yakin dengan pemahaman radikalnya yang salah itu, kelompok radikal sangat mudah untuk mengendalikannya. Mereka menjadikan korban ini sebagai alat untuk melakukan aksi teror yang mengancam kedaulatan negara. Misalnya, melakukan bom bunuh diri ataupun menyerang aparat negara.  

Ketika korban menjalankan aksi teror yang berbahaya, lalu tertangkap atau terbunuh, apakah kelompok radikal tersebut peduli dan sedih saat kehilangan korban? Tentu jawabannya tidak. Sebab korban hanyalah alat untuk memenuhi kepentingan kelompok radikal untuk mengancam eksistensi negara. Korban akan ditinggalkan jika kepentingan tersebut telah tercapai. 

Untuk itu, maka agar tidak tersesat oleh tipu daya kelompok ini, penting bagi kita untuk memperkaya wawasan agama Islam yang benar, juga selektif dalam menjalin hubungan. Dengan fondasi ilmu dan selektif menjalin hubungan, kita tidak akan pernah mudah dimanipulasi oleh dark empath kelompok radikal-terorisme.

Muhammad Farhan
Muhammad Farhan
Mahasiswa komunikasi penyiaran Islam yang hobi nulis dan menggeluti ilmu kepenulisan. Saat ini kegiatan sehari-hari menjadi penulis.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru