31.1 C
Jakarta

Meramal Kepunahan Buku, Bagaimana Masa Depan Dunia Literasi?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiMeramal Kepunahan Buku, Bagaimana Masa Depan Dunia Literasi?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dengan penuh kesadaran, catatan ini terlahir tidak di waktu yang tepat. Seharusnya catatan ini lahir bertepatan dengan Hari Buku Sedunia. Catatan ini juga lahir setelah saya membaca salah satu surat As Laksana kepada anaknya.

Sebuah surat yang dimulai dari ucapan terimakasih seorang ayah atas sebuah kado pada hari istimewanya. Berkali-kali ia juga meyakinkan bahwa sebetulnya tidak butuh kado itu, meski ia sendiri suka. Bagi Sulak, semua anak-anaknya tidak berhutang apapun pada dia, malah sebaliknya.

Di akhir surat, hal yang saya ingat-ingat tidak lain adalah ungkapan dia yang lugas. Buku memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita, tegas dia. Ditambah, menurutnya, buku membuat kita bertanya tentang apa saja yang belum kita pahami dan kita menginginkan jawabannya.

Saya sepenuhnya sepakat apa yang dikatakan oleh Sulak. Buku memberi titik terang sisi-sisi hidup yang gelap. Sementara kita tidak lebih dan tidak kurang seperti orang-orang dalam alegori gua Plato.

Pertanyaan, sejauh ini apakah buku masih relevan atau terdapat kemungkinan lain yang justru mengganjal superioritas buku-buku itu? Begini, saya uraikan sedikit. Beberapa bulan terakhir saya berpikir, bahwa tren video dan konten di media sosial dapat menggerogoti superioritas buku.

Saya mengimajinasikan, semua isi buku dikonversi ke dalam bentuk video dan konten di media sosial. Akhirnya, buku dengan bentuk kertas dan digital sekalipun suatu saat hanya kenangan sejarah—bahwa sebelumnya buku medium penting pencatat pengetahuan.

Sama seperti pengetahuan yang dalam dirinya sendiri dinamis, bagaimana ia dipublikasikan juga mengalami pergeseran. Sebelum sistem kertas ditemukan oleh manusia, pengetahuan sudah lebih jauh ada.

Artinya, catatan-catatan di kertas hanya salah satu dari sekian ragam yang mungki ideal untuk merekam pengetahuan. Oret-oretan tinta dari percetakan buku hanyalah salah satu yang ideal, bukan satu-satunya. Segila apapun kita kepada buku, kutu buku paling kutu di dunia sekalipun tidak boleh mengisolasi dari kemungkinan itu.

Jauh-jauh tahun, salah seorang penulis memberi ramalan bahwa buku cetak tidak tergantikan dengan apapun. Sayangnya, fakta di lapangan menamparnya dan membuatnya terbelalak. Menjamurnya buku yang dikonversi ke dalam bentuk lunak, membuktikan ramalan dia keliru. Bahkan, buku dengan bentuk digital juga tak kalah diminatinya dibanding cetak. Sekarang saya mencoba meramal bagaimana suatu saat buku akan punah.

BACA JUGA  Penulis Tak Lahir dari Kelas Menulis

Barangkali kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk mendeklarasikan bahwa buku—baik cetak ataupun digital—punah. Untuk mengumandangkan itu hari ini kemungkinan besar hanya akan menjadi bahan tertawaan banyak orang. Saya tidak punya data akurat untuk membuktikan itu, tetapi peluang besar konversi dari buku ke dalam bentuk rekaman atau konten media sosial memang terbuka.

Etos masyarakat terhadap media sosial dan semangat akademisi belakangan merekam berbagai gagasannya dengan bentuk video dapat menguatkan apa yang saya katakan.

Kalaupun tidak secara sekaligus, kemungkinan dengan pelan-pelan keagungan buku mulai berkurang. Artinya, sebagaimana saya utarakan di awal, pelan-pelan superioritas buku akan terkikis dengan sendirinya. Sekarang Anda pikirkan dalam setahun berapa buku yang naik cetak, lalu bandingkan dengan dua puluh atau tiga puluh tahun lalu.

Tentu, Anda akan mendapati perbedaan yang sangat kontras—untuk tidak mengatakan bahwa buku-buku yang dicetak turun secara drastis. Sebagai penguat bukti, kita amati sudah berapa penerbit yang gulung tikar. Sekarang kita berani katakan, bahwa buku-buku yang dicetak memang merosot tajam.

Di saat superioritas dunia digital mulai terbangun secara gradual dan pada saat bersamaan buku yang dihasilkan semakin berkurang, maka di titik itulah transisi terjadi. Kita tidak akan bisa membayangkan bagaimana buku punah dan semua pengetahuan dicatat dalam bentuk digital.

Orang mencari pengetahuan hanya dengan membuka media sosial dan membaca apa yang orang lain tulis secara bebas. Orang mencari pengetahuan dengan menonton video yang direkam oleh orang lain dengan bebas pula.

Buku tidak menemukan taji. Akhirnya orang-orang hanya senang untuk berintraksi dengan segala yang berbentuk digital, tidak buku. Kita hanya bisa membayangkan itu. Mengerikan, dunia tanpa buku, bukan? Untuk saat ini serempak kita jawab ‘iya’. Suatu ketika kita juga mesti serempak menjawab, bahwa hal itu adalah hal biasa saja. Lumrahnya terjadi di alam sebagaimana fenemona sehari-hari saja.

Moh Rofqil Bazikh
Moh Rofqil Bazikh
Mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga. Mukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis puisi di pelbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Tribun Jateng, Minggu Pagi, Merapi, Rakyat Sultra, Bali Pos, Harian Bhirawa, Lampung News, Analisa, Pos Bali, Banjarmasin Post, Malang Post, Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Cakra Bangsa, BMR Fox, Radar Jombang, Rakyat Sumbar, Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews, Mbludus.com, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir, Ideide.id, Asyikasyik.com, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru