Merajut Kerukunan dan Persatuan Bangsa


-1
50 shares, -1 points

Hajatan akbar lima tahunan (Pileg dan Pilpres) sudah berjalan dengan baik, lancar, sukses, damai, dan tanpa gejolak yang berarti. Hal ini menunjukkan kedewasaan bangsa Indonesia dalam berdemokrasi. Meskipun beberapa hari lalu sempat terjadi aksi yang melibatkan ribuan orang, namun kita harus yakin bahwa semua akan kembali normal dan hidup damai berdampingan sebagai warga negara Indonesia yang sama-sama memiliki cita-cita untuk Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Saat ini, tahapan pemilu yang berlangsung di KPU sudah mendekati babak akhir (sudah diumumkan hasil perhitungan rekapitulasi ditingkat nasional) . Sesuai dengan konstitusi dan uu pemilu, proses sedang dilaksanakan oleh KPU. Jika ada kendala atau penyimpangan proses pemilu, baik penggelembungan suara dan lain-lainnya, maka ada mekanisme hukum yang bisa ditempuh seperti melaporkan ke Bawaslu dan MK.

Kita harus menghormati kedewasaan masyarakat kita dalam berdemokrasi, mereka sudah memberikan hak suaranya di TPS tanpa kegaduhan. Elite politik harus menjadi tauladan bagi masyarakat dengan menunjukkan kedewasaan dan sikap kenegarawanan, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan dan fragmatisme nafsu kekuasaan.

Tahapan pemilu yang sedang berjalan saat ini, adalah tidak etis dengan mengaik-ngaitkan sentimen keislaman, untuk menjaga kesucian agama kita. Tidak sepatutnya simbol-simbol keagamaan dan tempat-tempat ibadah masjid diseret-seret dijadikan tameng nafsu kekuasaan.

Sungguh langkah menjadikan masjid sebagai tempat kampanye praktis dan menjadi tameng nafsu kekuasaan itu adalah sesuatu yang tidak dibenarkan agama. Terlebih saat ini umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa, dimana kita diwajibkan untuk bisa menahan diri dan menyibukkan diri dengan tilawah, ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT seraya memohon maghfirah dari Alllah sehingga kita dapat melewati ramadhan ini dengan predikat muttaqin (orang yg bertaqwa), sebagaimana firam Allah dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 183 dan 187.

Baca Juga:  Ayana Jihye Moon dan Islam adalah Teroris

Beberapa waktu yang lalu, Forum Silaturrahmi Takmir Masjid (FSTM) melakukan konfrensi pers menyangkut situasi yang terjadi saat ini. Dalam siaran persnya, FSTM, sebagai forum berkumpulnya para takmir masjid yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga kesucian dan kemurnian masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan,  menyerukan beberapa poin.

Pertama, menyerukan kepada takmir masjid untuk mengefektifkan sisa bulan Ramadhan dengan mengoptimalkan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, semarakkan Ramadhan dengan kegiatan tilawan, wirid, ibadah, dan kegiatan keilmuan. Bersihkan masjid dari kegiatan politik dan agitasi destruktif yang justeru berpotensi memecah-belah umat.

Kedua, menyerukan kepada umat Islam, saat ini kita sudah melewati 10 hari pertama Ramadhan. Momentum ini harus dimaksimalkan untuk mendapatkan rahmat Allah. Saat ini juga sedang memasuki 10 hari kedua Ramadhan, dimana merupakan momentum untuk mendapat maghfirah (pengampunan) dan akan menyongsong akhir Ramadhan sebagai kesempatan terakhir kita agar dijauhkan dari api neraka (‘itqun minan naar), maka kami mengajak kita semua untuk lebih fokus meraih berkah Ramadhan. Jangan biarkan puasa kita sia-sia sebagaimana yang dikatan Nabi Muhammad: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy).

Ketiga, khusus kepada takmir masjid K/L dan BUMN, kami menyerukan agar turut menjaga kesucian masjid dan lebih fokus untuk memakmurkan masjid dengan pusat kegiatan ibadah yang dapat meningkatkan kualitas iman dan meneguhkan komitmen pengabdian kita kepada bangsa dan negara serta semakin mengokohkan nilai-nilai Pancasila dan pilar-pilar kebangsaan kita dalam bingkai NKRI.

Keempat, bahwa segenap umat Islam, khususnya tokoh agama dan pengurus masjid untu senantiasa menjaga kekhidamatan bulan suci Ramadan dengan kegiatan yang positif dan berkontribusi bagi peningkatan ketaqwaan dan kualitas keimanan.

Baca Juga:  Dakwah Islam Washatiyah

Kelima, bahwa seluruh elemen masyarakat, terutama pengurus masjid dan tokoh agama untuk menjaga kerukunan dan persatuan serta menghindari terlibat kegiatan yang mengarah pada kegiatan makar dan aksi terorisme dan radikalisme.

Ikhtiar FSTM dalam bentuk seruan sebagaimana disebutkan di atas sesungguhnya merupakan kebutuhan kita bersama saat ini, terlebih pasca pilpres. Memang harus jujur diakui bahwa ada rasa tidak puas (terima) bagi kelompok yang dalam hal ini kalah. Begitu juga bagi kelompok yang menang dalam kontestasi Pilpres kali ini, tidak boleh euforia berlebihan. Keduanya harus mengedepankan sikap pahlawan yang menjunjung tinggi jiwa kenegarawanan.

Mari kita singkirkan ego kelompok. Mari kita keluar dari zona “neraka” menuju zona “surga” dengan cara merajut kembali kerukunan dan persatuan bangsa. Perbedaan hanyalah salah satu bentuk sunnatullah dalam hidup, sehingga tak perlu ditonjolkan secara membabi buta. Bendera bangsa Indonesia sama, pun rumah kita juga sama (Indonesia-red). Untuk itu, mari kita jaga rumah kita bersama.


Like it? Share with your friends!

-1
50 shares, -1 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
1
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
1
Marah
Suka Suka
2
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.