28.6 C
Jakarta

Menyikapi Pernyataan Macron tentang Krisis Agama Islam

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMenyikapi Pernyataan Macron tentang Krisis Agama Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Beberapa waktu lalu, Emmanuel Macron, Presiden Prancis mengungkapkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Hal tersebut diungkap Macron bersamaan dengan pengajuan UU separatisme Islam di Prancis.

Sesaat setelah pemberitaan itu mencuat, masyarakat Muslim dunia – termasuk di Indonesia, merespons dengan beragam penentangan atau pengecaman terhadap Macron. Berbagai aksi turun ke jalan terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Seruan ‘boikot produk Prancis’ tersyiar sebagai bentuk kemarahan, dan berbagai bentuk kecaman lainnya. Terlebih, Macron juga menuturkan bahwa tindakan media koran Charlie Hebdo – mencetak karikatur Nabi Muhammad beberapa tahun silam – yang oleh umat Islam dianggap sebagai pelecehan, bukan termasuk kewenangannya karena sama halnya mengintervensi media.

Lagi-lagi, peristiwa tersebut menyulut amarah umat Islam di berbagai belahan dunia. Macron, sebagai representasi negara Prancis, seolah menjadi ‘musuh’ bersama umat Islam hari ini.

Dari berbagai kontroversi yang dilakukan oleh Macron, menurut saya, yang paling menarik adalah terkait klausul ‘agama Islam mengalami krisis di seluruh dunia’. Terlepas dari kekecewaan terhadap Macron, saya mencoba mencerna lebih dalam tentang makna ‘krisis’ yang terjadi di dalam tubuh Islam sendiri.

Sebagai rahmat seluruh alam, Islam sejatinya agama yang penuh akan prinsip-prinsip perdamaian. Islam juga senantiasa menganjurkan sikap moderat antara kehidupan dunia dan akhirat. Pula dengan seruan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang mendorong toleransi antarumat beragama. Agama Islam memang menjadi penyempurna, tetapi bukan berarti merendahkan agama-agama sebelumnya.

Kendati begitu, mustahil kita elakkan fakta mengenai sikap oknum-oknum umat Islam. Sikap yang justru mengakibatkan rusaknya citra Islam sebagai rahmat alam semesta. Sebagai misal, sikap intoleransi yang banyak dilakukan oknum umat Islam saat ini, baik terhadap sesama umat Islam maupun terhadap umat beragama lainnya.

Eksklusivisme melandasi tindakan yang bertendensi melukai batin dan perasaan orang lain. Pelecehan tentang amaliah, pengkafiran, dan penyesatan, merupakan bentuk tindakan tersebut. Secara lazim kita mengenalinya dengan istilah ‘intoleransi’.

Kemudian dalam fase tertentu, lahirlah oknum umat Islam yang berideologi radikal. Menentang pemimpin negara, menentang asas demokrasi, undang-undang, bahkan Pancasila itu sendiri. Jika hal ini terus-menerus dibiarkan, walhasil, sebagai bentuk kekecewaan oknum umat Islam tersebut benar-benar menampakannya dalam laku nyata berwujud kekerasan, terorisme.

Meskipun sebenarnya untuk sampai pada titik kulminasi adalah tidak sesingkat penjelasan itu. Akan tetapi secara garis besar, muasal tindak terorisme adalah tidak begitu jauh dari apa yang telah dijelaskan di atas. Tentu dengan dinamika yang mempengaruhinya. Maka dari itu, saya menduga bahwa ‘krisis agama Islam’ terletak pada sikap intoleransi, radikalisme, terorisme apapun bentuknya, yang kesemuanya itu dilakukan oleh oknum umat Islam, bukan agama Islam.

Sayangnya, hal tersebut kemudian digenerasilasi oleh khalayak sebagai wajah Islam secara utuh, tak terkecuali oleh Macron. Jamak orang memandang Islam adalah agama kekerasan, sebagaimana terorisme yang brutal melakukan pengeboman. Tak sedikit pula orang berpendapat bahwa Islam adalah agama yang statis, sepaneng, dan cenderung menutup diri dari pembaharuan.

Maka sebagai kontra-narasi terhadap pemahaman yang demikian, sekiranya penting umat Islam yang teguh pada prinsip moderat, mengambil sikap vokal. Mengampanyekan sikap toleran dengan menghargai seluruh umat beragama. Tak pernah mengotak-kotakan sesama umat beragama. Bersikap arif, tanpa tedeng aling-aling menjungjung persamaan hak asasi manusia. Dan yang paling mutakhir, meneguhkan diri sebagai nasionalisme atau cinta tanah air.

Keberanian tampil sebagai teladan, setidaknya menjadikan Islam tak lagi dipandang sebagai agama yang sarat akan kekerasan. Selain itu, hal tersebut juga sebagai upaya meluruskan ihwal stereotip Islamophobia yang kini berseliweran mencemari hakikat Islam yang sejati. Karena bagi saya, hal tersebut justru lebih mulia daripada serentenan aksi demonstrasi. Mengutuk, mengecam, memboikot, serta ekspresi kemarahan lainnya. Alih-alih membela agama Islam, tindakan tersebut bisa jadi malah semakin menebalkan stigma yang melekat dengan Islam.

Menyangkut pernyataan Macron – dan semua pihak yang sepakat dengannya – tentang krisis agama Islam, adalah sebuah kekeliruan, karena telah melekatkan ‘krisis’ pada agama bukan pada pemeluknya. Bagi saya, hal ini barangkali sebuah kritik semata terhadap perilaku oknum umat Islam yang jelas-jelas berakibat buruk bagi citra Islam. Alangkah dirugikannya agama Islam ketika dianggap mengalami krisis, sementara yang sedang krisis itu tak lain oknum umat Islam sendiri.

Indarka Putra
Indarka Putra
Alumni Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Ketua Umum Generasi Baru Indonesia (GenBI) Jawa Tengah periode 2020-2022, bermukim di Telatah Kartasura.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru