Menyikapi Amar Makruf Nahi Mungkar


1
1 share, 1 point

Seringkali amar makruf nahi mungkar dibuat dalih untuk menguatkan argumen tindak kekerasan atas nama agama. Mulai ayat-ayat Al-Qur’an sampai hadis dikonfirmasi untuk mendukung tindakan picik ini, sehingga dengannya radikalisme mencitrakan perbuatan yang mulia.

Biasanya ayat yang digembar-gemborkan adalah surah Ali Imran ayat 104, yang berbunyi: Handaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru pada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. 

Sementara, hadis Nabi saw. yang dinukil pula berupa: Siapa saja di antara kalian yang medapati kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatan). Bila tidak bisa, ia harus mengubahnya dengan lisannya. Bila tidak bisa juga, ia harus mengubahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim).

Melalui ayat tersebut, kelompok radikal berkayakinan bahwa perbuatan kekerasan untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah bentuk dari perintah Allah yang tidak dapat ditawar. Selain itu, tindakan kekerasan ini, berdasarkan hadis Nabi, adalah perintah untuk mengubah kemungkaran dengan tangan, karena cara ini termasuk cara paling mulia dibandingkan dakwah dengan lisan, apalagi dengan hati.

Demikianlah cara kelompok radikal membaca dan memahami suatu teks Al-Qur’an dan hadis. Padahal, tidak cukup sampai di sana untuk memahami teks ini. Oleh sebab itu, dibutuhkan seperangkat ilmu pengetahuan yang memadai. Bagi seorang mufasir (orang yang memahami Al-Qur’an) hendaknya mengetahui ilmu-ilmu Al-Qur’an (ulumul Qur’an) atau hermeneutika, sementara untuk memahami hadis, dibutuhkan ilmu hadis (ulumul hadis), lebih-lebih takhrij hadis, sebuah cara untuk meneliti kesahihan hadis.

Pada hakikatnya, kalompok radikal memahami teks secara tekstual, sehingga kehilangan konteksnya. Hal ini merupakan cara yang sempit dalam berinteraksi dengan teks. Setidaknya, bagi pembaca yang berupaya memahmi teks hendaknya selalu melihat konteksnya, sehingga teks yang mati akan menjadi hidup dan membumi.

Baca Juga:  Gairah Mencintai Alquran

Membahas soal amar makruf nahi mungkar melalui teks-teks Al-Qur’an dan hadis secara mendasar bisa menukil pandangan mufasir al-Qurthubi saat mengomentari surah al-Ma’idah ayat 105: “Seorang pelaku hisbah (prinsip-prinsip agama) hendaknya berdiam jika dirasa tindakannya memberantas kemungkaran akan mendatangkan bahaya baginya, keluarganya, atau umat Islam secara umum.”

Pada tempat lain, Ibnu Taimiyah menambahkan: “Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban terberat. Sesuatu yang diwajibkan atau dianjurkan harus mendatangkan kemaslahatan, bukan kemudaratan, karena para rasul diutus untuk membawa kemaslahatan dan Allah tidak menyukai kerusakan. Oleh sebab itu, amar makruf nahi mungkar tidak boleh melahirkan kemungkaran baru. Sesuatu yang banyak mengandung kemudaratan tidak akan diperintahkan oleh Allah.”

Pandangan dua ulama tersebut memberikan peta dalam mengaplikasikan amar makruf nahi mungkar secara benar dan arif. Bahwasanya amar makruf nahi mungkar hendaknya dilakukan dengan cara yang mulia, yaitu tidak menghadirkan kemungkaran yang baru dan menebar kemaslahatan. Secara spesifik, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa seseorang yang akan melakukan amar makruf nahi mungkar seharusnya memenuhi syarat-syarat, yaitu: memiliki ilmu pengetahuan, bersikap lemah lembut, berjiwa sabar, dan menempuh cara-cara yang baik.

Setelah melihat beberapa syarat yang ditawarkan Ibnu Taimiyah, mari flashback sejenak dan bertanya: Apakah tindakan radikal merupakan sikap yang lemah lembut? Sudahkah kelompok radikal memiliki bekal pengetahuan dalam berdakwah? Begitu pula, benarkah cara yang dilakukan kelompok radikal menempuh cara-cara yang baik?

Presiden Jokowi mengungkap dalam Tribun News bahwa umat Islam menjadi korban terbanyak dari konflik dan radikalime terorisme. Bahkan, jutaan saudara-saudara kita harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jutaan anak muda kehilangan harapan masa depannya.

Pernyataan sang presiden merupakan suatu kekecewaan melihat kekerasan atas nama agama merajalela di pernjuru dunia, bahkan di Indonesia sendiri. Kendati begitu, pemerintah Indonesia terus berupaya mencegah tindakan kekerasan sampai ke akar-akarnya, salah satunya, dibubarkannya organisasi radikal Hisbut Tahrir Indonesia (HTI). Di samping itu, Presiden Jokowi menawarkan solusi untuk mengentaskan radikalime, yaitu: meningkatkan ukhwah islamiyah antar sesama Islam, membangun kerja sama yang solid untuk memberantas radikalisme dan terorisme, dan berupaya menjadi part of solution bukan part of problem dalam memberantas radikalisme.

Baca Juga:  Konsep Islam dalam al-Quran

Nah, tugas kita sekarang dalam membumikan amar makruf nahi mungkar hendaknya tidak mengabaikan syarat-syaratnya, sehingga membuahkan hasil yang baik. Bukankah begitu cara kita beramar makruf dan bernahi mungkar? Wa Allah A’lam bi ash-Shawab.


Like it? Share with your friends!

1
1 share, 1 point

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta