Menyegarkan Kembali Rasa Kebangsaan Kita

Sejarah bangsa-bangsa telah mengajari kita betapa perang bisa muncul dipicu berita bohong yang dianggap benar.


0
58 shares

Semangat kebangsaan kita tidak segar lagi. Jadi perlu disegarkan.”

(Buya Syafi’i Ma’arif)

Perpecahan di era digital semakin mudah terjadi. Nafsu kita untuk mengetahui lebih banyak jubelan informasi di media sosial –agar dibilang update– , kerap menjebak kita pada kecerobohan. Begitu ada informasi terbaru, tanpa menimbang kebenaran terhadap informasi tersebut, jempol kita dengan lihai langsung membagi-bagikan kepada jejaring kita di media sosial. Jubelan informasi menyesaki pikiran kita, tapi tidak dibarengi dengan sikap kritis yang pada akhirnya akan menerbitkan penyesalan di kemudian hari.

Sejarah bangsa-bangsa telah mengajari kita betapa perang bisa muncul dipicu berita bohong yang dianggap benar. Sebagaimana yang dulu dilakukan Adolf Hitler pada awal September 1939. Ia mengabarkan kepada parlemen Jerman bahwa militer Polandia menembaki tentara Jerman pada pukul 05.45. Ia lalu bersumpah untuk membalas dendam. Kebohongan yang memicu Perang Dunia II ini terungkap setelah ketahuan tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan perbatasan Polandia. Karena semenjak 1938 Jerman sudah mempersiapkan pendudukan terhadap jirannya itu.

Kasus lain, seorang remaja putri Kuwait, Nariyah, bersaksi di depan kongres AS pada tahun 1990 tentang kebiadaban prajurit Irak yang membunuh puluhan balita. Kesaksian tersebut ikut menyulut Pelang Teluk. Belakangan baru terungkap bahwa Nariyah adalah putri duta besar Kuwait dan kesaksiannya merupakan bagian dari kampanye perusahaan iklan, Hill & Knowlton atas permintaan pemerintah Kuwait (dw.com).

Dua contoh tersebut rasanya cukup untuk dijadikan permenungan kita bersama. Bahwa berita bohong atau hoaks dan juga ujaran kebencian sengaja dimunculkan untuk kepentingan tertentu, misalnya iklan dan politik. Apalagi kini fasilitas sangat mendukung, yakni akses internet yang hampir bisa dinikmati semua orang. Berita bohong yang dulu disampaikan dari mulut ke mulut saja sudah bisa memicu perang dunia, apalagi kini telah terfasilitasi oleh jejaring media sosial, yang memiliki jangkauan sangat luas. Tentu, potensi konflik yang dimunculkan hoaks kian besar. Dengan begitu, memerangi hoaks merupakan upaya mempertahankan kesatuan dan kerukunan bangsa, demi terjaganya kemanusiaan.

Baca Juga:  Internalisasi Pancasila Sebagai Benteng Radikalisme

Karena hoaks diciptakan secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu, maka untuk memberantasnya pun memerlukan langkah taktis pula dan penuh dengan perhitungan. Setidaknya, hal pertama yang perlu kita tahu adalah logika publik dalam aktivitas berselancar di jagad digital. Akh Muzzaki, Guru Besar FISIP UIN Sunan Ampel, menegaskan bahwa siapa yang sering muncul di media, dia akan dianggap orang yang paling otoritatif dan kemudian menjadi sumber kebenaran (Kompas, 10/1).

Kita bisa tinjau media sosial kita diisi oleh pribadi-pribadi yang seperti apa. Bukankah belakangan telah marak ustaz-ustaz seleb yang karena intensitasnya di media sosial jadi terkenal dan digemari warganet lintas usia? Tidak peduli apakah mereka memiliki kapasitas keilmuan mumpuni atau tidak; tapi yang jelas, segala yang keluar dari mereka dianggap sebagai kebenaran, termasuk ujaran kebencian sekalipun.

Muncul pula narasi-narasi kebencian yang dari waktu ke waktu dihembuskan kian kuat, apalagi mendekati Pilpres. Jika hoaks dan ujaran kebencian telah menguasai gelanggang media sosial, maka sulit bagi kita untuk melakukan klarifikasi terkait isu-isu yang sengaja dipelintir. Dalam sebuah penelitian psikologi sosial, dikatakan, masyarakat yang letih dan fanatik dalam beragama lebih mudah termakan hoaks ketika isi hoaks itu sejalan dengan keyakinannya dan memberikan harapan perbaikan hidup (Kompas, 8/1).

Maka dari itu, bisa dipahami jika ada narasi kampanye yang menyadur dalil-dalil agama untuk melegitimasi kebobrokan pemerintah, masyarakat akan mudah mempercayainya. Juga wajar belaka jika narasi utopis yang seakan-akan membawa angin segar perbaikan kehidupan masyarakat, disambut dengan gegap gempita, dengan tetap tidak melepaskan cibiran kepada pemerintah yang dianggap tak becus memakmurkan rakyatnya. Pada akhirnya, di tengah-tengah masyarakat muncul pertarungan sengit, jotos-jotosan, yang diwakili dengan hujat-hina di media sosial. Si produsen hoaks, tersenyum, dan si pengguna jasa hoaks, sumringah melihat mangsanya memakan umpannya; masa bodoh dengan kesatuan-kedamaian-kerukunan masyarakat.

Baca Juga:  NU dan Tantangan Kebangsaan

Melibatkan Akademisi

Dalam kondisi sosial-politik yang sedemikian peliknya, Buya Syafi’i Ma’arif pun merasa prihatin dan mengatakan bahwa semangat kebangsaan kita telah luntur. Perpecahan ada di mana-mana, dan laten intoleran juga telah bercokol di benak masyarakat (awam). Tentu hal ini bikin bulu kuduk merinding, membayangkan Indonesia yang hijau alamnya, santun penduduknya, hancur-lebur layaknya Suriah, misalnya, hanya karena sikap toleransi mulai ditinggalkan. Narasi-narasi di media sosial memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan opini publik, dan karena banyak bermunculan narasi kebencian dan intoleran, maka banyak orang yang secara sadar ataupun tidak, memiliki perspektif sektarian atau benci dengan liyan yang tak sejalan.

Pemerintah telah menyusun mekanisme pemberantasan hoaks sedemikian rupa, misal, menindak situs atau akun yang terbukti menebarkan kebencian dan berita bohong dengan cara memblokirnya. Namun, pemerintah juga memerlukan kerja sama di semua kalangan, termasuk akademisi. Bahwa sebagian akademisi yang kini terkesan duduk manis di menara gading, sudah saatnya turun ke bawah menyelesaikan konflik-konflik sosial. Jangan hanya melakukan riset-riset akademik, tapi juga mesti melakukan upaya counter hegemoni narasi-narasi kebencian dan hoaks. Caranya sederhana, yakni dengan aktif dalam bermedia sosial. Saya yakin, kapasitas keilmuan para akademisi cukup mumpuni untuk memproduksi narasi-narasi berjiwa kebangsaan yang meneduhkan warganet. Saya juga tidak menyangsikan jaringan yang dimiliki masing-masing akademisi, tentu luas, meliputi mahasiswa, pegiat komunitas, dosen, sampai pemerintah. Cara kerja logaritmis media sosial mesti dimanfaatkan untuk menebarkan nasari kedamaian yang kritis dan mendalam.

Agaknya cara-cara seperti ini bisa dijadikan alternatif solusi untuk menyegarkan kembali rasa kebangsaan kita. Kita memang lahir dari rahim sosial-budaya yang beraneka ragam, tapi sebagai bangsa, kita disatukan dengan satu asa yakni kemakmuran lahir-batin. Dan, kemakmuran tidak bisa dicapai tanpa adanya kedewasaan untuk menerima perbedaan, dan menepis provokasi-provokasi yang bertujuan mempertegas perbedaan yang kemudian diarahkan pada perpecahan.


Like it? Share with your friends!

0
58 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Imron Mustofa

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis lepas asal Kebumen, yang untuk sementara waktu berdomisili di Jogja.