Menulis sebagai Sebuah Proses yang Tak Berkesudahan


0
5 shares
Internet

Saya sering mendapati orang yang ingin menulis dan menjadi penulis hebat. Kebanyakan mereka belum pernah belajar jauh tentang belantara dunia menulis. Sehingga, mereka ini bisa disebut sebagai penulis pemula.

Penulis pemula selalu bilang: “saya ingin membuat tulisan, tapi… tapi tak ada ide. Toh kalau ada ide untuk bahan tulisan, mau menuangkannya dalam bentu untaikan kata-kata yang enak/layak dibaca publik sangat sulit. Mau memulai dari mana, apa kata pertama dan lainya sebagainya.”

Itulah hal-hal/problem yang lazim ada pada penulis pemula. Lantas, bagaimana langkah kita agar terbebas dari problem-problem tersebut? Jawaban yang paling gamang dan mendasar tapi memiliki makna yang dalam adalah: “bahwa menulis itu merupakan sebuah proses yang harus terus dilatih   secara konsisten.” Tanpa latihan yang konsisten, yakinlah bahwa Anda akan sulit untuk menjadi penulis, terlebih penulis hebat.

Selain dikenal sebagai wartawan senior dan pemilik salah satu media cetak terkemuka di Indonesia, Dahlan Iskan juga termasuk salah satu penulis hebat yang di miliki oleh Bangsa Indonesia tercinta. Tentu masih banyak tokoh atau penulis yang jauh lebih hebat. Namun, terkait dengan materi tulisan ini, sosok Dahlan Iskan perlu diulas, terutama dalam hal ketekunan dan keistiqomahan beliau dalam menulis.

Suatu ketika, ketika Dahlan Iskan sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, keadaan ini tidak menjadi sebab untuk tidak menulis. Dengan kondisi badan yang sakit dan keterbatas fasilitas kala itu, ia masih menyempatkan untuk merangkai kata-kata agar dibaca oleh khalayak. Uniknya, ia menulis dengan memakai media smart phone (telpon genggam), bukan laptop atau tablet. Sungguh luar biasa bukan?

Yang hendak penulis tekankan dalam artikel ini adalah, bahwa menulis itu tak bisa dilakukan dengan cara musiman atau tergantung mood kita. Jika Anda benar-benar bertekad menjadi penulis hebat dan melahirkan karya yang mampu mencerahkan jutaan orang, maka tidak ada kata berhenti menulis. Karena jika Anda berhenti menulis dalam jangka waktu satu atau dua minggu saja, maka itu berarti Anda akan mengulangi dari nol lagi.

Baca Juga:  Agar Menulis Terasa Mudah

Ibarat besi yang dipanaskan; jika sudah panas, ia akan mudah dibentuk menjadi berbagai macam barang. Akan tetapi, jika besi itu sudah dingin karena berhenti (tidak dipanaskan lagi), maka akan sulit membentuk besi tersebut menjadi barang yang bermanfaat. Dengan demikian, jika hendak menjadikan besi tersebut bermanfaat, maka mulai dari nol lagi. Begitu juga dengan menulis. Jika sudah vacum lama, maka sulit atau akan mulai dari nol lagi.

Maka, pembelajaran yang berarti, terutama bagi penulis pemula adalah; jangan sampai menyerah. Terus asah kemampuan menulismu setiap hari. Dulu, penulis harus menulis puluhan kali, baru tulisan penulis dimuat di koran kala itu (2012). Jadi, tulisan pertama saya yang dimuat di media cetak itu adalah tulisan yang ke-20. 19 tulisan ditolak mentah-mentah (tanpa ada pemberitahuan/koreksi dari redaksi).

Jika sudah memiliki mental “baja” sebagaimana tersebut di atas, maka langkah selanjutnya adalah rajin membaca. Membaca dan menulis ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Ketiadaan salah satu keping menjadikan mata uang tak memiliki arti.

Membaca untuk memperoleh informasi atau pengetahuan berbeda dengan membaca yang diorientasikan untuk melatih dan menjadi bahan tulisan. Inilah yang seringkali tidak diketahui banyak orang.

Membaca untuk menulis tak sekedar bisa memahami atau bisa mengambil subtansi dari apa yang telah dibaca. Namun lebih dari itu adalah, juga memperhatikan gaya atau alur tulisan tersebut, merasakan rasa bahasa yang digunakan, memperhatikan titik-koma atau tanda bacanya. Intinya, membaca untuk menulis adalah ketika kita membaca sebuah buku/tulisan, maka kita memposisikan diri kita sebagai penulis naskah/buku tersebut. Seolah-olah kita yang menulis tulisan tersebut.

Cara ini sangat bermanfaat, terutama bagi penulis pemula karena akan mendapatkan banyak hal dari cara ini. Diantaranya, akan mengetahui alur teks tersebut iarahkan kemana. Kedua adalah mendapatkan gaya bahasa. Setiap penulis pasti memiliki gaya bahasa yang berbeda. Nah inilah kesempatan bagi penulis pemula untuk meniru untuk kemudian memodifikasi dengan gaya pribadi. Kemudian manfaat lainnya tentu akan mendapatkan bahan tulisan dari aktivitas membaca ini.

Baca Juga:  Penyair Muda dan Larangan Menulis Terus-menerus

Sementara untuk subtansi atau materi/bahan tulisan, selain dari membaca, juga bisa berangkat dari fenomena atau kejadian di sekitar kita. Kejadian itu kemudian ditulis sedemikian rupa menjadi satu pembahasan yang utuh dan tuntas. Sebagai contoh, di sekitar Anda ada fenomena kelompok yang gemar mengkafirkan pejabat negara. Nah ini bisa menjadi bahan tulisan. Berangkat dari fenomena di sekitar kita kemudian kita konfirmasi fenemena tersebut dengan bahan dari berbagai sumber.

Yang terakhir adalah, sering melakukan kontemplasi (perenungan).  Menjadi penulis berarti menjadi pengamat sekaligus menjadi pemecah masalah. Pemecahan masalah inilah yang membutuhkan kontemplasi yang mendalam. Tak ayal jika banyak penulis lebih suka ruang sunyi (tengah malam) untuk membuat sebuah karya.

Demikian sedikit ulasan terkait dunia tulis-menulis. Semoga bermanfaat.


Like it? Share with your friends!

0
5 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Muhammad Najib
Pemimpin Redaksi Harakatuna.com.