24.6 C
Jakarta

Menulis dengan Cinta (Bagian XXXIX)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Basecamp Caffe. Tempat Diva menulis dan menghindar dari segala bentuk keramaian ibu kota. Kebiasaan di pesantren ngobrol di kafe menjadi kebiasaan berkelanjutan saat lama berada di Jakarta. Diva menatap laptop yang menyala. Seakan ide yang terngiang dalam benaknya siap ditumpahkan dalam deretan kata yang indah.

Menulis, bagi Diva, sudah menjadi passion, hobi yang menghasilkan. Menulis adalah cara terbaik mengabadikan hidup di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Dari situlah pundi-pundi dapat Diva tabung setiap ia menulis. Selain mendapat biaya hidup dari beasiswa, Diva mengantongi uang dari menulis. Seakan terasa berharga menjadi penulis: selain dapat berbagi kepada semesta, juga dapat honor.

Masih ingat kebiasaan menulis di pesantren yang selalu membuat Diva termotivasi. Mendapat honor dari menulis, kendati tidak seberapa, terasa berkesan banget, bahkan saking bahagianya honor yang dikirim redaksi media tidak diapa-apain, tapi disimpan. Kalau ditanya selama menulis dapat apa, kertas uang honor menulis itu dapat dipamerkan. Aneh plus lucu, bukan?

Honor menulis membuat Diva bisa hidup mandiri di tanah rantau. Diva sadar, hidup tidak selamanya bergantung kepada orangtua. Alasannya sederhana, takut merepotkan Abah dan Ummi. Mungkin, dengan kemandirian ini Diva dapat membahagiakan mereka. Inginnya, Diva tidak meminta, tapi memberi.

Perkembangan zaman mengubah cara berpikir banyak santri di pesantren. Bahwa yang disebut tulisan bagus tidak selamanya dimuat di media cetak, seperti koran atau majalah. Media tulis-menulis kini sudah banyak bertebaran di media online berbentuk laman website. Laman ini dapat dikunjungi oleh siapa saja di penjuru dunia, baik di dalam maupun di luar negeri.

Kata demi kata dijahit menjadi kalimat yang bermakna, lalu selesai menjadi sebuah tulisan yang lengkap dengan judul dan nama penulisnya. Setelah melewati tahap first-draft (draf awal) diikuti dengan tahap editing (penyuntingan), naskah itu siap dikirimkan ke sebuah media. Harakatuna, salah satu dari sekian media online di mana Diva menulis seban hari tentang isu-isu keislaman dan kebangsaan. Tulisan Diva biasanya mengkritik kelompok radikalis yang banyak bertebaran di tengah-tengah masyarakat.

Topik Islam yang dibahas dalam tulisan Diva sungguh mencuri perhatian pembaca. Diva menulisnya:

Islam akhir-akhir ini dikenal sebagai nama agama yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Searah dengan akar katanya Salam yang berarti “kesejahteraan” dan “keselamatan”, Islam harus menjadi agama yang dapat menyejahterakan dan menyelamatkan manusia, bukan menjadi agama yang membuat persatuan terpecah, menjadikan pertumpahan darah, dan menindas kaum yang lemah.

Berhenti sejenak. Membiarkan tombol keyboard tak disentuh jari-jemarinya. Tak lama gagasan tentang Islam kembali dilanjutkan.

Banyak kelompok yang getol mengatasnamakan Islam untuk berbuat kekerasan. Di Suriah ada ISIS. Islam garis keras ini merambah di Indonesia. Salah satu yang diperjuangkan oleh kelompok ini adalah pendirian Daulah Islamiyyah (Negara Islam) dengan menggunakan sistem Khilafah. Negara yang menggunakan sistem selain itu disebut dengan negara kafir, sehingga wajib diperangi dan halal darahnya.

Menulis tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Penulis membutuhkan ide yang menarik untuk dihidangkan dalam deretan kalimat yang memukau. Penulis harus banyak membaca tulisan orang lain. Karena, kata Hernowo, “Penulis yang baik adalah pembaca yang baik”. Membaca bisa membaca buku atau bisa juga membaca realitas.

Sayup diskusi dan obrolon pengunjung kafe mencipta alunan ritme yang mampu menghapus kesunyian dan menghadirkan gagasan-gagasan menarik dalam benak Diva. Diva duduk seorang diri. Hanya ditemani laptop, buku, dan juz buah kesukaannya. Menulis memang butuh kesendirian. Karena, deretan kalimat akan terkesan indah saat ditulis dengan hati, sehingga tulisan itu nanti sampai di hati juga. Menulis dengan hati biasanya membutuhkan kefokusan. Mungkin, lewat kesendirian itu Diva lebih fokus menulis.

Karena itu, ciptakan Islam yang ramah, menyejukkan, bahkan menyenangkan. Islam agama yang membenci kekerasan, karena Islam agama yang mencintai perdamaian. Bersyukurlah menjadi muslim, karena muslim itu sosok yang disenangi dengan membawa perdamaian dan generasi yang dirindukan dengan menggenggam kesejahteraan.

Selesailah satu tulisan yang tak begitu panjang. Laptop yang ditatapnya masih nyala. Memandangi suasana kafe yang dikerubuni pengunjung yang sedang asik dengan teman yang duduk berdekatan di samping dan di depannya. Basecamp Caffe yang berada di lantai dua menghadirkan suasana yang berbeda. Seakan udara malam menyapa dengan keramahan.

Sendiri. Satu kata yang Diva rasakan malam itu. Keramaian orang di sekelilingnya tiba-tiba mengubah menjadi kesunyian. Hanya menulis yang dapat mengubah kesunyian menjadi keramaian dalam hidup Diva.

Begitulah kehidupan. Tidak selamanya kesedihan akan menutup pintu kebahagian. Tidak selamanya kesendirian akan mengakhiri kebersamaan. Tuhan pemilik kasih. Kasih-Nya terbentang luas di tengah semesta. Tuhan selalu tahu kapan menghadirkan kebahagiaan kepada makhluk-Nya. Bahagia itu bukan soal seberapa sering tidak sendiri, namun seberapa banyak bersyukur. Bersyukur adalah cara mengetuk pintu kebahagiaan. Percayalah!

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Senja Berbalut Rindu” (Dwilogi Novel “Mengintip Senja Berdua”) yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Rouhani Tuduh Israel Bunuh Pakar Nuklir Fakhrizadeh

Harakatuna.com. Taheran - Presiden Iran Hassan Rouhani tuduh Israel membunuh pakar nuklir Mohsen Fakhrizadeh. Pembunuhan itu semakin meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah dan lebih luas...

Agenda Kegiatan: Virtual Learning Desain

🏅VIRTUAL LEARNING DESIGN Batch#4🏅 ( Selasa-Rabu-Kamis, 1-2-3 Desember 2020 ) Kelas On Line/virtual menjadi New Normal di bidang Learning, Coacing, bahkan Training. Dengan pemberlakuan PSBB, proses...

Menggeser Paradigma Mayoritas-Minoritas Dalam Beragama

Konflik antar umat beragama kembali memanas di India. Pasalnya, pengesahan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan India (CAB) pada Desember 2019 lalu dinilai diskriminatif terhadap umat muslim...

Kearifan Lokal Dapat Dijadikan Sarana Mencegah Paham Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta - Indonesia sejak masa lalu sudah memiliki beragam kearifan lokal. Hampir tujuh ribu tahun sebelum masehi, Indonesia sudah mewarisi nilai – nilai...

Mengapa Tidak Ada Basmalah di Awal Surat At-Taubah, Ini Penjelasannya?

Salah satu yang menjadi pertanyaan ketika membaca Al-Quran adalah mengapa di semua surat Al-Quran terdapat basmalah. Sedangkan disurat At-Taubah sendiri tidak ada basmalahnya. Berawal...

Kuatkan Pilar Kebangsaan Untuk Pencegahan Paham Radikalisme

Harakatuna.com. Surakarta-Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) bekerja sama dengan website Harakatuna menggelar seminar Nasional di Aula Red Chilies Hotel, Lantai 5. Jalan Ahmad Yani, Surakarta,...

Peran Sunan Giri dalam Islamisasi Indonesia Timur

Judul: Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur, Penulis: Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar, Penerbit: IRCiSoD, Cetakan: Oktober 2020, Tebal: 132, Peresensi: Willy Vebriandy. Bagaimana islamisasi Nusantara...

Yordania Khawatirkan Kondisi Palestina yang Semakin Terancam

Harakatuna.com. Amman - Kerajaan Yordania khawatir hubungan Arab Saudi dengan Israel yang mulai "mesra" dapat mengancam hak pengelolaannya atas Masjid al-Aqsa, salah satu situs tersuci Islam di...