31.7 C
Jakarta

Menulis, Bukan Tentang Kemampuan Namun Kemauan

Artikel Trending

KhazanahLiterasiMenulis, Bukan Tentang Kemampuan Namun Kemauan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Suatu kali aku mendapati kabar gembira dari seorang teman. Dia mengirim pesan lewat sebuah aplikasi, mengabarkan kalau baru saja melihat satu tulisanku di sebuah majalah. Kaget bercampur bahagia mendengar kabar darinya. Obrolan pun berlanjut tentang bagaimana caranya aku bisa menulis dan mengirim tulisan ke media. Rupanya teman tersebut tertarik ingin mengirim tulisan juga ke media.

Dengan jawaban apa adanya, aku pun menjelaskan bahwa mengirim ke media itu adalah hasil dari bergabung dengan grup literasi, sehingga memiliki pengetahuan dan  kesempatan untuk mengirim tulisan ke media.

Setelah beberapa waktu, teman tersebut berkomentar lagi di sebuah postinganku yang masih terkait dengan dunia literasi. Dia berkata bahwa ingin bisa menulis sepertiku. Aku pun memberi saran agar bergabung di komunitas literasi agar mendapat ilmu kepenulisan serta  menyarankan agar mulai saja menulis sesuai kata hati. Ya, menulis saja dulu, begitu lebih tepatnya.

Obrolan singkat dengan teman ini mengingatkanku saat dulu pertama kali bergabung di dunia tulis-menulis ini. Awalnya sama sekali tidak pernah membayangkan akan bisa merangkai kata demi kata dan berhasil menuliskan beberapa karya. Dulu hanya sebatas keinginan saat membaca sebuah cerita atau tulisan.

Apa bisa aku menulis seperti ini? Terkadang pun muncul rasa iri saat melihat teman-teman begitu ahli dan indah dalam merangkai diksi. Namun ternyata setelah bergabung di komunitas literasi, sedikit demi sedikit aku belajar kaidah kepenulisan. Banyak ilmu baru yang didapat dengan terus menambah komunitas lain.

Dalam sebuah diskusi di komunitas literasi yang aku ikuti, aku menjadi sadar bahwa menulis itu bukan tentang kemampuan namun kemauan. Bukan tentang bakat dan kepandaian, namun lebih kepada aksi untuk menunjukkan bahwa seseorang bisa menulis. Setiap orang berpotensi bisa menulis, yang terpenting mencoba terlebih dahulu. Karena, menulis adalah bukan sebuah bakat tertentu, namun bisa dilakukan dengan terus berlatih.

Kebanyakan orang mungkin akan beranggapan, “Ah, aku tidak bisa menulis, lebih nyaman jadi pembaca saja”. Justru, dengan  banyak membaca, itulah salah satu jalan untuk bisa menulis. Kebiasaan membaca, mau tidak mau membuat otak kita terisi dengan ribuan kosa kata, atau jika yang lebih suka membaca tulisan yang kaya diksi puitis, akan banyak pula diksi indah yang diketahui.

BACA JUGA  Mendongkrak Gelora Menulis, Bagaimana Caranya?

Selain penguasaan diksi dan kosa kata, dengan membaca pun kita bisa “meniru” berbagai gaya kepenulisan dari para penulis yang lebih ahli. Dengan begitu, kemampuan menulis pun akan terasah.

Menulis bukan tentang bakat atau kemampuan, namun tentang kemauan untuk terus berlatih. Berlatih tentunya dengan melalui tahap-tahap yang benar. Misalnya saja, dengan memulai menulis beberapa paragraf. Tuliskan apa yang ada di hati dan pikiran. Mungkin boleh saja mengabaikan alur atau pakem kepenulisan yang ada, seperti penulisan tanda baca, huruf kapital, dan aturan PUEBI lain.

Baru setelah lancar menuliskan banyak kata yang membantuk sebuah paragraf, mulailah lebih belajar tentang kaidah kepenulisan (PUEBI). Insyaallah dengan cara sederhana seperti itu, siapa pun bisa menulis. Jangan takut salah, yang terpenting adalah belajar memulai dan terus memperbaiki kesalahan.

Mencoba, berlatih, konsisten menulis, serta tidak patah semangat atau pun down karena kritik dari pembaca, adalah cara agar bisa terus menulis. Pernah suatu ketika, aku melihat seorang teman yang rupanya tertarik untuk bisa menulis. Dia mengirimkan satu tulisan yang masih sederhana di salah satu grup kepenulisan. Tulisannya waktu itu tidak terdapat judul dan diakhiri dengan permohonan kritik dan saran dari pembaca.

Melihat tulisannya, aku pun berkomentar dengan sebuah kritik dan saran, sesuai permintaanya di akhir tulisan. Aku menuliskan komentar, agar tulisannya diberi judul. Namun, setelah aku berkomentar seperti itu, rupanya dia tidak lagi mencoba menulis lagi di grup tersebut.

Sangat disayangkan ketika keinginan untuk bisa menulis yang telah dimulai dengan upaya menuliskan sebuah tulisan, namun terhenti karena kritik dari seseorang.

Sekali lagi, saran untuk penulis pemula adalah berani mencoba. Setelah itu, terus berlatih dan membuka diri untuk belajar dan menerima kritik dan saran dari orang lain. Abaikan perasaan rendah diri atau minder jika banyak yang tidak diketahui. Bulatkan tekad, bahwa “aku bisa menulis dan akan terus menulis”. Karena, menulis bukan tentang kemampuan namun tentang kemaua.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru