Menuju Islam Moderat


0
3 shares

“Kalau tidak moderat, bukan Islam.” Demikian sentilan Musthafa Bisri alias Gus Mus pada talk show Mata Najwa. Kalimat ini diramu dari kandungan ayat Al-Qur’an: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (al-Baqarah/2: 143).

Ayat tersebut seakan-akan menyebutkan bahwa generasi yang diharapkan Islam adalah generasi yang moderat, karena generasi ini dinilai sebagai generasi terbaik, dapat menengah-nengahi antar dua sisi yang sama-sama tercela: “kiri” dan “kanan”, literal dan liberal. Sebut saja, dermawan sebagai sifat yang baik karena berdiri di tengah-tengah dua sifat yang tercela, yaitu boros dan pelit.

Secara aplikatif dua sisi yang tercela tersebut seringkali mengatasnamakan Islam guna mencari zona aman. Padahal, Islam tidak menghendaki demikian, kerena sikapnya tidak islami. Dari saking egoisnya, dua sisi ini mengklaim bahwa diri mereka sendiri adalah generasi paling moderat, sementara yang lain adalah kafir.

Sayangnya, kelompok ekstrem mengukur kemoderatan menggunakan ukurannya sendiri. Hal ini tidak dapat diterima, karena tidak balance, tidak fair, bahkan tidak objektifSeharusnya, untuk mengukur kemoderatan adalah menggunakan Al-Qur’an sebagai kitab pedoman yang memberikan petunjuk (al-Baqarah/2: 2). Al-Qur’an dipahami secara komprehensif tanpa melupakan misi Islam yang menghendaki kasih sayang dan kelemahlembutan, rahmatan lil alamin (al-Anbiya’/21: 107). Al-Qur’an tidak mengajarkan perbuatan tercela seperti berlebihan (guluw) dan keacuhan (taqshir), melainkan menyarakan hendaknya berlaku baik (al-Baqarah/2: 177).

Ketercelaan sifat berlebihan disinggung pula dalam hadis Nabi Muhammad saw.: Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama. Sesungguhnya sikap berlebihan telah membinasakan umat sebelum kalian. (HR. Ahmad).

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Surah Al-Taubah (Bagian I)

Dua sifat berlebihan ini direkam dalam akhir surah al-Fatihah. Bahwasanya orang yang berlebihan membenci sesuatu disebut dengan al-maghdhub, yakni orang yang dimurkai. Pada zaman dulu, al-maghdhub dipahami oleh sekian pakar tafsir dengan orang Yahudi, karena mereka menyimpang dari jalan yang lurus (shirath al-mustaqim) dengan cara membunuh para nabi dan berlebihan dalam mengharamkan segala sesuatu. Pada era sekarang mereka tak ubahnya haters (pembenci) yang banyak bergentayangan di media sosial. Sementara orang yang berlebihan mencintai seuatu diklaim adh-dhalli, yakni orang yang sesat yang mana pada masa dalu mereka disebut oleh pakar tafsir dengan kaum Nasrani. Untuk era sekarang, mereka adalah fans berat.

Bersikaplah sewajarnya! Mungkin ini kalimat yang tepat untuk berdiri di tengah-tengah dua sisi yang negatif tersebut yang melampaui batas. Larangan melampaui batas disebutkan dalam Al-Qur’an: Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (an-Nisa’/4: 171).

Berlebihan biasanya diekspresikan dalam beberapa sikap. Menurut Yusuf al-Qardawi—seperti yang terekam dalam Damai Bersama Al-Qur’an—tipe manusia yang berlebihan cenderung bersikap (a) fanatisme terhadap satu pemahaman dan sulit menerima pandangan yang berbeda; (b) pemaksaan terhadap orang lain untuk mengikuti pandangan tertentu yang biasanya sangat ketat dan keras; (c) negatif thinking terhadap orang lain karena menganggap dirinya sendiri yang paling benar; dan (d) menghalalkan darah orang yang tidak sepaham dengannya.

Baca Juga:  Perbedaan Alquran dengan Kitab-kitab Terdahulu

Benar. Fanatisme adalah sikap tercela. Karena Islam tidak menghendaki fanatisme. Islam sangat terbuka terhadap perbedaan yang terbentang di alam semesta. Nabi saw. menyebutkan: Perbedaan (yang terjadi pada) umatku adalah rahmat. Hidup tanpa perbedaan akan terkesan menoton, tidak berirama, seperti malam tanpa siang, kanan tanpa kiri, bahkan pria tanpa wanita. Pada hakikatnya, hidup ini berkembang karena adanya perbedaan, karena kebenaran itu tidak hanya satu, melainkan beragam. Quraish Shihab sering menganalogikan kebenaran ini bahwa yang dimaksud Tuhan adalah angka “sepuluh”, bukan “sembilan” ditambah “satu”, atau “delapan” ditambah “dua”, dan seterusnya. Untuk mencapai angka “sepuluh”, tidak hanya melewati penambahan angka “sembilan” dan “satu”, melainkan pula bisa melalui penambahan angka “delapan” dan “dua”.

Membatasi diri dari perbedaan secara tidak langsung membatasi kebenaran. Kebenaran selain Tuhan tidak absolut, melainkan relatif. Kebenaran itu hanya sikap subjektivitas masing-masing manusia. Bisa jadi yang menurut kita benar, di mata orang lain tidak demikian. Seharusnya, dalam menyikapi kebenaran, hendaknya bersikap terbuka, tidak menutup diri sehingga cenderung menyalahkan perbedaan.

Tertutup dari perbedaan akan mengantarkan seseorang bersikap egois sehingga cenderung memaksakan kehendak dirinya diterima orang lain. Islam tidak menghendaki sikap seperti ini. Disebutkan dalam al-Baqarah/2: 256, yang berbunyi: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Pemaksaan dalam beragama memang tidak dikehendaki oleh Allah swt. karena keimanan itu digapai hanya dengan pilihan, bukan pemaksaan.

Dalam ayat lain, Allah menegaskan: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?(Yunus/10: 99). Ayat ini menyangkal sikap pemaksaan dalam beragama. Adalah hal yang mudah bagi Allah untuk menjadikan seluruh manusia di pentas bumi beriman tanpa terkecuali, namun Allah memberikan kebebesan untuk menentukan keyakinan masing-masing. Selagi masih mempercayai keesaan Allah, seseorang masih disebut “muslim”, walau agamanya bukan Islam.

Baca Juga:  Keutamaan Ayat Kursi

Orang yang tertutup dari perbedaan biasanya mudah bersikap ekstrem: menghalalkan darah saudaranya sendiri. Ikatan persaudaraan tidak cukup dibatasi pada persaudaraan antar sesama agama, melainkan mencakup antar agama. Karena, kendati agamanya berbeda, mereka tetap manusia yang harus dijaga hak-haknya dan diperlakukan secara manusiawi. Islam menentang keras tindakan ekstrem semacam pembunuhan tanpa sebab yang jelas, seperti bom bunuh diri, terorisme, dan seterusnya.

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu. sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. Demikian al-Ma’idah/5: 32.

Thus, Islam agama semitik yang terbuka terhadap perbedaan dan bersikap moderat. Karena, moderasi itu menyatukan dua sisi yang tercela seperti dipersatukannya sikap pelit dan boros sehingga menjadi dermawan. Wallah A’lam bi ash-Shawab.


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Khalilullah