Menuju Dakwah Penuh Cinta dan Kelembutan

Bukankah banyak kasus kekerasan atas nama agama yang berawal dari provokasi seorang dai atau penceramah yang mengutip al-Qur'an dan al-Hadits?


0
51 shares
Int

Tak sulit kita menemui pendai yang lebih gemar menebar caci maki pada ‘pendosa’, ketimbang menebar cinta dan kelembutan kepada manusia. Dalam kalangan Islam, masjid sebagai tempat strategis untuk menebarkan nilai kebaikan, kerap juga digunakan untuk menebar provokasi dengan menyitir dalil agama. Sehingga sesuatu yang jika dinalar dinilai buruk, oleh karena diterima tanpa daya kritis masyarakat, jadi terkesan suci. Bukankah banyak kasus kekerasan atas nama agama yang berawal dari provokasi seorang dai atau penceramah yang mengutip al-Qur’an dan al-Hadits?

Fenomena ‘penista agama’ beberapa tahun yang lalu adalah contoh konkritnya, bahkan tercatat sebagai fenomena nasional. Uniknya, si penista yang merupakan Kristen, begitu menjelaskan ayat al-Qur’an yang berpotensi dipolitisir politikus, justru malah dituduh penista. Padahal, secara teologis, kata A. Syafi’i Maarif, tak ada landasannya untuk mengatakan dia sebagai penista agama. Sementara seorang publik figure muslim yang kerap berserapah dan bahkan menganjurkan untuk ‘membunuh si penista’, tidak dipersoalkan sama sekali oleh publik. Apakah spriti ‘kesukuan’ yang dulu dibabat habis oleh Rasulullah Saw. kini mulai bersemi kembali? Orang dikatakan penista karena ia bukan muslim dan mengutip ayat yang tujuannya untuk menjelaskan potensi penyalahgunaannya dipenjara, sementara muslim yang jelas-jelas menyeru untuk menghilangkan nyawa seseorang malah berlenggang kakung demikian bebasnya. Padahal, dalam hukum Islam yang diajarkan Rasulullah Saw., tak ada bedanya antara muslim, nasrani, atau pemeluk agama lain. Begitu berbuat salah dan terbukti, tak bisa lepas dari hukuman.

Pembebasan BTP yang tinggal menunggu hari merupakan fenomena yang menarik. Beliau yang dulu dijebloskan penjara lantaran dituduh sebagai penista agama, membuat surat pernyataan supaya masyarakat tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Ahok, melainkan singkatan dari nama aslinya, yakni BTP. Bisa dikatakan, BTP hendak berupaya untuk menghilangkan kebencian dalam diri masyarakat yang telanjur benci pada nama Ahok. Dengan menghilangkan kata Ahok, harapannya masyarakat tidak lagi membencinya, demi kemaslahatan bersama. Dan, jika ada orang atau kelompok yang mencoba menghidupkan kembali nama Ahok, boleh jadi memiliki niatan kurang baik. Atau bisa jadi, Ahok dijadikan sebagai ‘hantu’ untuk menakut-nakuti masyarakat.

Baca Juga:  Bersumber Dari Pendangkalan

BTP telah memberikan teladan mulia pada kita. Bahwa ia tidak ngoyo dalam menjelaskan kebenaran, melainkan mengalah demi kemaslahatan. Ia telah meletakkan cinta pada tempatnya. Ia lebih mencintai Indonesia damai, ketimbang membela diri tapi membuat gaduh masyarakat.

Kiranya cinta dan kelembutan semacam inilah yang perlu ada dan mewarnai khutbah-khutbah di manapun. Bahwa dalam mengajak pada kebaikan dan kebenaran, tidak menggunakan cara kekerasan, melainkan cinta kasih. Cinta kasih yang memancar dalam diri dai, akan memunculkan pengharapan kepada masyarakat, sekaligus tetap menjaga kerukunan mereka.

Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa Cinta dan kelembutan adalah sifat manusia, sementara amarah dan gairah nafsu adalah sifat binatang.  Hal ini bisa dimaknai bahwa manusia (dai) yang berdakwah dengan cara amarah, artinya telah mengikuti gairah nafsu. Dan, begitu telah mengikuti gairah atau gejolak nafsu, yang keluar adalah kecaman-kecaman yang menyakitkan. Lalu turunlah martabatnya sebagai manusia, hingga sampai ke tataran binatang bahkan lebih rendah lagi.

Sebaliknya, manusia (pendai) yang menebar cinta dan kelembutan, artinya telah memuliakan dirinya sendiri dan manusia pada umumnya. Bahwa semakin hari, ia akan tumbuh menjadi pribadi mulia, yang sangat manusiawi dan taat kepada Tuhannya. Sehingga, mampu menangkap pancaran arrahman dan arrahim-Nya, lalu mengejawantah pada laku hidupnya, termasuk ketika ia bendiri di mimbar sebagai khatib, penceramah, dai, ataupun sejenisnya.


Like it? Share with your friends!

0
51 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Imron Mustofa

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis lepas asal Kebumen, yang untuk sementara waktu berdomisili di Jogja.