31.7 C
Jakarta

Menjunjung Profesionalitas Menghadapi Tragedi Kanjuruhan

Artikel Trending

EditorialMenjunjung Profesionalitas Menghadapi Tragedi Kanjuruhan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Hingga saat ini, kabar duka Tragedi Kanjuruhan tak henti-hentinya ditangisi masyarakat dunia. Kerusuhan yang menewaskan ratusan orang pada 1 Oktober 2022, menjadi momen berdarah bagi ajang olahraga sepak bola di dunia, khususnya di Indonesia.

Berawal dari suporter yang kecewa atas kalahnya Tim Singo Edan di kandangnya sendiri, Stadion Kanjuruhan setelah penantian 23 tahun. Saat itu, spontan para suporter turun ke lapangan untuk memprotes pemaian Arema dan pelatihnya. Hanya hitungan detik, makin lama jumlah penonton yang turun ke lapangan semakin banyak.

Tampak terlihat, aparat kepolisian yang dibantu TNI kewalahan membendung penonton yang turun ke lapangan. Karena gagal menghalau penonton yang nekat ke lapangan, aparat kepolisian menembakkan gas air mata untuk mengendalikan keadaan. Namun, langkah petugas kepolisian itu, yang mengeluarkan gas air mata membuat suasana tidak kondusif. Penonton jadi ketakutan.

Di situasi mencekam itu, penonton ingin keluar dari stadion. Di tengah gas air mata yang mengancam dirinya, dan membikin perih matanya, para suporter dari ibu-ibu, anak-anak kecil, dan ribuan banyak para suporter lelaki berlarian mencari pintu keluar. Namun sayangnya, pintu-pintu stadion masih tertutup rapat.

Di pintu 10, dan pintu 13, para suporter berteriak minta tolong untuk dibukakan pintunya. Namun aparat masih belum melakukan langkah taktis untuk membukakan pintu karena alasan keamanan. Sebab saat itu, pemain dari Persebaya baru keluar untuk kembali ke Surabaya.

Setelah sekian lama pintu-pintu tetap tidak dibuka. Orang-orang makin berjubel. Orang-orang sudah berada di dalam satu titik. Suasana pengap. Tak tentu arah. Beberapa orang sudah pingsan. Mereka sudah tidak mengenali siapa dirinya dan siapa temannya, dan siapa orang di sampingnya. Bahkan tidak mengenali siapa yang ada di bawah kakinya. Banyak orang terinjak-injak. Mereka hanya kenal bagaimana cara menyelamatkan dirinya sendiri.

Masih tidak dibukakan pintunya, banyak orang sudah tewas. Di pintu 13 itu, adalah pintu yang paling banyak memakan korban. Karena di sanalah, menjadi satu titik tempat berkumpulnya orang-orang yang meminta pertolongan agar bisa keluar. Namun sayangnya, pintu itu, setelah sekian lama masih saja tidak terbuka. Hanya di pintu 10, pintu baru dibuka. Pintu 13 menjadi pintu berdarah, pintu penghilangan nyawa, dan pintu kematian.

BACA JUGA  Membersihkan Narasi Radikalisme di Tengah Kasus Polri

Apalagi disebut-sebut, pada Tragedi Kanjuruhan jumlah melebihi kapasitas stadion. Jumlah penonton sebanyak 42 ribu yang seharusnya hanya 38 ribu orang membuat aliran penonton keluar tersumbat. Akhirnya mereka terjepit, terinjak-injak, dan kehabisan napas hingga meregang nyawa. Namun kematian itu juga terindikasi luka-luka di bagian tubuh korban.

Tragedi Kanjuruhan menunjukkan buruknya manajemen pertandingan sepak bola di Indonesia. Kita melihat fakta-fakta yang menyakitkan. Pada momen itu, terungkap fakta bahwa adanya pengabaian akuntabilitas pertandingan, seperti jumlah penonton yang melebihi kapasitas, waktu pertandingan yang tidak sesuai arahan pihak kepolisian, penggunaan gas air mata yang tidak sesuai standar keamanan FIFA, dan kekerasan aparat, baik oleh polisi maupun TNI.

Atas tragedi ini, komentar-komentar pedas keluar. Baik komentar yang membangun, menyalahkan, mengkritik, memprotes, dan bahkan komentar-komentar nyinyir dari kelompok radikal. Tapi lepas dari itu, sudah saatnya olahrga sepak bola khususnya federasi PSSI mengevaluasi diri. Tragedi Kanjuruhan tergambar jelas wajah buruk PSSI.

Maka itu, untuk saat ini, mulai dari PSSI, bagian manajemen klub sepak bola, pengelola liga PT Liga Indonesia Baru dan para regulator, serta pihak keamanan harus berbenah diri. Serta para suporter harus juga berbenah dengan menampilkan sikap kedewasaan, kreatifitas, sportifitas, dan tahu diri. Wajah buruk Tragedi Kanjuruhan tidak boleh terulang kembali.

Hari ini, kita sepakat harus menjunjung profesionalitas dalam menyelesaikan kasus tragedi kanjuruhan. Kita memiliki beban untuk sama-sama bertanggungjawab untuk mengawal investigasi, evaluasi, dan memberikan rasa adil kepada korban.

Selain itu, kita juga harus memberikan rasa nyaman dan keamanan bagi siapa pun yang ingin memberikan kesaksian. Jangan sampai mereka-mereka diteror, ditakut-takuti dan diiming-imingi kekuasaan dan harta-benda agar mau menutup mulut. Ingat, kemanusiaan harus ada di atas itu semua.

Sekali lagi, Indonesia wajib menjunjung profesionalitas dalam menghadapi tragedi kanjuruhan. Siapa pun yang mencintai sepak bola, mencintai bangsa Indonesia, dan siapa pun yang merasa memiliki rasa kemanusiaan, sepatutnyalah mendukung profesionalitas semua pihak dalam menangani kasus Tragedi Kanjuruhan Malang. Indonesia harus bisa menuntaskan. Kita berduka atas Tragedi Kanjuruhan!

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru