Menjaga Khazanah Islam Nusantara, PMII Bisa Apa?


0
17 shares

Kenapa harus ada kata ‘menjaga’ sebelum kalimat ‘Khazanah Islam Nusantara’ ?. jelas, kata ‘menjaga’ dalam tulisan ini dapat di interpretasikan untuk sesuatu peninggalan atau warisan para leluhur dan kalimat “Khazanah Islam Nusantara” itu adalah warisan yang perlu dijaga melingkup banyak hal seperti budaya, ilmu pengetahuan, arkeologi, ekonomi, politik, hukum serta pendidikan. Dan pertanyaan selanjutnya, kenapa mengangkat tema ‘Islam Nusantara’dan apa kaitannya dengan organisasi PMII yang dituju.

Sebelum saya menyampaikan maksud atas pertanyaan itu, perlu kiranya menghetahui bahwa Islam Nusantara sendiri sudah lama diperkenalkan oleh banyak ulama Nahdiyyin, dikaji, dipresentasikan diforum-forum resmi maupun pengajian-pengajian. Ini adalah ciri khas ulama yang bernaung dalam ormas yang dikenal dengan sebutan Nahdatul Ulama, tidak saja oleh ormas NU akan tetapi oleh seluruh manusia yang sepakat atas konsep Islam Nusantara, begitupun dengan anak NU (Banom) dan organisasi se-kultur, se-amaliyah dan se-ideologis dengan NU dan jelas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau disingkat PMII juga bagian darinya.

Sejak awal berdiri PMII telah siap menjadi cucu atas ormas NU, sebab ia dilahirkan oleh anak NU (IPNU) sejak resmi berdiri 17 April 1960 dibawah asuhan Mahbub Djunaidi. Sebagai organisasi yang lahir dari tradisi, ideology, amaliyah yang sama dengan NU, PMII juga patut untuk dipertanyakan baik kepada kader bahkan sebagai organisasi dilihat dari kegiatan dan program kerja organisasi yang patut untuk turut disuarakan, dikembangkan, didiskusikan serta ditinjolkan oleh PMII dalam segala hal.

Walau masih menemui perdebatan yang tak kunjung selesai mengenai wacana PMII kembali ke NU, yang jelas penulis meyakini bahwa PMII adalah representasi NU dalam lingkup kemahasiswaan. Artinya gagasan, gerakan serta ideology PMII yang sejalan dengan NU harus dibumikan melalui kampus-kampus sebagai basis operasi organisasi. Maka, Islam Nusantara sebagai sebuah gagasan, gerakan serta identitas keber-Islam-an masyakarat Indonesia juga perlu digalakkan oleh PMII dikampus-kampus.

Baca Juga:  Maulid dan Pesan Antiradikalisme

Dorongan ini mengacu pada kondisi riil keber-Islam-an kita (masyarakat Idonesia dan kehidupan akademik dikampus) yang kian hari bergeser dari warisan para pembawa ajaran Islam ke tanah nusantara. Gus Dur adalah salah satu orang yang tercatat sebagai tokoh yang menggelorakan kembali identitas keber-Islam-an kita, dengan melihat kondisi bangsa muslim seperti di Timur Tengah yang mulai hancur oleh konflik antar umat Islam itu sendiri. Dalam banyak pandangan orang melihat konflik yang terjadi di Timur Tengah, mayoritas mengambil kesimpulan bahwa konflik terjadi atas dasar masalah kekuasaan ekonomi-politik (perebutan jabatan, penguasaan sumber-sumber minyak).

Selain itu, pandangan atas perbedaan keyakinan, tafsir atas beragama Islam yang berbeda antar umat memicu konflik persaudaraan yaitu ukhuwah Wathaniyah serta ukhwah Islamiyah. Dan tidak banyak yang menganggap perpecahan yang terjadi di timur tengah disebabkan oleh hilangnya identitas ke-Islam-an yang telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, diteruskan oleh para sahabat, tabi’in dan seterusnya sampai kepada para ulama kita yang menyebar ke nusantara.

Maka, perlu kiranya ada sebuah konsep kokoh yang dapat membendung serangan atas beberapa orang atau kelompok yang ingin mengadu-domba umat Islam itu sendiri, agar hancur serta saling meng-kafirkan sesama saudara. Ini juga yang sedang kita hadapi saat ini, kebiasaan saling mengkafirkan, menuduh sesat sangat mudah kita dengar akhir-akhir ini setidaknya memuncak pasca pilpres 2014 dan berlanjut sampai hari ini.

Identitas keber-Islam-an kita yang telah lama dibangun oleh para waliyullah, ahlul bait, kian hari mulai ditinggalkan. Membumikan Islam Nusantara menurut pengamatan penulis melihat internal ulama-ulama NU selalu dalam pengajiannya menyampaikan maksud dari Islam Nusantara itu sendiri (lihat pengajian ; Gus Mus, Habib Lutfhi Bin Yahya, Gus Muwafiq, KH. Said Aqil Siradj dan seluruh ulama NU) baik diforum akademik maupun pengajian, konsep yang sama dengan ciri khas yang berbeda, konsep itu menurut penulis adalah Islam Nusantara.

Baca Juga:  Melindungi Perempuan dari Ancaman Radikalisme

Gus dur diakui atau tidak telah memberi semangat terutama kepada penerus untuk memberi sentuhan ilmiah agar Islam Nusantara dapat diperhitungan sebagai karya ilmiah yang patut untuk dikaji, itulah yang sepengetahuan penulis sedang dilakukan oleh banyak tokoh NU, terutama  KH. Ahmad Baso dan KH. Agus Sunyoto dalam membumikan Islam Nusantara sebagai sebuah pengetahuan yang layak mendapat tempat dalam kajian-kajian akademik.

Islam Nusantara melalui ‘tangan’ KH. Ahmad Baso, Islam Nusantara mendapat tempat dikalangan akademisi dan mahasiswa. Literatur Islam Nusantara yang hanya beberapa kalangan ulama NU yang tahu, sekarang melalui buku berbahasa Indonesia seperti, Agama NU Untuk NKRI, Islam Pasca Kolonial, NU Studies, Pesantren Studies, Islamisasi Nusantara, Islam Nusantara jilid I, cukup memberi gambaran mengenai Islam Nusantara sebagai identitas keber-Islam-an masyarakat Indonesia yang dibawa oleh para Waliyullah.

Hal ini menjadi gerakan intelektual kalangan NU untuk membumikan Islam Nusantara sebagai identitas kita. Maka, PMII yang memiliki semangat yang sama dengan NU juga perlu mengambil bagian dalam dinamika membumikan Islam Nusantara dizaman ini. Kondisi bangsa Indonesia mengharuskan untuk bahu- membahu mengembangkan Islam Nusantara serta mendakwahkannya ke masyakarat, mengingat identitas ke-Kita-an kita yang kini mulai redup (baca ; Al- Jabiri, Eropa Dan Kita).

Oleh: Hilful Fudhul, Pimpinan Alumni Pondok Pesantren Darul Furqan Kota Bima Dan Demisioner Ketua Rayon PMII Pondok Syahadat.


Like it? Share with your friends!

0
17 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.