30.3 C
Jakarta

Menjadi Pahlawan Hari Ini dengan Bergiat dalam Kontra-Khilafahisme

Artikel Trending

Milenial IslamMenjadi Pahlawan Hari Ini dengan Bergiat dalam Kontra-Khilafahisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Hari Kamis (10/11) kemarin, Indonesia semarak dengan peringatan Hari Pahlawan. Banyak kawan, dalam sosial media mereka, mengunggah poster terkait dengan caption heroik tentang kepahlawanan itu sendiri. Namun, alih-alih ikut mengunggah twibbon, saya justru berpikir, siapa pahlawan hari ini? Apakah pahlawan hanya mereka yang memperjuangkan kemerdekaan? Bagaimana dengan orang yang berusaha merawat kemerdekaan? Apakah mereka pastas digelari pahlawan?

Presiden Jokowi melalui Twitter-nya menegaskan, generasi penerus pahlawan harus tetap dan senantiasa setia menjaga kemerdekaan. Artinya, gelar kepahlawanan itu sejatinya masih berlangsung hingga sekarang bahkan sampai nanti. Kepahlawanan adalah soal loyalitas dan militansi, dan itu secara kontinu selama bangsa ini berdiri. Jika dulu tantangan yang harus dilawan adalah kolonial, hari ini kolonialisme itu masih eksis, namun dalam wujud lain.

Penjajahan hari ini bukanlah soal perang fisik, melainkan perang ideologi. Yang dicuri penjajah saat ini bukanlah rempah-rempah, namun kepercayaan masyarakat terhadap bangsanya sendiri. Jadi sekalipun KAI Cirebon suguhkan rampak kendang anak di Hari Pahlawan, 27 Pesantren di Ponorogo ikuti lomba futsal bersarung, upacara di berbagai kementerian dan lembaga digelar, itu semua sangatlah belum cukup. Tak sekadar seremonial, negara ini butuh perisai ideologis yang militan.

Apa maksud perang ideologi tersebut? Tidak lain adalah upaya menjajah Pancasila dan menggantikannya dengan ideologi baru, yaitu ideologi transnasional. Ideologi tersebut punya ragam nomenklatur. Beberapa menyebutnya islamisme, fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme. Dan ada satu lagi satu nomenklatur yang boleh jadi lebih merepresentasikan orientasi mereka, yakni khilafahisme. Ideologi itulah ancaman Indonesia hari ini.

Jika dahulu menjadi pahlawan ditempuh dengan cara melawan siapa pun yang mengancam Indonesia, sebagaimana para pahlawan memerangi para kolonial, maka hari ini pahlawan dengan arti tersebut laik disematkan kepada para pelaku kontra-khilafahisme tersebut. Demikian karena kontra-khilafahisme adalah upaya melawan siapa pun yang mengancam ideologi negara ini. Dengan bergiat dalam kontra-khilafahisme inilah, seseorang pantas digelari pahlawan; pahlawan dalam maknanya yang aktual.

Memaknai Hari Pahlawan

Hari Pahlawan ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno. Sebagaimana disebutkan dalam Pedoman Hari Pahlawan Tahun 2022, ia ditujukan untuk mengenang pertempuran besar antara tentara Indonesia dengan pasukan Inggris yang terjadi di Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian menjadi simbol perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Pertempuran 10 November menjadi perang terberat pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Latar belakang pertempuran dimulai pada 31 Agustus 1945 saat pemerintah menyerukan bahwa mulai 1 September, bendera merah putih dikibarkan di seluruh Indonesia. Para pejuang pun memberanikan untuk menurunkan dan merobek warna biru pada bendera Belanda yang dikibarkan di Hotel Yamato, pada 19 September 1945.

Setelahnya itu, mereka menaikkan kembali bendera dengan menyisakan warna merah dan putih saja. Pasukan sekutu, tentara Inggris dan Belanda, atau dikenal NICA, pun mulai masuk ke Surabaya pada 25 Oktober, dan melahirkan peperangan pertama dua hari setelahnya, 27 Oktober 1945. Dalam kondisi bentrokan di beberapa titik, pihak Indonesia dan pihak Inggris sepakat untuk gencatan senjata, meskipun ketika itu pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, Brigjend Mallaby, tewas.

BACA JUGA  R20: Ulama sebagai Pemersatu dan Peneguh Kohesi Sosial?

Di bawah naungan Mansergh, tentara sekutu kemudian mengeluarkan ultimatum kepada warga Surabaya pada 10 November 1945 buntut kemarahan atas terbunuhnya Mallaby. Katanya, jika mereka tidak menaati perintah, tentara AFNEI dan administrasi NICA akan menggempur Kota Surabaya dari darat, laut, dan udara. Tetapi, para pemimpin perjuangan, arek-arek Surabaya, dan segenap rakyat tidak mengindahkan ancaman tersebut.

Hal itulah yang membuat pertempuran terbesar di Surabaya, 10 November 1945, pecah. Pertempuran tersebut memakan waktu tiga minggu. Salah satu tokoh yang berperan besar untuk mengobarkan semangat perlawanan rakyat Surabaya, ketika itu, adalah Bung Tomo. Perang 10 November menewaskan 6.000-16.000 orang dari pihak Indonesia, dan hanya 600 hingga 2.000 orang dari pihak sekutu. Namun berkat perjuangan tersebut, Inggris akhirnya mundur dari peperangan.

Satu tahun setelahnya, 10 November 1946, Presiden Sukarno menetapkan setiap tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Ia menjadi momentum mengenang gugurnya para pahlawan dalam pertempuran Surabaya. Karena itu juga, Kota Surabaya dikenang sebagai Kota Pahlawan. Namun hari ini, apakah peringatan Hari Pahlawan hanya dikenang sebagai acara seremonial belaka? Jelas tidak. Hari Pahlawan harus menjadi titik tolak kontinuitas jiwa kepahlawanan. Itu intinya.

Jika dulu penjajah Indonesia yang harus dilawan itu sangat banyak, yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, dan Jepang, maka hari ini penjajah ideologis di negara ini juga banyak kelompok. Namun yang banyak itu bisa dikelompokkan jadi satu, yaitu pejuang khilafahisme. Ada HTI, ada Ikhwanul Muslimin, ada ISIS, bahkan Al-Qaeda. Belum lagi ada JI, JAD, MMI, MIT, JAT, JAS, dan lain-lain. Mereka semua ingin menduduki Indonesia dan mengganti sistem pemerintahannya menjadi khilafah.

Khilafah Ancaman Terkini

Itulah mengapa ancaman teraktual bagi bangsa ini adalah khilafahisme. Penganutnya, yang notabene lintas kelompok, dan sama-sama tidak menyukai Indonesia bahkan menganggapnya negara kafir dan bersistem thaghut, berbondong-bondong ingin merombak Indonesia. Persatuan dan kesatuan, kebinekaan, dan Pancasila, bagi pejuang khilafahisme itu tidak ada gunanya dan harus dilawan. Mereka merasuk ke sana-sini, mengindoktrinasi umat, dan mengobrak-abrik Indonesia dengan segala cara.

Berlandaskan itulah, menjadi pahlawan hari ini bisa ditempuh dengan bergiat dalam kontra-khilafahisme. Apa pun risikonya, meskipun dihujat sampai dipersekusi, sebagai para pahlawan dulu ditembak sampai mati. Semangat kontra-khilafahisme tidak boleh luntur sekalipun dan, untuk senantiasa menjaga spirit, Hari Pahlawan mesti diorientasikan untuk mengaktualisasi jiwa patriot mereka. Bergembiralah para pegiat kontra-khilafahisme. Anda sekalian adalah pahlawan kekinian.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru