30 C
Jakarta
Array

Menjadi Bijak di Era Hoax

Artikel Trending

Menjadi Bijak di Era Hoax
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Menjadi Bijak di Era Hoax

Ungkapan bijak Arab pernah mengatakan, al-khabar ka  al-ghubâr, suatu kabar informasi itu laksana debu. Dalam ilmu sastra Arab ada istilah kalâm al-khabar yang gampangnya diartikan sebagai ungkapan kalimat yang berisi kabar atau berita. Oleh pakar bahasa Arab al-khabar ini didefinisikan dengan suatu informasi yang mungkin mengandung kebenaran atau kebohongan. Kemungkinan fifty-fifty antara benar dan bohong ini memang ada pada setiap informasi maupun berita apapun dan dari sumber manapun. Sehingga tak pelak informasi yang bersifat keagamaan memiliki filterter sendiri sebagaimana ilmu mushthalah yang berfungsi untuk memilah setiap informasi yang bersumber dari Nabi Muhammad saw, mana yang valid (sahîh) dan mana yang diragukan (dhaʻîf). Bahkan sunah atau hadis yang disandarkan pada Nabi saw tidak jarang kebenarannya dipertanyakan. Sehingga tidak jarang informasi palsu (mawdhûʻ) disebarluaskan atas nama baginda Nabi saw.

Kabar burung atau yang dewasa ini popular dengan sebutan hoax memang sudah ada sejak dulu kala. Hanya saja intensitasnya saat ini sangat kuat dengan perangkat media sosial saja sudah cukup meng-geger-kan dunia dengan budaya coppas dan share-nya. Namun sayangnya kwantitas informasi palsu ini tidak diimbangi dengan filter-filter berlapis. Sehingga masyarakat mudah sekali tergiring dan ‘tergoreng’oleh isu yang belum jelas kebenarannya. Hematnya, kini kita sudah berada dalam status darurat siaga satu untuk menyiapkan filter yang dapat menyaring setiap informasi yang diterima. Baik itu ‘filter makro’ yang menjadi tugas wakil-wakil kita di parlemen melalui undang-undangnya maupun filter mikro yang harus dipasang di setiap hati nurani masing-masing setiap insan.

Lalu apa saja yang seharusnya menjadi filter mikro bagi kita dari serangan informasi yang semakin tak terkendali? Kita harus menempuh beberapa langkah diantaranya:

  1. Cek dan ricek (tahqîq). Setiap informasi dan berita penting yang kita terima selayaknya harus kita cek dan ricek terlebih dahulu; Dari mana sumber beritanya? Siapa yang menyebarluaskan informasi itu? Siapa saja sosok yang ada dalam informasi tersebut? Apabila informasi tersebut mengalir kepada kita tanpa adanya sumber yang jelas atau tidak ditemukan atas nama yang bertanggungjawab maka itu layak untuk dicurigai kebenarannya. Jika sumber sudah jelas makayang perlu dicek adalah orang-orang atau kelompok yang mem-viral-kan berita tersebut, apakah bisa dipercaya, jujur dan tidak pernah bohong. Jika lolos maka terakhir yang perlu kita teliti adalah sosok yang ada dalam informasi tersebut. Apakah sosok tersebut memungkinkan untuk dijadikan korban kebohongan baik secara politik, maupun sosial ataupun ekonomi? Jika memungkinkan maka wajib menempuh langkah selanjutnya.
  2. Klarifikasi atau gampangnya meminta penjelasan dari yang bersangkutan (tabayyun). Al-Quran melalui QS al-Hujurat [49]: 6 secara jelas memberikan arahan kepada kita untuk ber-tabayyun kepada pem-viral yang menyebarluaskan informasi. Lalu jika klarifikasi informan dirasa cukup, maka perlu diperbandingkan dengan klarifikasi secara langsung dari yang bersangkutan, yakni sosok yang menjadi objek berita. Jika dari langkah ini belum ditemukan kejelasan dan masih dirasa abu-abu, maka kita harus melakukan langkah selanjutnya.
  3. Yap, diam adalah emas, demikian ungkapan hikmah yang sering kita dengarkan. Nabi saw sendiri mengajarkan untuk menjaga lisan dengan diam tatkala kita tidak mampu mengeluarkan kata-kata dan informasi yang positif (HR. Bukhari Muslim). Bahkan sebagian ulama salaf yang beraliran sufi rela meng-emut batu di mulut mereka agar tidak bicara negatif. Langkah ini merupakan langkah terbaik yang seharusnya dilakukan oleh setiap insan yang tidak punya kapabilitas untuk bicara yang ia tidak diketahui hakikat kebenarannya. Jika diam dirasa tidak cukup, maka perhatikan langkah selanjutnya.
  4. Sebarkan dengan syarat. Pertama, pastikan konten informasi yang disebarkan memuat nilai positif, bukan mengajak kebencian dan permusuhan. Kedua, pastikan sumber informasi tercantum pada berita tersebut. Ketiga, pastikan informasi/berita tersebut tidak mengganggu kelompok atau perseorangan tertentu.

Akhirnya, setiap informasi apapun yang kita sebarkanakan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Oleh karena kita wajib memilih dan memilah berbagai informasi secara selektif. Tidaklah semua berita seperti kenyataannya (Laisal khabar ka al-mu’ayanah) demikian ungkapan hikmah Arab.

Jangan sampai kita sebagai umat Nabi Muhammad dicap sebagai pendusta sebab Nabi saw pernah berpesan, “ Cukup dianggap dusta, menceritakan apapun yang didengar” (HR. Muslim). Lalu relakah kita melepaskan kejujuran dalam hati nurani kita demi menyebarkan informasi tidak jelas? Semoga saja tidak. [Ali Fitriana]

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru