25.6 C
Jakarta

Menguliti Ayat Jihad serta Kontradiksinya terhadap Terorisme

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuMenguliti Ayat Jihad serta Kontradiksinya terhadap Terorisme
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Meluruskan Radikalisme Islam, Penulis: Dr. Ali Syu’aibi dan Gills Kibil, Penerjemah: Muhtarom, Lc.Dpl, Penerbit: Duta Aksara Mulia, Tebal Buku: 332 halaman, ISBN: 978-602-96415-1-6, Peresensi: Fathorrozi, M.Pd.

Harakatuna.com – Belakangan ini fitnah dan fatwa-fatwa yang tidak bertanggung jawab bermunculan untuk memecah persatuan umat. Umat Islam saling berhadapan dengan menghunuskan pedangnya masing-masing. Kondisi ini ditambah lagi dengan kenaifan individu yang berniat untuk menyiasati agama untuk kepentingan pribadi, terlebih yang berkenaan dengan kekuasaan, ketenaran, dan materi.

Para musuh Islam mengusik umat Islam dengan membakar emosi mereka melalui penawaran konsep jihad perang. Mereka menciptakan bom waktu yang dapat meledak setiap saat dan cenderung memakan korban dari orang-orang yang tak berdosa. Cara mereka dalam mengaburkan kaidah Islam dan menyesatkan anak muda dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan terhadap Islam dan kaum muslimin sekaligus.

Seperti dalam mengartikan kata jihad pada surah al-‘Ankabut ayat 6: “Waman jahada fainnama yujahidu linafsihi. Innallaha laghaniyyun ‘anil ‘alamin.” (Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam). Kaum radikal memaknai kata jihad ini dengan perang suci (the holy war). Inilah bahayanya jika seorang muslim salah kaprah dalam mengartikan ayat yang dalam istilah mereka disematkan sebagai ‘ayat pedang’. 

Jika dilihat dari hasil pemikiran mereka, akan banyak sekali ditemukan sejumlah kesalahpahaman yang sangat fatal. Lebih parahnya lagi, seradikal apa pun aksi yang dilancarkan oleh sejumlah gerakan yang mengatasnamakan Islam tersebut, mereka tetap meyakini keabsahan dari setiap tindak-tanduknya.

Selain itu, kalau pun aksi mereka diakhiri dengan kematian seseorang yang menjadi target, dalam persepsi mereka darahnya sudah distempel seratus persen halal. Penyimpangan-penyimpangan seperti inilah yang akan bermunculan jika seseorang dalam memahami sesuatu hanya setengah-setengah, di mana nash dipotong dan dikutip seiring dengan kepentingan yang menjadi kebutuhannya.

Jihad tidaklah identik dengan perang dan pertumpahan darah. Namun begitu, seseorang apabila telah yakin dengan pekerjaannya, maka ia akan melakukan pekerjaan tersebut dengan bersungguh-sungguh. Seorang petani yang selalu serius dalam bercocok tanam dan seorang pelajar yang terus fokus dengan pelajarannya, maka berarti ia telah mengamalkan nilai jihad. Jihad dapat dilakukan dengan aplikasi teknis dari mujahadah, yaitu sebuah upaya yang dilakukan untuk selalu menjadi yang terbaik.

Dewasa ini, fitnah yang banyak berkembang di antara umat Islam adalah kesalahan dalam menakwil sejumlah ayat tertentu. Kejahatan ini disengaja agar dapat menjadi sarana pendukung bagi kepentingan politik yang mengarah kepada pencapaian materi keduniaan. Kejahatan ini melahirkan distorsi pemikiran Islam. Alhasil, komunitas sosial Islam akan terpecah-belah (hlm. 282).

BACA JUGA  Menyingkap “Warisan Bermasalah” Inspirasi Radikalis-Teroris

Lebih lanjut, dalam buku Meluruskan Radikalisme Islam ini Dr. Ali Syu’aibi dan Gills Kibil selaku penulis menyatakan bahwa agama bukanlah dogma kekerasan dan perang. Malah sebaliknya, agama adalah dogma untuk keadilan dan kewelasasihan. Dakwah Islam berlaku universal, dengan tujuan membawa kebaikan kepada seluruh umat manusia. Untuk itu, Allah Swt memerintahkan Rasul-Nya untuk menyeru dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Nahl ayat 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl: 125).

Sementara aksi terorisme adalah bentuk tindak kekerasan yang bertentangan dengan kemanusiaan dan peradaban. Yang menjadi latar belakang pemikirannya adalah dogma setan yang menyesatkan. Banyak cara yang dilancarkan untuk aksi terorisme, seperti pembunuhan, penculikan, peledakan bom, dan lainnya dalam bentuk kekerasan yang sama sekali bertolak belakang dengan nilai jihad dalam Islam. Karena konsep Islam, mengembangkan mekanisme ajarannya dari toleransi dan hikmah.

Terorisme adalah satu bentuk kerusuhan yang dilancarkan oleh individu, kelompok atau pun negara tertentu untuk menganiaya manusia. Strategi teknis yang dicanangkan meliputi ancaman dan penganiayaan ilegal dan segala bentuk aksi kekerasan atau pun ancaman kekerasan yang dilancarkan untuk kejahatan.

Tujuannya adalah untuk menciptakan nuansa penuh kecaman dan rasa takut akan ancaman bahaya. Selain itu, strategi teknis yang dikedepankan terorisme adalah tindakan yang dapat mengancam keselamatan lingkungan atau pun fasilitas umum dan khusus. Dengan kata lain, ilustrasi kerja mereka mengarah kepada kerusakan di muka bumi.

Sedangkan syariat Islam adalah risalah yang melarang setiap aksi perusakan di muka bumi. Bukan hanya itu, kehadiran Islam memberikan sejumlah risalah yang mengarahkan umatnya untuk bertindak preventif, sekaligus berlaku sebagai pengawas atas setiap aksi kejahatan yang dilancarkan untuk kerusakan di muka bumi. 

Islam sejati selaras dengan sifat simpatik dan ajakan kepada ketaatan. Generasi muda yang diarahkan untuk perang oleh para teroris, seharusnya dapat menjadi generasi yang mempunyai pemahaman keislaman yang mapan.

Potensi mereka selazimnya diarahkan untuk dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk kemajuan komunitas sosial Islam, sehingga dapat menyokong laju perkembangan ekonomi masyarakat. Hal ini menjadi penting, sebab kebanyakan negara dengan mayoritas pemeluk agama Islam adalah negara-negara bekas jajahan (hlm. 285).

Pendek kata, tindakan merusak adalah kejahatan. Pelaku perusakan berarti penjahat. Sementara jihad adalah berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan. Oleh karena itu, Islam mengajak kita untuk menjadi baik dan melarang kita untuk tidak kompromi dengan penjahat.

Fathorrozi, M.Pd
Fathorrozi, M.Pd
Pegiat literasi dan pengasuh Qarnul Islam Ledokombo Jember

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru