Menguatkan Kembali Pancasila di dalam Sekolah

Persoalan besar antar masyarakat maupun agama tentunya dapat diselesaikan juga dengan musyawarah, tinggal bagaimana pihak bertikai mau melakukannya


0
175 shares

Pancasila adalah dasar negara dan ideologi bangsa yang menjadikannya sebagai pandangan hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila begitu penting dan sangat penting bila kita mampu memaknai, mencermati dan menjalankannya dalam kehidupan dengan baik dan benar. Permasalahan yang sedang terjadi saat ini adalah banyaknya pihak-pihak yang melupakan dan tidak menjalankan nilai-nilai Pancasila itu.

Lihatlah paham radikal begitu gampangnya masuk dalam pikiran dan hati sebagian orang. Begitupun ujaran kebencian, berita hoaks dan intoleransi masih menghinggapi kehidupan. Artinya, Pancasila masih belum benar-benar diresapi oleh sebagian orang dan dijadikan pandangan hidup. Mengapa begitu? Hal itu karena penguatan nilai-nilai Pancasila sejak dini belum ditanamkan secara kuat dan kadang tidak dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, amarah maupun emosi masih sangat kental menguasai pikiran dan hati seseorang. Ketika sudah emosi maupun amarah memuncak, maka tak dipikirkan lagi aturan, nilai dan norma yang berlaku. Terjadilah aksi kekerasan fisik dan intoleransi.

Terkait itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkapkan pihaknya sedang mengkaji kemungkinan penerapan kembali pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di bangku sekolah. Rencananya, PMP mulai diajarkan kembali pada tahun 2019. Dasar Kemendikbud memasukkan kembali PMP dalam kurikulum sekolah untuk menekan munculnya paham radikalisme dan berbagai ideologi lain yang bertentangan dengan norma Pancasila sebagai dasar negara.

Tindakan nyata

Pancasila itu memang sangat penting ditanamkan dalam setiap pikiran dan hati masyarakat. Karena tindakan yang berdasarkan Pancasila akan mencerminkan perilaku yang baik, santun, menghormati, dan mencintai sesamanya. Namun, penulis berpendapat bahwa tak perlu pemerintah harus memasukkan pelajaran khusus Pancasila itu kepada peserta didik atau siswa/siswi.

Kita ketahui, sudah ada pelajaran namanya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) dan dikenal juga Pendidikan Kewarganegaraan. Lebih baik, PMP tadi dimasukkan lebih detail kedalam pelajaran tersebut dengan disertai guru atau dosen yang mumpuni dan profesional mengenai pelajaran tersebut.

Baca Juga:  Apa Kabar Pancasila(is)?

Perlu diingat pula, dalam mengamalkan Pancasila itu tidak bisa hanya mengandalkan teori saja, namun prakteknya dikesampingkan. Kalau hanya berkutat pada teori yang terjadi nanti seperti istilah “Masuk Kuping Kiri Keluar Kuping Kanan”. Artinya, PMP tersebut hanya sekilas saja diingat, tetapi akan hilang beberapa waktu kemudian.

Alangkah baiknya teori yang dipelajari disertai sebuah praktek atau tindakan nyata. Mengapa? Hal itu karena dalam praktek akan lebih memudahkan siswa/siswi, mahasiswa maupun masyarakat cepat memahami nilai-nilai Pancasila tersebut. Pancasila pun bukan sekedar teori saja, tetapi wajib dipraktekkan dalam membina kerukunan berbangsa.

Kemendikbud baiknya dapat menyusun sebuah langkah atau kebijakan berupa mengajak para siswa/siswi, mahasiswa maupun masyarakat untuk lebih aktif berperan di masyarakat, turun ke lapangan berbaur dengan masyarakat lainnya yang berbeda suku, agama, ras dan antargolongan. Di lapangan, terutama para siswa diajarkan dan dicontohkan tindakan yang Pancasilais.

Sebagai contoh, siswa/siswi diajarkan bertutur kata yang baik dan sopan terhadap sesama. Diajarkan bersikap toleran, meskipun berbeda ajaran agama dan pandangannya. Mampu memahami kondisi suku, agama, ras dan antargolongan orang lain serta diajak berdiskusi bersama baik tentang pendidikan, budaya, agama dan bidang ilmu lainnya.

Diajak pula mengenali lebih mendalam ajaran dan kepercayaan agama lain serta diajak berpandangan moderat bila ada perbedaan ajaran agama. Selain itu, perbedaan pendapat yang terjadi baiknya tidak menjadikan keributan maupun emosi satu dengan lainnya. Sebaiknya, dijadikan suatu kekayaan demokrasi, dimana setiap orang bebas berpendapat.

Setelah itu, dirumah, melalui orangtua pun kembali dikuatkan kembali nilai-nilai Pancasila itu kepada anak-anaknya. Tunjukkan sikap yang berdasarkan nilai Pancasila dan ajarkan anak-anak untuk mencintai sesamanya tanpa memandang statusnya. Orangtua harus mengajarkan kebaikan bagaimana membina hubungan persaudaraan yang baik. Cara berbicara dan bersikap serta memahami ajaran agama orang lain. Hal itu rasanya lebih baik, dibandingkan sekedar pelajaran yang hanya teori saja. Praktek rasanya lebih penting, karena Pancasila diterapkan dalam kehidupan nyata.

Baca Juga:  Tokoh HTI Bicara Khilafah, Pancasila dan UUD 45

Menahan emosi

            Melihat kejadian intoleransi, contohnya pembakaran gereja, tawuran maupun tindakan intoleransi lainnya dapat disebabkan emosi yang memuncak. Siapa sangka hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga seperti kata peribahasa. Hanya persoalan sepele mampu membuat orang itu bertengkar bahkan saling membunuh dan merusak.

Begitulah yang terjadi bila kita melihat kasus intoleransi saat ini. Banyak hal yang mampu membuat orang lain menjadi intoleran terutama hanya karena emosi. Dengan emosi melupakan apa itu Pancasila, persaudaraan dan persatuan. Ketika sudah emosi memuncak, maka pikiran tak lagi jernih, hanya fisik yang bermain. Oleh karenanya, sebab akibat dari emosi itu harus diredam dengan sebuah sikap atau perilaku yang santun di masyarakat. Bila ada masalah sedikit, baiknya ada upaya bermediasi maupun bermusyawarah untuk mufakat.

Persoalan besar antar masyarakat maupun agama tentunya dapat diselesaikan juga dengan musyawarah, tinggal bagaimana pihak bertikai mau untuk melakukannya. Sebab itu, didikan di sekolah, rumah maupun di masyarakat itu penting. Ajari anak-anak untuk mengerti keadaan orang lain, sikap maupun perilakunya. Jangan bertindak gegabah. Berpikir dulu baru bertindak. Ditanamkan saling mengasihi dalam perbedaan maupun bila ada salah kata dan tindakan. Penguatan Pancasila sejak dini itu penting dan caranya tidak hanya sekedar mata pelajaran maupun teori saja, tetapi didikan dan praktek di masyarakat itu lebih penting.


Like it? Share with your friends!

0
175 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
juandi