29.4 C
Jakarta

Mengikuti Ulama Moderat dan Memberantas Ustad Ekstremis

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMengikuti Ulama Moderat dan Memberantas Ustad Ekstremis
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Membandingkan ulama moderat dengan ustad Islamis ekstremis ini merupakan suatu hal yang menarik belakangan ini. Terutama, virus Talibanisme yang terus membuncah di Indonesia. Indikatornya dapat dilihat dari peristiwa perusakan dan pembakaran masjid Jemaah Ahmadiyah di Sintang Kalimantan Barat oleh 130-an orang.

Jika ditelusuri lebih jauh, embrio dari pelbagai peristiwa intoleransi dan separatisme di atas panggung demokrasi karena munculnya ustad Islamis ekstremis yang kerap menebar Islam ekslusif. Biasanya, kelompok ini dipresentasikan oleh organisasi yang beranggapan bahwa Pancasila merupakan ideologi thaghut misalnya. Sedang, ulama moderat dipresentasikan oleh organisasi seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Gambaran Umum

Agar kita mudah memahami perbedaan keduanya maka, perlu kita berpijak pada gambaran umum yang telah diurai oleh pengamat sosial politik Abdillah Toha (2017). Menurutnya, ada tiga ciri yang membedakan keduanya pertama, muslim (ulama) moderat ialah orang yang sibuk mengurus imannya sendiri. Sedang, muslim (ustad) ekstremis sibuk mengurusi iman atau keyakinan orang lain.

Kedua, muslim moderat bergantung dan mengembalikan segala sesuatunya kepada Tuhan. Adapun muslim ekstremis, bergantung kepada kelompok, mazhab dan alirannya. Terakhir, muslim moderat berupaya agar dia dan orang lain masuk surga. Sementara, muslim ekstremis senantiasa berupaya memastikan orang lain masuk neraka.

Berdasar pada klasifikasi di atas maka, dikatakan ulama moderat karena mereka menyebarkan Islam dengan menampilkan wajah Islam yang ramah dan tentunya mereka memiliki pemahaman Islam yang inklusif. Berbeda dengan ustad Islamis ekstremis yang kerap memunculkan wajah Islam yang intoleran dan selalu berupaya menjadikan Indonesia negara Islam versi mereka.

Pada titik ini, jelas bahwa jalan yang ditempuh oleh ulama moderat dan ustad Islamis ekstremis ini cukup diametral. Namun, dalam amatan saya, sekalipun ciri mereka terdapat jarak tetapi tidak pada cara pengimplementasian visi politiknya. Benarkah demikian?

Pendekatan Budaya

Dugaan saya ini dapat dibenarkan jika kita merujuk pada karakteristik ulama-ulama moderat di kalangan NU dan Muhammadiyah yang mengekor pada tokoh muslim terdahulu seperti Wali Songo (Wali Sembilan). Diterimanya mereka dan Islam sekaligus oleh masyarakat kala itu — hingga sekarang — karena mereka memiliki cara unik dalam menyebarluaskan Islam yakni, menggunakan pendekatan budaya. Artinya, mereka mengenalkan Islam melalui budaya budaya lokal. Hal ini sebagaimana diperankan oleh Sunan Kalijaga.

BACA JUGA  Radikalisme di Awal Penyebaran Islam bukan Sunnah yang Harus Disemaikan

Kegemilangan para ulama moderat ini tampaknya banyak diadopsi oleh ustad Islamis ekstremis belakangan ini. Mereka juga menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarluaskan pemahaman keislaman versi mereka. Hanya saja, objeknya terbatas pada kalangan milenial yang memiliki ciri ketergantungan terhadap teknologi dan gadget misalnya, kata Hatim Ghazali (2019).

Fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh ustad Islamis ekstremis yang pada gilirannya mereka kerap berdakwah menggunakan dan/atau memanfaatkan kecepatan arus teknologi dan informasi seperti YouTube misalnya. Alhasil, kehadiran mereka diterima oleh generasi muda Indonesia. Namun sungguh ironi jika mereka harus belajar agama tidak mendapatkan guru yang tepat.

Yang Moderat Tampil

Oleh sebab itu, kelompok yang moderat harus tampil menyeimbangi kelompok yang menganjurkan kebencian, intoleransi hingga terorisme. Disadari atau tidak, upaya penanggulangan radikalisme-terorisme misalnya, tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui ranah penegakan hukum. Oleh karenanya, counter ideologi dilakukan dengan memoderasi narasi radikal adalah salah satu jawabannya.

Perlu dicatat, kelompok Islamis ekstremis adalah kelompok yang dapat berkembang dan berevolusi sepanjang era digitalisasi. Menurut Prihandoko (2021), mereka mengambil keuntungan dari meningkatnya perdagangan global, pergerakan uang yang cepat, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, serta memiliki posisi yang sangat cepat untuk pertumbuhan dan evolusi mereka. Artinya, mereka berhasil beradaptasi dengan kebudayaan dewasa ini.

Maka jangan heran apabila ustad-ustad Islamis ekstremis ini dengan konten-konten keagamaan yang radikal dan ekstrem ini menjadi mudah dikonsumsi tanpa ada konsultasi dengan otoritas-otoritas keagamaan tradisional yang ada. Akibatnya, pemikiran keagamaan sebagian kelompok milenial cenderung radikal dan ekstrem.

Itulah sebabnya, Noorhaidi Hasan (2020) mengatakan, era digitalisasi ini tidak hanya membawa kemaslahatan bagi kita melainkan era yang pada akhirnya menjungkirbalikkan peran ulama moderat. Menurutnya lagi, era inilah yang disinyalir turut membantu tumbuh-kembangnya virus radikalisme di jagat maya ini.

Dengan demikian, inilah alasan mengapa para ulama moderat perlu tampil sebagai pilar moderatisme di Indonesia. Wallahu’alam.

Saiful Bari
Alumnus Program Studi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juga, pernah nyantri di Ponpes Al-falah Silo, Jember. Kini menjadi Redaktur Majalah Silapedia.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru