Menghormati Ulama, Menjaga Indonesia


0
6 shares
Ist.

Ketidakhadiran ulama di suatu negeri niscaya akan menyebabkan kehancuran. Sebab ulama merupakan tiang utama untuk menjaga moralitas masyarakat. Maka, eksistensi ulama di Indonesia harus disyukuri sekaligus diiringi dengan sikap penghormatan terhadap mereka.

Imam Syafii pernah ditegur karena begitu tawadhu kepada ulama. Kemudian beliau berkata “Aku merendahkan diriku kepada para ulama, maka mereka pun memuliakanku. Seseorang tidak akan dimuliakan jika ia tidak merendahkan dirinya“. Imam Ahmad bin Hanbal pun memiliki sikap yang sama. Beliau berkata kepada Khalaf al-Ahmar bahwa “Aku tidak akan duduk kecuali di hadapanmu. Sesungguhnya kami telah diperintahkan supaya bersikap tawadhu kepada orang yang kami belajar ilmu darinya” (Ensiklopedi Adab Islam, 2007:186). Sikap dan keteladanan seperti inilah yang perlu ditiru dan dijaga oleh kita semua.

Meskipun begitu, kita perlu dilakukan gugatan kritis terhadap terminologi ulama. Poin ini penting, sebab -di era post truth ini- terjadi perebutan identitas ulama. Mereka yang sejatinya ulama, disingkirkan oleh orang-orang yang mendaku diri sebagai ulama. Sementara orang-orang yang sejatinya bukan ulama, mendadak dipuja sebagai ulama. Masyarakat akhirnya menghadapi kebingungan dalam menentukan, mana ulama yang asli dan mana ulama yang jadi-jadiaan. Antara ulama yang berjuang untuk mencerdaskan umat, dan ulama yang berjuang untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja. Mereka yang digerakkan oleh cahaya Ilahi, dengan mereka yang digerakkan oleh hawa nafsu. Untuk mengatasi hal ini, perlu dikenali ciri dan sifat ulama yang sebenarnya.

Ulama yang sesungguhnya pasti sikap dan perilakunya selalu menyejukkan. Wajahnya meneduhkan dan perkataannya menenangkan. Saat berbicara, para pendengarnya seakan terbius dan tidak mau beranjak dari tempatnya. Tidak ingin berpaling sedetik pun. Ajaran yang keluar dari lisannya mampu menyatukan dan mengayomi masyarakat. Perilakunya pun sesuai dengan apa yang disampaikan kepada umat. Ulama sejati biasanya selalu mengambil posisi netral. Tidak ke kanan dan tidak ke kiri. Tujuannya, semakin banyak masyarakat yang mendengarkan dan mengamalkan ajaran yang telah disampaikan. Sebab ketika ulama telah berpihak, sama saja menutup celah bagi kebaikan yang lebih besar. Selain itu, ulama yang baik selalu mengayomi seluruh lapisan masyarakat. Tua, muda, pekerja, pengangguran, dsb. Bahkan golongan yang dipandang hina oleh masyarakat pun tetap dirangkul agar dapat didak wahi.

Baca Juga:  Pesan untuk Calon Pemimpin Terpilih

Sebaliknya, ada orang yang mengaku ulama dan dianggap oleh ulama tetapi tindak-tanduknya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Maka orang seperti ini tidak layak mendapat predikat orang yang berilmu dalam agama. Sehingga tidak perlu ditiru dan diikuti oleh masyarakat. Diantara cirinya adalah gemar menyebar fitnah. Ketika sudah berada di mimbar, semua yang ada di dalam kepalanya disampaikan kepada pendengarnya. Termasuk fitnah-fitnah yang merusak. Jika dibiarkan, masyarakat akan terpengaruh dan mengamini informasi tidak akurat yang disampaikannya. Ciri lainnya adalah perkataannya kasar. Mudah menghina dan menyalahkan orang lain. Nah, model ulama seperti ini tidak akan menciptakan suasana kondusif di masyarakat, tetapi justru membuat penyebaran benih-benih konflik di masyarakat.

Mufti Betawi, Habib Usman bin Yahya, menulis buku berjudul Risalah Dua Ilmu: Pada Menyatakan Perbedaan Antara Dua Macam Ilmu dan Dua Macam Ulama. Beliau membahas tentang ciri ulama dunia. Pertama, dia belajar tidak dengan ikhlas, melainkan untuk berbangga dengan ilmu yang dimilikinya. Kedua, ilmu yang diperoleh hanya dipersiapkan untuk berdebat. Ketiga, suka memaki, mengumpat, dan membicarakan orang (ghibah). Keempat, gemar berdusta. Kelima, suka pamer. Keenam, sombong. Ketujuh, suka mencela dan menyebut perkataan keji. Kedelapan, suka mencari kesalahan dan aib orang. Kesembilan, pamer dan mengaku berilmu. Kesepuluh, benci terhadap keluarga Rasulullah (Mimbar Ulama, 2017:41). Dari sini, kita bisa menilai, apakah ulama yang sekarang bertebaran merupakan ulama yang sesungguhnya, ataukah ulama dunia.

Terhadap ulama sejati, kita menaruh rasa hormat dan mengikuti dawuhnya. Kita percaya, orang-orang seperti ini memiliki kemuliaan dan keutamaan sehingga wajib diteladani. Mengolok-olok ulama pun termasuk larangan keras yang harus dihindari. Apalagi level kita jauh berada di bawah mereka. Sehingga sama sekali tidak pantas dan layak dilakukan. Dan kita berharap, Indonesia akan selalu diisi oleh ulama sejati. Mereka yang menjaga agama sekaligus menjaga negeri dengan seluruh kemampuannya.

Baca Juga:  Kritik Atas Nalar Kekerasan Islam Fundamentalis

*Rachmanto, Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM.

 


Like it? Share with your friends!

0
6 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.