Menggaungkan Kembali Pancasila sebagai Gaya Hidup


0
3 shares

Pancasila menjadi sebuah diskursus yang selalu di-bicarakan dan di-diskusikan akhir-akhir ini. Melihat begitu lamanya konsensus terhadap perumusan Pancasila sebagai sebuah ideologi negara yang bukan hanya sebagai panduan dalam mengelola ketatanegaraan atau kebangsaan. Melainkan juga sebagai paham, dasar, jati diri dan wajah bangsa kita terhadap nilai yang terkandung di dalamnya.

Perkembangan global yang semakin hari mempunyai proses secara cepat telah mengubah segala lini kehidupan kita semua. Sebaga contoh bagaimana perkembangan teknologi dan informasi telah merubah segala akses dalam kehidupan kita.

Menurut Yasraf Amir Pilang bahwa dunia global sudah seperti dataran dunia yang semakin terlipat, akses informasi bergerak secara cepat berkat medium informasi yang semakin berjibun.

Selain memberikan manfaat yang bersifat positif, ternyata hal kemajuan dunia informasi juga memberikan dampak negatif yang secara signifikan kita rasakan sekarang. Berbagai fenomena yang berkaitan dengan media online semakin hari mempunyai permasalahan yang semakin kompleks. Akhirnya, hal tersebut memberikan permasalahan baru yang harus dicerna secara bersama agar tidak memperlebar penyebaranya, sebut saja fenomena gemarnya generasi muda bangsa kita yang dikenal semakin dekat dengan perkembangan dunia digital media online.

Paham radikal sedang menggeliat dikalangan muda, bagaimana proses perekrutan hingga eksekusi untuk melakukan berbagai aksi dilakukan oleh kalangan pemuda yang salah menggunakan kecanggihan teknologi. Hal seperti ini bukanlah generasi yang secara meyakinkan mengapresisasi ideologi negara Pancasila dalam hidup mereka.

Bagaimana mungkin, ideologi Pancasila mengajarkan seseorang untuk melakukan kejahatan untuk memenuhi segala ambisi mereka semata. Fenomena lain juga patut kita renungkan bersama, krisis keteladanan pemimpin juga menjadi suatu permasalahan yang semakin hari mewarnai ranah media kita baik cetak maupun televisi. Kepala daerah secara bertubi-tubi ditangkap menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi karena ulah mereka menyelewengkan jabatan untuk menguntungkan individu dan kelompok tertentu.

Baca Juga:  Ilusi Negara Khilâfah

Kebobrokan yang dipertonkan oleh oknum pemimpin seperti inilah yang telah merusak teladan terhadap generasi muda kita, menganggap bahwa pemimpin sudah mengajarkan perilaku korupsi sebagai pembenaran dalam menghadapi berbagai permasalahan. Bahwa krisis keteladan telah merusak generasi kita, korupsi dan terorisme bisa dikatakan perilaku kejahatan yang merugikan semua kalangan. Ketika Pancasila hanya dijadikan jargon dan hafalan tanpa suatu pengamalan, bukan tidak mungkin untuk kedepan bangsa kita akan senantiasa berjibaku terhadap dua hal tersebut.

Era digital seperti sekarang, Pancasila harus kita perkenalkan sesuai zaman yang ada. Mengenalkan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila yang ada. Proses tahapan inilah yang akan menjadikan Pancasila senantiasa eksis dan bisa sejalan dengan zaman sekarang. Pemikiran yang serba praktis dan persaingan, seperti sekarang tak ayal menuntut semua pihak membutuhkan sebuah pegangan untuk menentukan keputusan yang benar. Karena, sejatinya digitalisasi hidup saat ini menuntut untuk semua kalangan bergerak cepat dan tepat. Sehingga ketika mengambil sebuah keputusan mereka hanya memikirkan aspek cepat tanpa melihat dari ketepatan keputusan tersebut, yang akhirnya mengakibatkan kebuntuan dalam berpikir panjang terhadap dampak yang terjadi.

Para pelaku radikalisme dan koruptor hanya memikirkan kesenangan secara pendek, pelaku teror menginginkan surga dan tatanan negara utopis dari pemahamanya terhadap agama. Begitupun koruptor, mereka tergiur akan godaan dari kegelimangan harta yang sejatinya hanya sesaat yang dirasakan itupun terkadang tertangkap tangan ketika melakukan transaksi. Pikiran pendek inilah yang harus kita basmi bersama-sama, bahwa ideologi Pancasila kita mengajarkan nilai musyawarah secara teliti dan seksama. Bahwa semua tidak bisa di nilai sesaat, semua memerlukan waktu untuk mengukur aspek kebermanfaatan secara panjang.

Pemikiran yang hanya mengadalkan aspek instan akan meninggalkan aspek ketepatan dalam menentukan sebuah langkah keputusan. Bukanya selama ini kita dikenalkan untuk senantiasa berhati-hati dalam berjalan dan bertindak, terutama yang berkaitan dengan perintah yang melanggar tatanan keagamaan dan kebangsaan kita. Lorong kebencian yang senantiasa menjadi dasar para pelaku teror merupakan salah satu dari unsur dalam melakukan legitimasi terhadap kejahatan kemanusiaan yang selama ini terjadi. Pikiran yang panjang melihat aspek manfaat yang bersifat panjang harus digelorakan era sekarang ini. Salah satunya menjadi Pancasila sebagai gaya hidup dalam keseharian kita ditengah gencarnya arus modernitas.

Baca Juga:  PKI dan HTI: Aksi Sepihak

 


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka