25 C
Jakarta

Menggali Esensi Terorisme dalam Beragam Perspektif Keagamaan

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuMenggali Esensi Terorisme dalam Beragam Perspektif Keagamaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Terorisme: Fundamentalisme Kristen, Yahudi, Islam, Penulis: A.M. Hendropriyono, Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Halaman Buku: 482 Halaman, Nomor ISBN: 978-979-709-445-4.

Harakatuna.com – Menggali literasi sejarah secara esensial terorisme bukan lahir era milenial tahun 2000-an, namun sebelum kemerdekaan benih tersebut telah ada di negeri kita ini. Sebagian orang menyebutkanebutkan terorisme di Indonesia mulai dari era 1980-an. Indonesia memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam terkait kelompok fanatik Islam.

Penyebabnya di Indonesia adalah, pertama, aksi terorisme tersebut adalah konflik sosial politik sebagaimana terjadi di Aceh, konflik bermotif solidaritas agama dengan target sasarannya antara lain rumah ibadah dan prasana sipil lainnya, konflik sosial lainnya berlabel agama di Ambon dan Poso serta beberapa tempat lainnya.

Konflik ini merupakan motif separatisme serta motif benturan pentingan ekonomi politik elit local-nasional. Kedua, perang melawan terorisme, peristiwa 11 September 2001 adalah titik tolak menguatnya wacana dan terorisme di Indonesia. Ketiga, teori konspirasi adalah penolakan bahwa bukan kelompok Islam yang melakukan aksi terorisme. Keempat, jihad global gerakan Islam transnasional, memicu bangkitnya aksi balasan yang dilakukan oleh gerakan Islam lintas bangsa transnasional dengan klaim jihad global.

Era milenial saat ini berdasarkan salah seorang tokoh yang telah lama berkecimpung di dunia seputaran terorisme, AM Hendropriyono mampu mengulas pembahasan terorisme dalam kajian yang mendalam dan menarik dengan judul karyanya “Terorisme: Fundamentalisme Kristen, Yahudi, Islam“.

Dalam buku tersebut, AM Hendropriyono memaparkan konsep baru tentang paradigma terorisme yang dianalisis dengan filsafat bahasa Wittgenstein. Sudut pandang filsafat kini memang minim digunakan untuk membaca realitas sosial. Bahkan penulis mampu membongkar paradigma yang memusingkan dari terorisme.

Ia menguraikan fenomena dan persoalan terorisme itu hanya tentang pemahaman bahasa yang berbeda. Agaknya pemahaman bahasa yang berbeda inilah kemudian memunculkan awal mula konflik. Perbedaan ini sangat kental terasa ketika dua manusia yang dianggap sebagai orang yang berpengaruh di dunia memberikan pandangannya terkait dengan terorisme.

Ketika dua orang yang sangat berpengaruh di dunia memberikan pemikiran yang berbeda, dampaknya akan mempengaruhi cara berpikir para pengikutnya di dunia. Ditambah lagi media juga memberikan ruang untuk menyebarluaskan dua pemahaman tersebut

Dalam kenyataannya sosok teroris itu apabila pihaknya mampu meraih menang dan menjadi pihak yang berkuasa, maka para penentang mereka yang kemudian menjadi berstatus teroris.vPara pejuang kemerdekaan Amerika merupakan teroris bagi kekaisaran Inggris. Begitu pula para pejuang kemerdekaan Indonesia, pada zamannya dipandang sebagai teroris yang mengganggu stabilitas nasional pemerintahan Hindia Belanda.

Namun di kala ideologi yang menjadi dasar perbuatan, bukan lagi semangat kemerdekaan nasional, maka batas-batas negara pun kabur, dan sulit untuk membedakan antara “kita” dan “mereka”.

Keberadaan terorisme dantidak lagi hanya pantas disematkan pada mereka yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan, karena pihak yang berkuasa pun dapat dan seringkali melakukan tindakan teror yang berakibat lebih dahsyat, hanya saja para pendukungnya menganggap itu yang sudah seharusnya dilakukan, atas alasan patriotisme, atau menjaga stabilitas perdamaian dunia.

BACA JUGA  Bersaudara Kepada Semua atas Dasar Kemanusiaan

Tindakan teror mengundang tindakan teror balasan. Semua pihak saling meneror dan mengintimidasi, menciptakan lingkaran setan yang tak berujung. dan korbannya adalah mayoritas yang diam, yang biasanya tak bisa, atau tak mau, untuk menentukan sikap, siapa di antara para teroris yang saling adu kekuatan ini yang bisa dianggap benar.

Pandangan AM Hendropriyono juga menjelaskan pandangan berkaitan dengan terorisme yang ada perbedaan penafsiran. Hal ini diantaranya ada perbedaan pemaknaan sebuah bahasa tidak hanya akan berdampak pada “tingkatan struktural gramatika” saja. Tetapi memiliki makna dalam kehidupan masyarakat yang kemudian akan membentuk suatu tindakan di dalam masyarakat.

Bahasa terorisme agaknya menjadi jalan bagi mereka untuk menguasai dunia bahkan menguasai jalan pikiran masyarakat global. Lalu kita hanya akan melihat siapa yang menang? Siapa yang punya banyak massa?

Dengan dua perbedaan pemahaman tersebut, Hendropriyono hendak meninjau ulang satu paradigma terorisme demi mendapat pemahaman yang lebih mendalam. Harapan yang muncul dari Hendropriyono ialah mendapat satu arti terorisme yang tidak akan berubah sepanjang zaman. Sebelum sampai pada arti terorisme, Hendropriyono menunjukkan perkembangan sejarah terorisme. Mulai dari abad ke 11 hingga sampai pada perkembangan terorisme di masa al-Qaeda.

Argumentasinya adalah bahwa dalam masyarakat adanya kontroversi pendapat dengan pemaknaan terorisme. Ia juga mengalisa bahasa-bahasa terorisme dilontarkan oleh kedua belah pihak. Ia menganalisis perkataan keduaanya di dalam pidato. Pada satu sisi, Hendropriyono menunjuk dedengkot fundamentalis Islam yakni Osama bin Laden (OBL). Sebagai pihak yang getol menyuarakan tindakan “Islam Murni”, OBL menganggap terorisme sebagai “tindakan suci”.

Tindakan terorisme apabila dikerjakan maka nilainya setara dengan jihad. Ketika seseorang mati di atas bendera jihad, maka ia mati syahid membela kebenaran dan agama Tuhan. Efeknya, mereka berkeyakinan akan mendapat jaminan surga. Tetapi OBL pada akhirnya terjebak pada pelanggaran hak-hak hidup kemanusiaan. Ia menempatkan warga sipil yang terjatuhi oleh bom sebagai tentara militer Barat yang harus diperangi. Dengan pemahaman yang demikian, maka mampu untuk menarik masa sebanyak-banyaknya dengan iming-iming surgawi.

Kepiawaian sosok militer dan orang perdana yang paling berjasa di dunia intelejen di Indonesia bahkan pemilik nama lengkap Jenderal TNI Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriyono, S.T., S.H., M.H. atau sering disebut A.M. Hendropriyono merupakan Kepala BIN pertama dan dijuluki the master of intelligence karena menjadi Profesor di bidang ilmu Filsafat Intelijen pertama di Indonesia. Tentunya sangat layak karyanya tersebut untuk dibaca dan telaah berkaitan dengan terorisme dan fenomenanya. Sudahkah kita membacanya?

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya, Aceh.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru