Mengenal Ulama Madura Kontemporer Thaifur Ali Wafa


0
69 shares
Thaifur Ali Wafa
Thaifur Ali Wafa

Kelahiran dan Silsilah Nasabnya

Thaifur Ali Wafa Muharrar lahir dari pasangan Kiai Ali Wafa dan Nyai Mutmainnah binti Dzil Hija. Silsilah dari ayahnya, Thaifur adalah keturunan Syeikh Abdul Kudus (akrab disebut Al-Jinhar) yang tinggal di desa Sariqading. Sedangkan, dari silsilah ibunya ia termasuk bagian dari keluarga desa Waru Pamekasan. Dzil Haja nikah dengan Halimatus Sa’diyah yang berasal dari desa Bindang; keturunan Syeikh Abdul Bar (akrab disebut Agung Tamanuk)—ada yang mengatakan nasab Thaifur Ali Wafa berujung sampai Pangeran Katandur yang dimakamkan di Sumenep.

Thaifur dilahirkan pada malam Selasa bulan Sa’ban 1384 H di kampung Sumur desa Ambunten Timur kabupaten Sumenep. Kabupaten ini terpisah dari Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Itu termasuk kabupaten yang paling luas jaraknya dan paling banyak kambingnya. Di Madura—pulau empat kabupaten tersebut—dihiasi banyak makam wali Allah. Di antaranya, Sayyid Yusuf Al-Anqawi yang terkenal kewaliannya dan dimakamkan di Talangoh. Sayyid Yusuf Al-Anqawi termasuk salah seorang dari tiga waliyullah yang terkenal di Madura.

Tiga wali tersebut, selain Sayyid Yusuf, yaitu Syeikh Abu Syamsuddin yang dimakamkan di Batu Ampar, Pamekasan; dan Syaikh Muhammad Khalil bin Abdul Latif yang dimakamkan di Bangkalan.

Waliyullah yang lain yang dimakamkan di Sumenep, yaitu Sayyid Ahmad Baidhawi (Pangeran Katanegoro) keturunan Sayyid Jakfar Shadiq (Sunan Kudus), Bindarah Sut, Abdurrahman (raja Sumenep) keturunan Bindarah Sut, Syeikh Ali Akbar buyut Pujuk Panaongan, Pujuk Panaongan, dan Syeikh Abdurrahman.

Jejak Pendidikan

Kependidikan Thaifur Ali Wafa bermulai dari pendidikan orangtuanya. Sejak kecil ia seringkali berada di dekat ayahnya, Kiai Ali Wafa. Ayahnya mengajar dengan memberikan contoh yang baik disertai metode yang sesuai. Suatu hari Kiai Ali Wafa minta doa pada sebagian orang shaleh untuk putranya, Thaifur, supaya ia termasuk bagian dari orang yang melaksanakan shalat dan memperbaiki pelaksanaannya.

Kiai Ali Wafa mengajari Thaifur Al-Qur’an beserta tajwidnya, dasar-dasar akidah, fiqh, nahwu, dan lain-lain. Thaifur belajar Al-Qur’an kepada ayahnya pada usia enam tahun sampai hatam. Kemudian diikuti belajar ilmu tajwid saat berusia delapan tahun. Selain daripada itu, ia diajari tatacara shalat: ia diperintah melihat cara ayahnya shalat.

Sejak kecil, Thaifur juga belajar kepada ayahnya beberapa kitab klasik: Matn al-Jurmiyyah, Matn Safînah al-Najâh, Matn Sullam al-Tawfîq ila Mahabbillah ala al-Tahqîq, Aqîdah al-Awwâm, Risâlah (ringkasan Ilm al-Tawhîd-nya Syeikh Ibrahim Al-Bajuri), Bidâyah al-Hidâyah, dan lain-lain. Sementara, metode belajar yang digunakan adalah metode ceramah dan praktek: Kiai Ali Wafa membaca kitab, menjelaskan dan melerai permasalahan, kemudian Thaifur disuruh membaca ulang sambil disimak oleh ayahnya. Ia tidak ditinggalkan pergi kecuali sampai ia paham.

Setiap sebelum belajar, Thaifur membaca ulang pelajaran yang telah berlangsung untuk dibaca kembali di depan ayahnya. Ternyata, bacaan yang disetorkan kepada ayahnya mendapat penilaian yang memuaskan: tidak mendapat banyak teguran. Itu merupakan berkat semangat dan ghirah yang tinggi dan ketelatenan ayahnya dalam mendidik. Bahkan, ayahnya selalu mendorong dia konsisten belajar, tanpa ada pengangguran, walaupun di dekat ayahnya ada tamu.

Baca Juga:  Khilaf Khilafah ISIS

Thaifur Ali Wafa Diasuhan Keluarga 1

Thaifur kecil betul-betul diperhatikan dalam bergaul. Kiai Ali Wafa tidak melarang ia pergi jauh beserta temannya. Akan tetapi, apabila ia ingin bermain/pergi jauh dari rumah, ia selalu ditemani orang terpercaya ayahnya, termasuk santri senior beliau sendiri. Pada waktu malam beliau tidak memperbolehkan ia segera tidur, kecuali kira-kira sejam setelah shalat Isya’. Pada waktu itu, ia diajari mengikrab hadits atau ibarah. Bila dikira cukup, ia diizini keluar. Beliau juga pernah berpesan dua hal: memelihara shalat dan membaca Al-Qur’an setiap hari paling sedikit satu juz.

Dari segi makanan, Thaifur tidak diperbolehkan makan ikan laut dan makanan yang dijual di pasar. Ia dididik sedemikan itu sejak awal menuntut ilmu, yaitu berusia enam tahun. Imam Az-Zarnuji menyebutkan dalam Ta’lîm Muta’allim, bahwa sementara orang disebut warak bila perutnya tidak kenyang, tidak banyak tidur, tidak banyak bicara selama tidak ada gunanya, dan menjaga diri makan makanan yang diperjualbelikan di pasar bilamana memungkinkan. Sebab, makanan di pasar lebih mendekati najis dan kotor.

Akhlaq Thaifur Ali Wafa

Thaifur meninggalkan makan ikan sampai kira-kira berusia dua puluh tahun. Pada usia ini ia berkumpul beserta gurunya, Syekh Ismail Az-Zain di Mekah. Murid-murid Syekh, termasuk Thaifur sendiri, dijamu sarapan dan makan malam di satu meja bersama. Putra-putra Syekh dan sebagian muridnya berkumpul. Di meja itu tersedia ikan dan nasi. Syekh mempersilahkan jamuan. Syekh menyodorkan ikan, sampai Thaifur tidak dapat menolak.

Sementara, Thaifur tidak makan makanan pasar sampai dewasa. Bila ia menginginkan sesuatu, maka ia memberitahukan kepada ibunya, kemudian ibunya membuat/menyediakan sendiri. Ia merasa bangga dan bersyukur mampu menjaga pesan ayahnya.

Hampir wafatnya Kiai Ali Wafa, Thaifur diperintahkan duduk di tempat mengajar beliau untuk mengajar Al-Qur’an kepada santri-santri putri yang biasanya menyetorkan bacaan kepada beliau. Ia mengajar mereka kira-kira satu tahun sampai ayahnya wafat.

Setelah ayahnya wafat, Thaifur belajar kepada saudaranya, Syekh Ali Hisyam, yang pernah menerima pesan ayahnya untuk mengajari putranya. Ia belajar beberapa kitab karya Syekh Nawawi Al-Jawi, yaitu Sarah Safînah (Kasyîfah al-Sajâ), Sarah Sullam (Mirqâh Shu’ud al-Tashdîq), dan Sarah Bidâyah (Marâqî al-Ubudiyyah).

Setelah empat belas tahun Thaifur pergi ke Mekah beserta Syekh Ali Hisyam untuk menunaikan haji dan ziarah. Mereka berdua berziarah ke asta Rasulullah saw. Dan, pada usia ini ia ditunangkan dengan putri Syekh Abdullah Salilul Khalil kemudian ia menikahinya sampai sekarang. Sedangkan, orang yang melamar adalah saudara suami saudarinya, Syekh As’ad bin Ahmad Dahlan.

Baca Juga:  Aqidah Hizbut Tahrir Bukan Ahlusunnah wal Jamaah, tapi Qadariyah

Selama Thaifur berusia lima belas tahun Syekh Ahmad Zaini bin Miftahul Arifin pulang dari Jakarta ke rumahnya di Sumenep. Kemudian, Kiai Ali Wafa berpesan kepada putranya, Syekh Ali Hisyam, untuk menyampaikan salam beliau kepada Syekh Ahmad Zaini untuk belajar/berguru kepada beliau. Setelah pesan itu disampaikan, Syekh Ahmad Zaini menangis. Syekh Ahmad Zaini termasuk orang yang alim dan hafal Al-Qur’an.

Pendidikannya di Timur Tengah

Thaifur pergi ke Mekah. Sebelumnya ia minta izin kepada ibunya, kemudian ia diizinkan, sekalipun dengan perasaan yang sangat berat berpisah dengan anaknya. Bagaimana lagi jika itu sudah kehendak putranya menuntut ilmu di sana, ibunya menerima ketentuan Allah ini dan berharap putranya termasuk dari hamba-hamba yang saleh. Ia berangkat ke Mekah, tidak sendirian, melainkan bersama kerabat dan keluarganya: saudarinya, Mahfudah; putra bibinya, Syekh Muhammad Syarqawi. Mereka berangkat ke tanah suci pada 1401 H. (1981 M.). Mereka, setalah menunaikan ibadah haji, pulang kecuali Thaifur. Ia menetap di sana.

Di Mekah Thaifur dipertemukan oleh saudaranya, Syekh Said Abdullah, dengan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Syekh Ismail Utsman Az-Zain. Saudaranya minta ia mempertimbangkan dulu selama sehari atau dua hari, kemudian sowan kembali ke Syekh Utsman Ismail. Setelah dijamu Syekh, ia pulang, tetapi sebelum berpisah Syekh berujar: “Temui saya di rumah bagian bawah.”

Saat Thaifur sowan kepada Syekh Ismail Utsman Az-Zain, tiba-tiba Syekh memberikan sebagian kitab yang akan ia pelajari setelah Subuh. Ia diberi kebebasan memilih tempat belajar: belajar bersama Syekh di rumah beliau, atau belajar di luar bersama murid-murid beliau yang lain.

Thaifur Ali Wafi Belajar Ilmu Alat

Thaifur juga belajar Ilmu Nahwu kepada Syekh Abdullah Ahmad Dardum (akrab disapa Sibawih). Ia merasa jerih payahnya membuahkan hasil gemilang; ilmu yang dipelajari dapat ia kuasai. Ia datang kepada Syekh Abdullah Ahmad Dardum dan Syekh Utsman Islam setiap hari. Di pagi hari ia berangkat bersama sebagian teman-temannya menemui Syaikh Abdullah Dardum di kampung Jarwal sampai hampir menjelang Zuhur. Ia belajar Sarah Ibnu Aqîl ala Alfiyyah dan Kifâyah al-Akhyâr.

Sore hari setelah shalat Ashar mereka pergi ke rumah Syekh Ismail Zain sampai hampir Maghrib. Di sisi beliau mereka belajar Nihâyah al-Mukhtâj Sarh al-Minhâj dan beberapa kitab-kitab yang lain. Setelah Isya’ mereka belajar salah satu Kutub al-Sittah. Selama di Mekah hanya dua syekh ini yang seringkali dikunjungi.

Setelah merasa cukup belajar di Mekah Thaifur kembali ke tanah kelahirannya, Ambunten Timur Sumenep pada 1413 H. Maka, di sana ia disibukkan dengan mengabdikan diri kepada masyarakat: mengajarkan ilmu-ilmunya dan mendidik murid-muridnya. Ia meneruskan kepemimpinan ayahnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren As-Sadad. Setiap akhir tahun pelajaran ia menggelar perayaan imtihan, selain itu acara ini dihadiri wali-wali santri.

Baca Juga:  Konsep Wahyu: Basis Interpretasi Al-Qur'an Abdullah Saeed

Guru dan Muridnya

Di antara guru-guru Thaifur Ali Wafa, yaitu Ali Hisyam (saudaranya sendiri), Ahmad Zaini Miftahul Arifin, Abdullah Zahrawi Salilul Khalil (mertuanya), Jamaluddin Muhammad Fadil Kediri, Abdullah bin Ahmad Dardum, Abdullah bin Said Al-Hadrami, Muhammad Yasin bin Isa Al-Makki, Muhammad Mukhtaruddin Al-Makki, Aisyah (istri gurunya, Ahmad Zaini Miftahul Arifin), Ismail Utsman Zain, Muhammad bin Abdullah (guru Syekh Ismail Utsman Zain), Qashim bin Ali Al-Yamani, Abu Yunus Shaleh, Muhammad bin Alawi Al-Makki, dan Ahmad Barizi Muhammad.

Sementara, murid-murid Thaifur Ali Wafa dibedakan menjadi dua macam: Pertama, murid yang menyertainya dalam mencari ilmu, yaitu Abu Ismail Muhammad, Abdurrahman, Abdullah (tiga-tiganya putra Syekh Ismail Utsman Zain), Abdul Halim Utsman Palembang, Hisyam As-Saudi, Muhammad Rafi’ie Baidhawi Pamekasan, Ahmad Yahya Samsul Arifin, Shalihuddin, Ruslan (keduanya saudara Ahmad Yahya Samsul Arifin), As’ari Abdul Haq (saudara istri Syekh Ismail Zain), Rafi’ Pemekasan, Ahmad Shaleh Rembang, Sam’an Ismail Sumenep, Mashuri Bangkalan, Akram Bangkalan, Abdus Sakur Probolinggo, dan masih banyak yang lainnya. Kedua, murid-muridnya yang tidak menyertainya belajar, yaitu santri-santrinya di PP. As-Sadad (baik yang berasal dari Madura atau luar Madura), Hamid bin Mihdarul Khard, Muhammad bin Muhsin Al-Jakfari, Jakfar bin Ali bin Abi Bakar, dan banyak yang lainnya.

Karya-Karyanya

Karya-karya Thaifur Ali Wafa, di antaranya, Minhah al-Karîm al-Minnân, Tawdhîh al-Maqâl, Al-Dzahb al-Sabîk, Riyâdh al-Muhibbîn, Daf’u al-Îhâm wa al-Haba, Tuhfah al-Râki’ wa al-Sâjid, Kasyf al-Awhâm, Muzîl al-Anâ’, Tawdhîh al-Ta’bîr, Kasyf al-Khafâ’, Al-Quthûf al-Daniyyah, Balghah al-Thullâb fi Talkhîsh Fatâwî Masyâyikhî al-Anjâb, Al-Jawâhir al-Saniyyah, Habâil al-Syawârid, Al-Badr al-Munîr, Al-Tadrîb, Jawâhir al-Qalâid, Masykah al-Anwâr, Zûraq al-Najâ’, Raf’u al-Rayn wa al-Raybah, Miftâh al-Ghawâmidh, Barâhîn Dzawî al-Irfân, al-Tibyân, Arîj al-Nasîm, Sullam al-Qâshidîn, Nayl Arb, Al-Rawdh al-Nadhîr, Nûr al-Zhalâm, Al-Riyâdh al-Bahiyyah, al-Îdhâh, Fath al-Lathîf, Alfiyyah ibn Alî Wafâ, Durar al-Tâj, Al-Iklîl, Al-Manhal al-Syâfî, Al-Farqad al-Rafî’, Al-Nûr al-Sâthi’, Al-Nafhât al-Anbariyyah, Izâlah al-Wanâ, Al-Kawkab al-Aghar, Jawâhir al-Shafâ, Manâr al-Wafâ, dan Firdaws al-Naîm bi Tawdhîh Ma’ânî Âyât al-Qur’ân al-Karîm.

Secara keseluruhan karya-karyanya mencapai empat puluh tiga kitab. Kitab-kitab ini ditulis dengan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Selain daripada itu, kitab-kitab tersebut mengupas tuntas berbagai macam disiplin ilmu, seperti fiqh, tauhid, tafsir, nahwu-sharraf, dan tasawuf. Hal itu mengisyarakan kealiman Thaifur Ali Wafa tidak hanya pada satu disiplin ilmu, melainkan banyak bidang ilmu.[] Shallallah ala Muhammad.

Sumber Rujukan:
– Thaifur Ali Wafa, Manâr al-Wafâ (ttp: tnp, t.t.)
– IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1992)
– Az-Zarnuji, Syarh Ta’lîm Muta’allim (Surabaya: Nurul Huda, tt)


Like it? Share with your friends!

0
69 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta