Mengembalikan Khittah dan Nilai-nilai Pancasila untuk Anak Bangsa


0
59 shares

Dewasa ini, bangsa Indonesia semakin lama, semakin terpuruk.  Kriminalitas merajalela, perdebatan antar partai politik yang tak kunjung mereda, dan yang lebih parah, kasus-kasus korupsi yang tak akan pernah selesai. Inilah cerminan dari sebuah bangsa yang telah hancur. Mengorbankan orang lain demi memuaskan nafsu sendiri yang sesaat.

Kemanakah nilai-nilai dari Pancasila yang selama ini kita akui dan anut sebagai dasar landasan kita berwarganegara di Indonesia ini ? Negara kita mengaku negara beragama, tetapi tetap saja mengerjakan perbuatan-perbuatan yang melanggar baik hukum agama maupun hukum negara. Negara kita mengaku negara beradab, tetapi nyatanya masih banyaknya pelecehan-pelecehan yang terjadi di Indonesia. Negara kita mengaku sebagai negara kesatuan, tetapi pada kenyataannya banyak warga negara Indonesia di perbatasan malah mencari nafkah di negeri orang. Negara kita mengaku selalu bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah, tetapi pada kenyataanya setiap masalah yang ditemui selalu menemui jalan buntu dan tak pernah terselesaikan. Negara kita mengaku adil dalam menghakimi, pada kenyataanya masih banyak warga Indonesia yang main hakim sendiri.

Pengaruh Pancasila yang tadinya begitu besar di negara kita, lama kelamaan kian memudar. Indonesia disebut-sebut sebagai satu-satunya Negara yang menganut ideologi yang berlandaskan Pancasila. Segala yang ada di Indonesia berlandaskan Pancasila, mulai dari bertingkah laku hingga membentuk suatu organisasi sosial. Seharusnya, Pancasila sudah mendarah daging didalam jiwa anak bangsa. Tetapi pada kenyataannya, sangatlah bertolak belakang. Berbagai fakta telah terjadi sebagai tanda hilangnya nilai-nilai Pancasila di sela-sela kehidupan Indonesia. Maraknya bentrokan antar warga, antar suku yang seringkali hanya dilatarbelakangi masalah kecil. Kekerasan atas nama agama semakin marak terjadi di negeri ini, kerukunan antar umat beragama yang terkandung dalam Pancasila sudah tidak lagi diamalkan bangsa ini. Belum lagi moral pelajar negeri ini yang seringkali tawuran. Aspirasi mahasiswa dalam demo juga sering mengarah ke anarkis. Seakan sudah hilang citra masyarakat Indonesia yang terkenal ramah tamah. Para pejabat negara yang seharusnya lebih memberikan teladan dalam mengamalkan Pancasila, namun yang terjadi justru sebaliknya. Pelanggaran nilai nilai Pancasila kerap terjadi di kalangan pejabat negara. Korupsi adalah salah satu cerminan pelanggaran nilai nilai Pancasila yang dilakukan para oknum pejabat.

Baca Juga:  Negara Pancasila dan Khilafah

Selain sebagai ‘Jamrud Khatulistiwa’, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat KORUPSI tertinggi di dunia. Sungguh sangat memalukan. Mulai dari rakyat kecil hingga pejabat melakukan perbuatan yang haram ini. Mulai dari calon ketua RT sampai capres, semuanya melakukan korupsi. Semuanya demi mementingkan kepentingan sendiri. Ingin mendapat kekayaan dengan cara merugikan orang lain. Tidak dapat dibayangkan apabila para perumus Pancasila seperti Ir. Soekarno, Muh. Hatta, M. Yamin dan lain sebagainya melihat realita dari rakyat Indonesia sekarang ini. Sungguh mereka akan kecewa dan sedih. Korupsi yang merajalela bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh para penemu bangsa kita. Kita selalu bicara berantas korupsi, hilangkan suap tetapi tetap saja, para aparat dan pejabat negara dewasa ini, memandangnya hanyalah sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri.

Contohnya seperti dua orang polisi di daerah Bali yang tidak sengaja tertangkap kamera tersembunyi seorang turis Belanda.“Video polantas ‘damai’ itu muncul di YouTube 1 April lalu. Video yang diambil dengan kamera tersembunyi itu dengan gamblang memperlihatkan kelakuan polisi di Bali. Awalnya si bule yang bernama Kees van der Spek ini ditilang karena mengendarai motor tanpa helm. Si polisi langsung menilang dan mengajak van der Spek ke pos polisi di Lio Square, Kuta, Bali. Di situlah polisi meminta uang damai karena si van der Spek tidak membawa SIM-nya. Setelah mendapatkan uang Rp 200.000 dari van der Spek, polisi itu mengajaknya untuk minum bir di pos.” sumber :http://news.detik.com/read/2013/04/08/231009/2214905/10/2-anggota-polantas-yang–damai–dengan-bule-bali-siap-disidangkan

Begitulah cerminan aparat di negeri kita ini. Dengan mudahnya tergiur dengan uang dan hanya sedikit yang benar-benar melaksanakan tugasnya sepenuh hati. Hal ini membuktikan bahwa telah hilangnya jiwa Pancasila anak bangsa dalam penegakkan hukum di Indonesia. Seharusnya siapapun orangnya, baik dia warga Negara Indonesia maupun warga Negara asing harus bisa mentaati hukum yang berlaku di Indonesia selama dia berada di tanah Indonesia ini. Dan apabila orang tersebut melanggar sudah seharusnya sebagai aparat kepolisian untuk bisa tegas dalam menegakkan peraturan.Walhasil tidak hanya kesatuan kepolisian yang tercemar nama baiknya tetapi juga tercemarnya nama baik Indonesia.

Baca Juga:  Potret Radikalisme Agama di Indonesia

Peristiwa diatas merupakan contoh kecil dari kalangan aparat. Apabila penegak hukum saja bisa berlaku demikian, bukankah akan menjadi contoh buruk untuk rakyat-rakyat kecil lainnya ? Dampaknya mungkin belum terlihat dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, pastinya dampak dari contoh-contoh buruk tersebut akan timbul.

Dengan semakin hilangnya pemahaman Pancasila saat ini, maka Bangsa ini menjadi kehilangan arah yang akan dituju. Keadaan ini terjadi dikarenakan tidak ada pandangan hidup atau pegangan hidup yang bisa dijadikan landasan untuk memecahkan segala persoalan yang terjadi di negeri ini.

Saat ini Pancasila semakin tua dan digerogoti oleh berjalannya waktu. Oleh karena itu, Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum Bangsa Indonesia harus dikembalikan dan ditegakkan. Kita sebagai anak bangsa harus tetap menjaga nilai-nilai Pancasila dan selalu mengamalkan nilai-nilai yang kita dapat dari Pancasila. Kita tanamkan Pancasila pada sanubari hatika kita. Kita kokohkan persatuan dan kesatuan Pancasila. Kita tegakkan kembali Pancasila kita!

 


Like it? Share with your friends!

0
59 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
M Arif Rohman Hakim
Bukan siapa-siapa. Hanya anak pasangan petani sederhana yang tidak ingin hidupnya berlalu saja tanpa makna. Terobsesi pada kata-kata yang cerah-gerakkan manusia. Senang mendengar dan berbagi cerita, namun tak pernah mau berbagi suaranya dengan yang lain. Sebab, menulis merupakan sarana yang digunakannya untuk berbagi.