26.5 C
Jakarta

Mengapa Perempuan Banyak yang Terlibat dalam Kejahatan Terorisme?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanMengapa Perempuan Banyak yang Terlibat dalam Kejahatan Terorisme?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Masih ingat peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu 13 Mei 2018? Pelakunya adalah Dita Supriyanto, pimpinan Jamaah Ansharu Daulah (JAD), beserta seluruh keluarganya, yaitu istri dan anak-anaknya. Dita menyerang Gereja Pantekosta Pusat menggunakan mobil. Sementara, istrinya Puji Kuswati beserta dua anak perempuannya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI), di Jalan Dipenogoro. Kemudian, dua anak laki-lakinya meledakkan diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya.

Pada peristiwa terorisme tersebut terlibat tiga perempuan dalam keluarga Dita, yaitu istri dan dua anak perempuannya. Keterlibatan perempuan dalam kegiatan terorisme jelas menjadi pertanyaan besar: ”Kok bisa perempuan ikut terlibat dalam aksi berbahaya ini? Bukankah perempuan cenderung lebih penyayang dibandingkan menjadi pembunuh, apalagi sampai terlibat dalam pelaku bom bunuh diri (suicide bomber)? Apa sebenarnya alasan perempuan ikut terlibat dalam kegiatan terorisme?”

Sebelum membahas alasan keterlibatan perempuan dalam kegiatan terorisme, perlu diketahui bahwa keterlibatan tiga perempuan dalam keluarga Dita itu bukanlah yang pertama. Sudah banyak perempuan sebelum itu yang bergabung dalam terorisme, baik sebagai informan, kurir, mata-mata, pendidik, perekrut, maupun sekadar menjadi pemuas kebutuhan seks teroris laki-laki. Pertama kali perempuan yang terlibat dalam terorisme adalah Dian Yulia Novi yang mengaku mengalami proses indoktrinasi jihad perang (jihad qital) melalui internet oleh suaminya, Nur Solihin pada tahun 2016. Lebih dari itu, tiga istri pimpinan kelompok teroris yang diikutsertakan oleh teroris Santoso masuk ke dalam hutan untuk melakukan perlawanan.

Bahkan, Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) menyebutkan bahwa ada sembilan istri yang terlibat dalam kegiatan terorisme sampai tahun 2015. Enam di antaranya menjalani proses peradilan pidana dengan dakwaan kasus teror, dua yang lain menjalani hukuman karena melanggar UU Keimigrasian, sedangkan sisanya bebas karena tidak terbukti terlibat di dalamnya. Sembilan perempuan tersebut merupakan istri dari pelaku kejahatan terorisme yang bersikeras mendirikan negara Islam.

Kemudian, keikutsertaan perempuan dalam kejahatan terorisme jelas memiliki alasan. Prof. Dr. Musdah Mulia, MA. menyebutkan dalam bukunya Ensiklopedia Muslimah Reformis bahwa ada tiga alasan yang mengemuka mengapa perempuan terlibat dalam kejahatan terorisme: Pertama, perempuan dipandang lebih leluasa dibandingkan laki-laki dalam bergerak dan tidak gampang dicurigai oleh aparat keamanan. Karena itu, keterlibatan perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Kedua, terlibatnya perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri memiliki daya Tarik tersendiri bagi media massa, terutama karena kini era digital. Media akan lebih cepat menyampaikan peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh perempuan. Karena, ini efek dramatis aksi-aksi yang menggunakan tubuh perempuan sebagai senjata. Ketiga, untuk lebih menggugah semangat para lelaki menjadi jihadis. Kalau perempuan saja bisa melakukan kegiatan terorisme, kaum laki-laki harus jauh lebih bisa. Ungkapan tersebut digunakan untuk memaksa kaum laki-laki lebih berani.

Selain itu, menurut Bahrun Naim, pimpinan ISIS asal Indonesia, perempuan ikut dilibatkan dalam kegiatan terorisme karena mulai berkurangnya laki-laki yang terlibat di dalamnya. Apalagi, perempuan lebih mudah terdoktrin paham-paham ekstremis semacam itu, terutama saat mereka memiliki masalah dalam keluarga. Perempuan akan dengan gampang mencari tempat untuk menceritakan masalahnya. Karena masalah itu diceritakan kepada orang yang salah, maka mereka diberi solusi kepada jalan yang salah pula, yaitu bom bunuh diri.

Melihat kenyataan tersebut, perempuan harus lebih berhati-hati mengonsumsi informasi dari sumber yang tidak jelas. Karena gegabah menerima informasi, perempuan sangat rentan terpapar indoktrinasi terorisme. Apalagi, perempuan dalam pandangan kelompok teroris dianggap sangat loyal pada ajaran dan ideologi agamanya dan lebih militan dalam menjalankan aksinya. Perempuan juga harus tepat dalam berguru. Salah berguru akan sangat mungkin terdampak pada kejahatan terorisme. Carilah guru yang berpikir terbuka dalam melihat perbedaan, cinta menebar perdamaian, dan tidak mengajarkan jihad perang.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru