28.3 C
Jakarta

Mengapa Para Pengusung Khilafah Selalu Menyelesaikan Segala Persoalan dengan Khilafah?

Artikel Trending

Saya tidak pernah menutup diri untuk berteman dengan siapapun, termasuk tidak pernah mempersoalkan agama teman saya. Mau dia eks-teroris, Hindu, Buddha, Katholik, Protestan, Ateis sekalipun, itu tidak jadi masalah, termasuk ketika memiliki teman seorang HTI yang pro khilafah. Tapi pada poin ini selalu menjadi kebingungan dalam diri saya.

Diantara teman-teman saya yang selalu memposting berbagai konten yang berkaitan dengan keagamaannya, hanyalah teman saya HTI ini yang selalu update berbagai hal tentang ritual keagamaannya. Hampir seluruh story WhatsApp yang didengungkannya adalah perihal khilafah dan khilafah. Rasa-rasanya, seperti orang jualan saja.

Tapi saya katakan bahwa mereka lebih dari mahir dari lulusan marketing Harvard University, sebab meski menjadi organisasi ilegal, mereka dengan santainya tetap angkuh untuk membumikan khilafah dengan berbagai strategi.  Apalagi kalau bukan soal pendirian negara khilafah yang tidak pernah selesai.

Misalnya begini, di antara berbagai tulisan yang selalu diposting melalui akun Muslimahnews dengan tagline “Inspiratif dan Mencerdaskan”, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Saya sampai pada pertanyaan bahwa, mengapa permasalahan dalam tulisan-tulisan tersebut selalu “khilafah” yang menjadi solusi. Rasanya penerapan”khilafah” seperti “menyelesaikan masalah tanpa masalah”.

Narasi Cacat yang Dibangun

Ada dua tulisan yang ingin saya komentari di antara ribuan tulisan yang diposting melalui akun muslimahnews.

Pertama, soal ketahanan pangan (muslimahnews). Dalam tulisan Nindira Aryudhani, Islam mengatur segala bentuk hal yang ada dimuka bumi ini, termasuk ketika diterapkannya “khilafah” maka seluruh urusan pangan akan beres.

Sebab ia belajar dari masa lalu Islam yang dilakukan Khalifah Umar ibn Khaththab ra. Beliau ra, yang saat Madinah mengalami paceklik, mengeluarkan kebijakan agar setiap hari dilakukan pemotongan unta agar dagingnya bisa dinikmati oleh warga. Lanjut apa yang ditulisoleh Nindira, bahwa selama ini sistem pemberdaya di Indonesia adalah demokrasi kapitalisme dimana semua segala bermotif ekonomi.

Bukan hanya itu, hampir seluruh tulisan yang ada di akun tersebut adalah semua harus kembali pada masa lalu khilafah. Narasi semacam ini, sangat ambigu. Bagaimana tidak, ketika seluruh persoalan bisa selesai dengan “khilafah”, sedang manusianya sama. Sama-sama memiliki nafsu untuk bertindak korupsi, tindak kejahatan dalam dirinya, dan semacamnya.

Kedua, menolak feminisme. Barangkali mahakarya narasi penolakan feminisme termuat dalam buku “Mengkritik Feminisme” karya dr. Nazreen Nawas. Penolakan keras dari para perempuan-perempuan HTI atas feminisme tidak lain adalah bahwa mereka menolak segala bentuk dan segala jenis yang berasal dari Barat, termasuk ajaran feminisme yang berasal dari Barat.

BACA JUGA  Ustadz Maaher dan Tren Ceramah Hinaan

Narasi yang kemudian dibangun adalah bahwa perempuan diciptakan mulia oleh Allah SWT, tidak perlu mengotori dengan pemahaman demikian. Harus menjadi istri shaliha yang selalu di rumah mengurus anak dll.

Ada yang luput dari narasi ini, bahwa jauh dari pandangan kita, tidak selalu perempuan beruntung hidup nyaman, makan enak, lalu hanya memikirkan ritual ibadah dengan tujuan menjadi “istri shaliha”. dalam dimensi kehidupan yang berbeda, masih banyak perempuan yang mengala kekerasan dalam rumah tangga, sebab nasibnya tidak beruntung. Mereka dipertemukan dengan suami yang tidak kalah jahatnya seperti singa. Masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan seksual di tempat umum, faktanya cukup mencengangkan dari catatan tahunan Komnas HAM.

BACA JUGA  Selamat Datang (Marhaban) ya Habib Riziek Shihab!

Sebagian perempuan yang lain harus bangun pagi, untuk menjual Koran, menjual nasi, jadi satpam, tukang parkir, jadi pedagang asongan untuk melanjutkan hidup. Tidak butuh dalil untuk menjelaskan ini. Sebab tanpa dalilpun kita mengetahui bahwa “Islam sangat memuliakan manusia”, maka sudah seharusnya kita ambil spirit kemanusiaan untuk membumikan Islam yang ramah terhadap perempuan, menjunjung nilai keadilan dan kemanusiaan.

Seperti apa yang disampaikan oleh Alimatul Qibtiah, bahwa  strategi gerakan feminis Muslim menurut Alimatul bersifat silent revolution, yakni dengan mempromosikan, mempertanyakan, memaknai ulang dan menginternalisasikan keadilan dengan mempertimbangkan konteks yang ia hadapi, seyogianya semua berlandaskan dengan esensi ajaran Islam.

Saya kira akun-akun shopee tidak pernah dipakai oleh para ukhti HTI untuk belanja, ataupun menjual barang, sebab shopee berasal dari barat, para investornya juga asing. Barangkali juga mereka tidak pernah pakai gojek dan gocar. Mereka juga tidak pernah pakai coat H&M, produk miniso, padahal barangnya begitu lucu, mereka juga tidak makan pizza, menolak nongkrong di KFC.

Namun, saya justru belajar dari ini, keistiqomahan yang dibangun oleh dirinya beserta kawan-kawannya dalam membumikan penerapan “khilafah” di Indonesia yang jelas jelas bertentangan dengan pancasila sangatlah bagus. Ada hal baik yang bisa diambil dari para pengikut HTI, dan saya tidak bisa menegasikan itu, meskipun mudharatnya begitu besar untuk masa depan Indonesia. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru