26 C
Jakarta

Mengapa Negara Perlu Waspadai Ekspansi Ideologi Transnasional Radikal

Artikel Trending

EditorialMengapa Negara Perlu Waspadai Ekspansi Ideologi Transnasional Radikal
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jokowi sebagai kepala negara, meminta semua pihak waspada terkait rivalitas antarideologi. Termasuk soal meningkatnya ideologi transnasional di era disrupsi teknologi ini.

Menurutnya, “yang harus kita waspadai adalah meningkatnya rivalitas dan kompetisi termasuk rivalitas antarpandangan, rivalitas antarnilai-nilai, dan rivalitas antarideologi. Ideologi transnasional cenderung semakin meningkat, memasuki berbagai semua lini kehidupan masyarakat, dengan berbagai cara dan berbagai strategi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi lanskap kontestasi ideologi,” ujar Jokowi (detik 01/6/21).

Dia juga mengatakan ideologi transnasional radikal kini cenderung semakin mudah menyebar ke seluruh kalangan. Menurut Jokowi, penyebaran ideologi transnasional ini bisa melampaui standar normal.

“Ketika konektivitas 5G melanda dunia, interaksi dunia juga akan semakin mudah dan cepat. Kemudahan ini bisa digunakan ideolog-ideolog transnasional radikal untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, ke seluruh kalangan, dan ke seluruh usia, tidak mengenal lokasi dan waktu. Kecepatan ekspansi ideologi transnasional radikal bisa melampaui standar normal ketika memanfaatkan disrupsi teknologi ini,” tutur Jokowi (detik 01/6/21).

Apa yang dikatakan Jokowi benar adanya. Penelitian dari pelbagai pihak/cendekiawan telah mengabarkan bahwa seluruh ekspansi ideologi radikal menyebar di kanal digital. Salah satu sasarannya adalah generasi milenial.

Kekhawatiran Presiden Indonesia tampak sama seperti kekhawatiran semua orang. Kendati, milenial dianggap kurang mumpuni dalam pelbagai hal, lemah pemahaman agamanya di satu sisi, dan lemah nalar kritisnya di sisi yang lain. Karena itu, para radikalis dan teroris ini memilih milenial lahan sasarannya.

Apalagi ditambah kobaran semangat besar yang dimiliki generasi milenial untuk mengetahui banyak hal. Kesemangatan itulah yang dimanfaatkan pendonor ideologi radikal/teroris bila tak diiringi oleh kesadaran mumpuni akan hal tersebut termasuk pemahaman agama.

Teknologi telah menjadi kehidupan nomor satu di badan milenial. Apa-apa yang diperlukan mereka lebih memilih digital sebagai jalan pintas utamanya ketimbang dunia nyata. Maka, kemudahan-kemudahan tersebut, bisa menjadi lembah yang mudah juga digunakan ideolog-ideolog transnasional radikal untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, dengan memanfaatkan disrupsi teknologi. Jika kecepatan konektivitas 4G saja telah sehebat itu jualan ideologi transnasionalnya selama ini, bagaimana jika 5G kelak.

BACA JUGA  Bayang-bayang Taliban di Indonesia

Atas hal itu, Negara mengajak masyarakat waspadai ekspansi ideologi transnasional radikal yang bertebaran di media sosial. Pesan penting wanti-wanti Presiden Joko Widodo mengenai ancaman ekspansi ideologi transnasional radikal. Menurut peneliti dan politis, Jokowi ingin menggelorakan spirit moderasi di Indonesia beserta pendalaman dalam praktik nilai-nilai Pancasila.

BACA JUGA  INDONESIA: Manipulator Agama dan Tagar TurunkanSebelum2024

Jokowi mengatakan pendalaman nilai-nilai Pancasila tak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Jokowi menilai perlu cara-cara baru yang luar biasa agar Pancasila dimanfaatkan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jokowi mengatakan: “Pancasila harus menjadi fondasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkeindonesiaan. Saya mengajak seluruh aparat pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, kaum profesional, generasi muda Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu dan bergerak aktif untuk memperkokoh nilai-nilai Pancasila dalam mewujudkan Indonesia maju yang kita cita-citakan,” (detik 1/6/21).

Dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila Jokowi berharap dapat dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk mengokohkan nilai-nilai Pancasila. Sebab kedepan, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia tidak mudah.

“Walaupun Pancasila telah menyatu dalam kehidupan kita sepanjang Republik Indonesia ini berdiri, tantangan yang dihadapi Pancasila tidaklah semakin ringan. Globalisasi dan interaksi antarbelahan dunia tidak serta-merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan,” kata Jokowi saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 2021 seperti disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (1/6/2021).

Kendati demikian, kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sudah selaiknya mewaspadai ekspansi ideologi transnasioal tersebut dengan cara menolak atau mengkounternya. Di samping itu, kita harus memupuk kembali kepancasilaan kita sebagi wujud cinta kasih kepada negara dan bangsa demi merekatkan kohesivitasnya.

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru