31.5 C
Jakarta

Mengapa Mereka Gampang Menghakimi Orang Lain? Baca Tulisan Ini!

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanMengapa Mereka Gampang Menghakimi Orang Lain? Baca Tulisan Ini!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Terlalu gampang menghakimi seseorang itu termasuk sikap yang tidak baik. Karena, kata Franz Magnis-Suseno, kepribadian seseorang tidak cukup dinilai dari perbuatannya, melainkan motivasi yang mendorong di balik perbuatan tersebut. Pada tulisan ini saya coba bahas sikap gampang menghakimi seseorang dan efek dari penghakiman itu.

Hakim-menghakimi di sini biasanya berbentuk klaim terhadap orang lain dengan sebutan yang mengundang kebencian atau yang biasa disebut dengan ujaran kebencian (hate-speech). Sebutan penghakiman yang paling parah, antara lain, berupa klaim ”kafir” (orang yang sesat atau ingkar terhadap syariat Allah Swt.) atau klaim ”thaghut” (setan yang terkutuk atau orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama). Klaim semacam ini banyak ditemukan, baik di forum-forum ilmu ataupun di media sosial.

Biasanya orang yang gemar menghakimi orang lain dengan klaim tersebut adalah mereka yang terpapar paham radikal atau radikalisme. Paham ini telah menutup akal sehat mereka sehingga mereka tidak mampu menfilter setiap perkataan sebelum mengucapkannya. Bahkan, dengan melakukan itu mereka merasa paling benar dan senang karena telah menghakimi orang lain tersesat. Sungguh menyebalkan memang orang semacam itu!

Pikiran orang yang terpapar radikalisme itu akan menjadi tertutup (eksklusif) dalam melihat perbedaan di luar dirinya. Mereka tidak dapat menerima perbedaan sebagai kenyataan hidup. Padahal, tanpa perbedaan hidup ini tidak berwarna. Perhatikan pesan surah al-Hujurat ayat 13 yang menggambarkan bagaimana Allah Swt. menciptakan manusia dalam jenis kelamin yang berbeda-beda, laki-laki dan perempuan. Bayangkan saja bagaimana stagnan hidup ini jika manusia diciptakan dengan jenis kelamin yang sama. Itulah pentingnya perbedaan hadir dalam hidup manusia.

Agar tidak terjebak dalam perbuatan saling menghakimi Allah Swt. memerintah dalam surah al-Hujurat ayat 6 untuk menelaah secara hati-hati suatu objek sebelum memberikan komentar. Perintah Tuhan ini sudah banyak dilupakan oleh manusia zaman sekarang, apalagi di tengah maraknya media sosial yang dengannya segala aktivitas mudah dilakukan. Dengan kemudahan itu mereka tidak menggunakannya pada hal-hal yang positif, melainkan menggunakannya untuk mengkafirkan orang lain.

BACA JUGA  Dakwah Kok ”Nakutin” Gitu Sih, Itu Dakwah atau Teror?

Pentingnya berhati-hati menilai atau mengomentari orang lain juga disinggung oleh Allah Swt. dalam surah an-Nahl ayat 125. Pada ayat ini seseorang diperintahkan untuk melakukan diskusi agar tidak gampang memberikan kesimpulan yang keliru. Kesimpulan yang keliru itu akan melahirkan klaim yang keliru pula. Melakukan diskusi itu sudah biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam memutuskan sesuatu. Biasanya beliau melakukan diskusi itu dengan sebagian sahabat beliau. Dengan diskusi itu keputusan akan mendekati kebenaran, karena keputusan mufakat jauh lebih kuat dibandingkan keputusan pribadi.

Melakukan diskusi itu tidak hanya membatasi pada kelompok atau agama tertentu. Diskusi terbuka lebar. Bisa dilakukan antar kelompok atau antar agama. Dengan melakukan diskusi semacam ini mindset seseorang akan jauh lebih terbuka untuk mendengarkan dan menghormati gagasan yang disampaikan orang lain. Meskipun tidak harus mengikutinya. Bukankah suatu keharusan memberikan ruang kepada orang lain untuk membenarkan pemikiran dan keyakinannya sendiri?

Sebagai penutup, hindari gampang menghakimi orang lain. Karena, itu akan memiliki efek negatif yang besar, yaitu timbulnya perselisihan, terus terjadinya perpecahan, dan berakhir dengan pertumpahan darah. Pentingnya menghindari saling menghakimi karena belum tentu apa yang kita katakan itu benar dan belum tentu pula apa yang disampaikan orang lain salah. Maka, kita cukup saling menghormati tanpa menghakimi.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru