27.9 C
Jakarta

Mengapa HTI Tidak Capek-capek Mengasongkan Khilafah?

Artikel Trending

KhazanahTelaahMengapa HTI Tidak Capek-capek Mengasongkan Khilafah?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Saya tidak pernah menutup diri untuk berteman dengan siapapun, termasuk tidak pernah mempersoalkan agama teman saya. Mau dia eks-teroris, Hindu, Buddha, Katholik, Protestan, atau Atheis sekalipun. Itu tidak jadi masalah, termasuk ketika memiliki teman seorang HTI. Tapi pada poin ini selalu menjadi kebingungan dalam diri saya.

Di antara teman-teman saya yang selalu memposting berbagai konten yang berkaitan dengan keagamaannya, hanyalah teman HTI saya ini yang selalu update berbagai hal tentang ritual keagamaannya. Hampir seluruh story WhatsApp yang didengungkannya adalah perihal khilafah dan khilafah. Rasa-rasanya, seperti orang jualan saja.

Tapi saya katakan bahwa mereka lebih dari mahir dari lulusan marketing Harvard University, sebab meski menjadi organisasi illegal, mereka dengan santainya tetap angkuh untuk membumikan khilafah dengan berbagai strategi.  Apalagi kalau bukan soal pendirian negara khilafah yang tidak pernah selesai.

Misalnya begini, di antara berbagai tulisan yang selalu terposting melalui akun Muslimah News dengan tagline “Inspiratif dan Mencerdaskan”, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak saya.

Saya sampai pada pertanyaan bahwa, mengapa permasalahan dalam tulisan-tulisan tersebut selalu “khilafah” yang menjadi solusi. Rasanya penerapan”khilafah” seperti “menyelesaikan masalah tanpa masalah”.

Narasi Catat HTI

Ada dua tulisan yang ingin saya komentari diantara ribuan tulisan yang terposting melalui akun Muslimah News.

Pertama, soal ketahanan pangan. Dalam tulisan Nindira Aryudhani, Islam mengatur segala bentuk hal yang ada di muka bumi ini, termasuk ketika “khilafah” tegak maka seluruh urusan pangan akan beres.

Sebab ia belajar dari masa lalu Islam era Khalifah Umar bin Khaththab ra. Saat Madinah mengalami paceklik, Umar mengeluarkan kebijakan agar setiap hari ada pemotongan unta untuk kemudian warga menikmati dagingnya. Lanjut apa yang Nindira tulis, bahwa selama ini sistem pemberdaya di Indonesia adalah demokrasi kapitalisme di mana semua segala bermotif ekonomi.

Bukan hanya itu, hampir seluruh tulisan yang ada di akun tersebut adalah semua harus kembali pada masa lalu khilafah. Narasi semacam ini, sangat ambigu. Bagaimana tidak, ketika seluruh persoalan bisa selesai dengan “khilafah”, sedang manusianya sama. Sama-sama memiliki nafsu untuk bertindak korupsi, tindak kejahatan dalam dirinya, dan semacamnya.

Kedua, menolak feminisme. Barangkali mahakarya narasi penolakan feminisme termuat dalam buku “Mengkritik Feminisme” karya Nazreen Nawas. Penolakan keras dari para perempuan-perempuan HTI atas feminisme tidak lain adalah bahwa mereka menolak segala bentuk dan segala jenis yang berasal dari Barat, termasuk ajaran feminisme yang berasal dari Barat.

BACA JUGA  Melihat Proposal Khilafah sebagai Ide Gila Para Aktivis Khilafah

Narasi yang kemudian mereka bangun adalah bahwa perempuan tercipta mulia oleh Allah Swt, tidak perlu mengotori dengan pemahaman demikian. Harus menjadi istri shalihah yang selalu di rumah mengurus anak dll.

Ada yang luput dari narasi ini, bahwa jauh dari pandangan kita, tidak selalu perempuan beruntung hidup nyaman, makan enak, lalu hanya memikirkan ritual ibadah dengan tujuan menjadi “istri shalihah”. dalam dimensi kehidupan yang berbeda, masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, sebab nasibnya tidak beruntung.

Mereka dipertemukan dengan suami yang tidak kalah jahatnya seperti singa. Masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan seksual di tempat umum, faktanya cukup mencengangkan dari Catatan Tahunan Komnas HAM.

Anti-Feminisme

Sebagian perempuan yang lain harus bangun pagi. Untuk menjual koran, menjual nasi, jadi satpam, tukang parkir, jadi pedagang asongan untuk melanjutkan hidup. Tidak butuh dalil untuk menjelaskan ini. Sebab tanpa dalil pun kita mengetahui bahwa “Islam sangat memuliakan manusia”, maka sudah seharusnya kita ambil spirit kemanusiaan untuk membumikan Islam yang ramah terhadap perempuan, menjunjung nilai keadilan dan kemanusiaan.

Seperti apa yang Alimatul Qibtiah sampaikan, bahwa strategi gerakan feminis Muslim bersifat silent revolution, yakni dengan mempromosikan, mempertanyakan, memaknai ulang dan menginternalisasikan keadilan dengan mempertimbangkan konteks yang ia hadapi, seyogianya semua berlandaskan esensi ajaran Islam.

Saya kira akun-akun Shopee tidak pernah para ukhti HTI pakai untuk belanja, ataupun menjual barang. Sebab Shopee berasal dari Barat, para investornya juga asing. Barangkali juga mereka tidak pernah pakai Gojek dan Gocar. Mereka juga tidak pernah pakai Coat H&M, produk miniso, padahal barangnya begitu lucu, mereka juga tidak makan Pizza, menolak nongkrong di KFC.

Namun, saya justru belajar dari ini. Keistiqamahan yang mereka bangun beserta kawan-kawannya dalam membumikan penerapan “khilafah” di Indonesia yang jelas jelas bertentangan dengan Pancasila layak kita apresiasi. Keistiqamahannya, bukan narasi khilafahnya.

Ada hal baik yang bisa kita ambil dari para pengikut HTI, dan saya tidak bisa menegasikan itu, meskipun mudharatnya begitu besar untuk masa depan Indonesia. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru