Menganut Islam yang Penuh Damai

Assalamualaikum. Dengan ini saya mengirimkan tulisan berupa resensi buku, besar harapan untuk bisa dimuat di media Harakatuna. Wassalamualaikum. Hormat saya, Muktir


0
60 shares

Judul               : Islamku, Islammu, Islam Kita

Penulis            : Edi AH Iyubenu

Tebal               : 196 halaman

Penerbit           : Diva Press

Cetakan           : 1 Desember, 2018

ISBN               : 978-602-391-667-2

Peresensi         : Muktir Rahman

Gambaran hubungan antar masyarakat dewasa ini terasa tegang. Kontestasi politik jadi pemantiknya. Masyarakat terpecah menjadi kubu “Cebong” versus “Kampret” di media sosial. Masing-masing kubu merasa paling benar sambil lalu menuduh lainnya salah dan sesat. Agama dijadikan senjata untuk membenarkan tindakan itu. Politisasi agama alih-alih menyejukkan, justru menjadi ladang menumbuhkan kebencian, caci maki, dan berujung permusuhan. 

Sikap saling menghormati perbedaan semakin luntur. Sekali mereka berbeda, sudahlah bukan lagi saudara. Jika mereka berada di kelompok lain, paham lain, atau amaliahnya berbeda, maka tidak perlu menjalin ukhuwah denganya. Akhlak sebagai ajaran inti Islam yang memuat pentingnya saling menghormati, menjalin persaudaaraan, penuh kasih sayang, menjadi sulit dipahami dan diaplikasikan.

Hal itu tidak lepas dari cara mereka menganut Islam. Bermula dari cara mereka memperlajarinya, kepada siapa mereka belajar dan bagaimana mereka mengenal gurunya. Ketemu guru yang mengajarkan keindahan persaudaraan, maka begitulah paham yang mereka dapat. Ketemu dengan guru yang mengajarkan orang lain salah, maka demikian paham yang dianutnya. Dari situlah kemudian untuk membentuk karakter keberagamaan yang baik, harus ada upaya untuk membandingkan, menanyakan, menelusuri, mendalami rekam jejak sang guru.

Sayangnya kebanyakan orang yang dijadikan guru sebatas bermodal terjemahan Alquran dan terjemahan kitab hadis tanpa mengerti sebab musabab turunnya ayat dan hadis tersebut. Ironisnya lagi, si guru mengisi pengajian hanya bermodal link internet, sehingga ajaran yang disampaikan memberikan pemahaman yang kaku. Islam dipahami sebagai ajaran yang hitam putih, tidak memberi ruang untuk perpaduan warna lain. Apa-apa bila tidak sesuai dengan jalan pikirannya salah, sesat, haram, kafir. Tak ayal, penyampaian tausiahnya pun membentak, marah-marah, mencaci, menjelek-jelekkan. Namun sekalipun tidak mencerminkan tata krama, tetap saja banyak pengikutnya.

Gus Mus, dikutip dalam halaman 37, menyatakan bahwa guru ialah yang alim dan sealigus saleh amaliahnya. Wujud paling kentara adalah akhlak karimah, wujud nyata dari kebijaksanaan. Itulah kenapa pemangku dakwah seharunya hanya para ulama, orang yang mumpuni ilmunya dan saleh, sekaligus mengamalkan ilmunya. Menjadi dai hukumnya fardhu kifayah dan biarkan mereka yang mumpuni saja yang mengembannya. Kalangan di luar kriteria tersebut, terlebih yang hanya bermodal link internet, mestinya tahu diri saja. Agar tidak terjatuh sebagai kabura maqtan, pula tidak memicu blunder sosial yang tak diperlukan di masyarakat (hlm. 72). Namun sayang, sikap tahu diri semakin langka.

Alasan terkuat kenapa dai harus memiliki kedalaman ilmu, bukan sekadar bermodal satu dua ayat dan hadis, adalah karena fenomena masyarakat yang akan dihadapi amatlah majemuk, luas, tak terbatas. Banyak persoalan kehidupan yang menyelimuti umat Islam yang luar biasa beragam. Tentu hanya mereka yang memiliki keilmuan mendalam dan luaslah yang mampu memahami, menilai, dan lalu menasihatkan dengan tuturan-tuturan yang bijaksana. Kemampuan berbijaksana di hadapan realitas hidup umat inilah yang dimaksud dengan tahu menjalankan dakwah dengan makruf (hlm. 76).

Edi AH Iyubenu melalui buku Islamku, Islammu, Islam Kita menawarkan perenungan kepada pembaca untuk lebih teliti dalam memahami ajaran Islam melalui guru yang tepat. Sebelum berguru, cari tahu terlebih dahulu rekam jejaknya, silsilah keilmuannya, bagaimana cara ia menyampaikan ajaran. Jika cendrung memantik amarah, kebencian, dengki, ketegangan, hoax, fitnah, permusuhan, maka sebaiknya tinggalkan ia, pastilah itu bukan dilakukan oleh ulama pewaris nabi (hlm. 145). Beralihlah kepada guru yang mengedepankan persaudaraan, pandangan-pandanganya bijaksana dan lelakunya ahli ibadah dan berakhlak mulia (hlm. 39).

            Islam itu penuh damai, mengutamakan keindahan akhlak dan mengajak umat manusia bersaudara dalam keragaman paham, pandangan, aliran, mazhab yang notabeneadalah sunnatullah dan karenanya sulit diseragamkan. Islam yang demikianlah yang harus kita pahami dan anut.

Muktir Rahman, Dosen Instik Annuqayah, Sumenep.

Baca Juga:  Dualisme Paham Keagamaan; antara Teosentris dan Antroposentris

Like it? Share with your friends!

0
60 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Muktir