26.5 C
Jakarta

Mengakhiri Diskriminasi Anak Semua Bangsa

Artikel Trending

EditorialMengakhiri Diskriminasi Anak Semua Bangsa
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Menjelang Pemilu 2024 semuanya bisa terjadi. Sesuatu yang tidak lengkap, terpecah-pecah, dan aman tentram kadang bisa menjadi sebaliknya. Bahkan benturan sana-sini sengaja dibuat untuk sekadar dijadikan sensasi. Akhirnya yang terjadi adalah dikriminasi di atas diskriminasi.

Kita melihat, hari ini bangsa Indonesia terlihat baik-baik saja. Bangsa Indonesia sedang dalam perapian dan pemulihan dari segala ancaman dan teror. Contohnya, perayaan Tahun Baru Imlek 2574 diwarnai sukacita segenap warga etnik Tionghoa di Tanah Air.

Di perayaan Imlek tersebut, semuanya berjalan lancar. Semuanya berjalan penuh khidmat dan penuh syukur setelah melewati tahun-tahun yang tak mudah. Pelarangan demi pelarangan atas segala rupa-rupa tradisi Tionghoa, sekarang sudah terentaskan dengan penuh sukacita.

Jika dulunya warga Tionghoa sangat takut merayakan tahun baru Imlek, kini mereka sudah dengan leluasa merayakannya. Seperti warga Tionghoa yang ada/tinggal di Solo, mereka merayakan Imlek sejak jauh-jauh hari.

Di jalan-jalan ada lampu-lampu lampion mengerlip dengan hiasan yang sangat indah, ada gambar, dan ada musik-musik khas warga Tionghoa. Mereka merayakan Imlek dengan guyub-rukun dan dibantu oleh pemerintah sekitar.

Sekarang perayaan imlek, sebentuk sama dengan perayaan-perayaan tradisi keagamaan lainnya. Apalagi, setelah Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.

Gus Dur tak hanya mempersilakan warga Tionghoa menjalankan aktivitas keagamaan dan kebudayaan. Tetapi ia memberikan ruang untuk memperjuangkan hak-hak sipil mereka yang selama ini terdiskriminasi. Terbukti Gus Dur memilih Kwik Kian Gie, yang berasal dari etnik Tionghoa, untuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian kala itu.

Jalan terjal yang dulunya dirasakan oleh warga Tionghoa, kini mereka bisa menikmati kemudahan. Imlek di mana era Presiden Soeharto selama 32 tahun, dilarang dirayakan. Tapi dengan keluasan hati seorang Gus Dur, Imlek dipatenkan menjadi hari spesial untuk warga Tionghoa.

Saat itu Gus Dur mempertaruhkan jiwa-raganya sebagai bagian keberanian politik dirinya untuk memberikan keleluasaan bagi warga Tionghoa merayakan Imlek. Pada akhirnya, perjuangan warga Tionghoa bisa mencapai puncaknya, mereka sudah bisa merayakan tahun baru secara mudah. Warga Tionghoa bisa merayakan imlek secara terbuka dan penuh kehangatan.

Artinya, diskriminasi yang dibuat oleh anak bangsa sendiri, sudah hilang. Maka itu, jangan sampai kemudian ada diskriminasi selanjutnya.

Kita tahu, tiap-tiap perayaan di dalam agama atau tradisi sendiri, butuhlah dukungan dari pelbagai pihak. Alasannya untuk sama-sama ingin berkumpul bersama keluarga, dan bisa bermunajat kepada Sang Pencipta agar diberikan kesehatan dan kemakmuran. Tapi terkadang, karena ada nafsu angkara murka yang menjelma di dada kita, semuanya jadi tidak srawung.

Oleh sebab itu, kita harus menghilangkan sekat-sekat di antara anak semua bangsa. Kita harus memperkuat dan saling menguatkan keberagaman, toleransi, solidaritas, dan gotong royong.

Kita sudah tidak harus lagi memandang etnik, agama, warna kulit, adat, dan budaya. Keberagaman nan indah merupakan modal sosial untuk segera bangkit menuju Indonesia maju yang menyejahterakan rakyat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Sudah saatnya Indonesia lebih beradab dan tanpa diskriminasi.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru