25 C
Jakarta

Menerbitkan Karya Pertama, Bagaimana Tipsnya?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiMenerbitkan Karya Pertama, Bagaimana Tipsnya?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sekiranya ada hal yang membanggakan bagi seorang penulis, maka itu adalah kala karyanya berhasil diterbitkan. Buku atau karya pertama pasti memiliki nilai tersendiri bagi sang penulis. Kendati tak semua menganggap kalau karya pertama mempunyai kualitas yang memuaskan—bahkan bagi sang penulis sendiri, tapi kita tak bisa menafikan kalau karya itu bakal selalu diingatnya.

Ia menjadi pijakan pertama dari kemonceran bakal menanti ke depannya. Bisa jadi, karya itu bisa mengantarkan namanya ke panggung sastra atau penghargaan yang bergensi. Dari situ, banyak penulis (baca: pemula) yang begitu ingin menerbitkan bukunya. Ia ingin usaha menahunnya dicetak, dipajang di toko buku, dan menemui pembaca di berbagai penjuru.

Sayangnya, keinginan penulis dalam menerbitkan buku itu bisa menjadi celah bagi pelaku penerbitan nakal untuk menyasar mereka sebagai korban. Kita tahu, sekarang ini, ada banyak penerbitan buku yang menawarkan beragam paket penerbitan. Kalau dahulu kita hanya mengetahui penerbit mayor sebagai corong penerbitan, maka sekarang kita sudah lazim mendengar soal penerbit indie atau independen dan vanishing publisher. Apa perbedaan dari kategori penerbit tersebut?

Secara singkat, penerbita mayor besar dalam hal kapasitas produksi. Penyebaran produk mereka juga luas. Dalam hal soal penerimaan naskah, mereka mengambil jalur seleksi. Penulis mengirim naskah ke mereka, naskah diseleksi, dan kalau layak atau cocok, maka naskah diterbitkan.

Adapun Penerbit indie atau independen, bisa diartikan sebagai penerbit—biasanya berskala kecil—yang memiliki ideologi khusus, bahkan radikal; yang bergerak di luar arus utama perbukuan. Sifatnya yang bersendiri sendiri, membuatnya memiliki kecenderungan khusus untuk menerbitkan buku-buku di dalam selingkung mereka, tapi ketat dalam menjaring naskah.

Sementara itu, vanishing publisher, mengacu ke penerbitan buku yang menyediakan paket berbayar bagi mereka (baca: penulis) yang ingin menerbitkan buku. Mereka menyediakan paket yang melayani penyuntingan naskah, pengatakan isi, pembuatan kover buku, sampai promosi dan penjualan buku tersebut.

Ketiga jenis penerbit itu sudah marak di Indonesia. Sekian penerbit menawarkan perbagai kekhasan dan layanan. Tapi, sekali lagi, tak semua penerbit itu baik-baik saja. Seperti yang merebak belakangan ini. Jagat sosial media ramai dengan unggahan postingan akun Alfarisi (@ngeneaewes_) pada 08/11/22 yang menceritakan dirinya ditipu oleh sebuah penerbit di Jogyakarta, Indie Book Corner.

Singkat cerita, si penulis itu hendak menerbitkan karya novelnya di penerbit tersebut. Ia menceritakan soal usahanya mencari penerbit yang tepat, sebelum kemudian memutuskan pilihannya pada Indie Book Corner, karena terlihat telah mempunyai nama. Ia pun menghubungi kontak penerbit, yang langsung dihubungkan dengan owner penerbit, yaitu Irwan Bajang. Komunikasi di antara mereka terjalin secara normal. Si penulis setuju untuk mengirimkan naskahnya dan membayarkan sejumlah uang penerbitan.

Sialnya, setelah sekian minggu, komunikasi tampak seret. Si penulis berulangkali menanyakan soal kelanjutan naskahnya, tapi dibalas dengan lambat dan tampak berprentensi beralasan terus-menerus. Sampai akhirnya, mereka puntus kontak sama sekali. Orang dari pihak penerbit sulit dihubungi, pesan dari penulis berbulan-bulan dianggurkan.

Tak putus akal, si penulis pun menyambangi akun penerbit dan si owner penerbit, tapi sialnya lagi, kolom komentarnya dibatasi. Singkat kata, akses untuk mendekati pihak penerbit terlihat seolah-olah dibatasi. Saat ia meminta saudaranya untuk mengunjungi kantor yang menjadi alamat penerbitan itu pun, ia mendapati sesuatu yang mengejutkan: bahwa tempat itu sudah lama kosong, ditinggalkan. Ada dugaan, kalau penerbit itu mengalami banyak masalah, mereka diambang kebangkrutan.

Mendapati hal itu, sehari setelah postingan itu ramai, muncul klarifikasi dari pihak yang bersangkutan, Irwan Bajang. Ia mengklarifikasi soal komunikasi yang seret, bilang bahwa itu karena ia kehilangan akses untuk email dan nomor telepon penerbit, lantaran ada perubahan pekerja.

Ia bilang pula sedang membetulkan manajemen perusahaan akibat keluarnya sejumlah pekerja. Terakhir, ia menjanjikan akan mengembalikan uang si penulis dalam waktu dekat. Ia berharap klarifikasi itu bisa menyelesaikan masalah.

Apakah masalah tersebut benar-benar selesai? Alih-alih terselesaikan, kasus itu justru merembak ke mana-mana, ia menjadi pembuka bagi sesuatu yang selama ini tertutupi. Kasus si penulis tadi rupanya hanya puncak gunung es.

Sebab, seturut kemunculan pengakuan penipuan tersebut, di linimasa lain, misalnya di akun Facebook Malkan Junaidi, terdapat cerita penipuan lain. Bahkan berita terbaru muncul pada Harian Jogja, memberitakan kalau sejumlah korban telah mengajukan kasus itu di Polda Yoygakarta. Publik literasi menyimak sejak kemunculan pengakuan itu, berharap kasus tersebut segera terselesaikan.

Namun, bukan berarti kasus semacam ini akan menjadi yang terakhir kali. Kita perlu mengakui, pengetahuan mengenai penerbitan buku tak dimiliki secara baik oleh semua orang yang ingin menerbitkan karya mereka.

Oleh sebab itulah, mereka menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang memanfaatkan celah atau kepolosan mereka. Lalu, apa yang perlu kita ketahui supaya kita, juga orang-orang di sekitar kita tak menjadi korban berikutnya? Ada beberapa catatan yang bisa menjadi pegangan apabila kita ingin menerbitkan buku.

Pertama, upaya kroscek penerbit yang ingin kita kirimi naskah menjadi langkah yang tak boleh dilewatkan. Kendati hal ini tak menjamin bahwa penerbit tersebut terpercaya, seperti dalam kasus penulis di atas, sebab ia pun terlebih dahulu mengecek profil penerbit yang menipunya.

Namun, dengan langkah ini, kita bisa mendapatkan gambaran awal dari profil penerbit, populeritasnya, kinerjanya selama ini, dan hubungannya dengan pembaca di luar sana. Untuk menambah kepercayaan kita, upaya bertanya dengan penulis atau orang lain terkait pendapat mereka atas penerbit bersangkutan pun bisa dilakukan.

Kedua, apabila kita telah menemukan penerbit terpercaya dan cocok dengan jenis naskah kita, pastikan pula jalur penerbitan macam apa yang mereka terapkan. Kalau kategorinya seperti penerbit mayor, maka kita perlu mengirimkan naskahnya langsung dan menunggu respons mereka.

Begitu pula kalau mereka melabeli sebagai penerbit indie atau independen. Tapi kalau mereka termasuk ke penerbit berbayar, kita mesti memastikan fasilitas apa saja yang kita dapatkan. Jangan sampai kita merugi sendiri. Dalam proses ini, keberadaan MoU atau kontrak penerbitan juga harus dibicarakan di awal secara jelas.

Bagaimana pembagian royaltinya, berapa lama sekali royalti ditransfer, dijual ke mana saja, berapa minimal cetak, dan hal-hal lainnya mesti dibahas dengan jelas. Kalau ada yang sesuatu meragukan, segera tanyakan terus sampai menemukan kejelasan.

Ketiga, jalin komunikasi terus-menerus dengan penerbit yang bersangkutan. Terlepas dari jenis penerbit yang melayani penerbitan buku kita, komunikasi di antara kita sebagai penulis dengan pihak penerbit selayaknya terjalin dengan baik. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana naskah kita diproses. Apabila masih di tahap penyuntingan, akan lebih baik kalau kita bisa menjalin komunikasi dengan penyunting atau editornya.

Dengan begitu, kita jadi tahu bagian mana saja yang dipangkas, bagian mana yang sebaiknya ditambah, dan bagaimana membuat naskah itu memiliki perwajahan dan kualitas yang prima. Dalam hal ini, penerbit yang baik akan membuka proses penggarapan naskah seterbuka mungkin kepada penulisnya. Dan itu dilakukan dengan jalinan komunikasi kepada para penulisnya.

Keempat, kawal terus naskah kita sampai akhirnya menemui pembaca. Setelah melewati berbagai proses penggarapan dan pematangan, naskah yang selesai bukanlah akhir dari penantian kita. Ia masih memiliki proses lagi, yaitu menemui pembaca. Dalam proses ini, bukan berarti kita, sebagai penulis, lepas tangan dan tinggal ongkang-ongkang kaki menanti laporan penjualan buku kita.

Tapi, kita perlu terlibat langsung di dalamnya, mulai dari turut mempromosikan buku, memantau penjualan (kalau penerbit tak memberi laporan, sebaiknya kita bertanya atau meminta), dan melihat pasar atau pembaca menyerapnya.

Kendati buku atau karya pertama tak langsung menjamin kesuksesan kita, tapi memantaunya seperti ibu yang memantau anak pertama belajar berjalan, menjadi proses yang sebaiknya dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas karya dan kerja keras kita.

Dan keempat langkah itu setidaknya bisa menjadi ancang-ancang bagi siapa pun yang ingin menerbitkan karya mereka. Dengan kehati-hatian, mimpi menerbitkan karya dan menjadi penulis tentu bisa dicapai. Kita hanya perlu memperhatikan setiap langkah, belajar dari kesalahan orang lain, dan terbuka dengan saran-saran di sekitar kita.

Wahid Kurniawan
Wahid Kurniawan
Pegiat literasi. Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru