32.2 C
Jakarta

Menelisik Terorisme di Madura

Artikel Trending

Milenial IslamMenelisik Terorisme di Madura
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sejak lama bisik-bisik dari para pengamat terdengar lirih bahwa banyak orang-orang Madura juga terlibat dalam aktivitas terorisme. Kabar lirih itu banyak yang menampik, tak ada seorang pun yang percaya bahkan mengacuhkannya. Namun ternyata, kabar itu terbukti kebenarannya. Setelah beberapa orang yang mengatasnamakan Madura terbukti ditangkap dalam kasus terorisme.

Ya, orang itu ditangkap di Jalan Merapi, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Kota Sampang, Madura, Jawa Timur. Orang itu adalah seorang guru aparatur sipil negara (ASN) berinisial S (47) ditangkap di rumah kontrakan bersama istri dan anaknya. Dia adalah salah satu guru yang paling dihormati di sekolahnya. Sehari-hari ia mengajar di sebuah SD di Sampang, dan dia dalam KTPnya bertulis warga Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Keterlibatan ASN

Keterlibatan guru tua ini dengan terorisme ternyata tidak main-main. Dia adalah aktor penting yang ternyata sudah lama melaukan dan beraktivitas di dalam jaringan terorisme di Indonesia. Bahkan ia adalah salah satu ideolog penting dalam gerakan-gerakan terorisasi yang mempengaruhi orang-orang Madura untuk masuk dan terlibat dalam aktivitas terorisme.

Guru tua ini telah lama diangkat menjadi ASN sejak 2000. Artinya dia sudah lama mengkhianati Indonesia dan guru-guru di Indonesia untuk menjadi pagar moral yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Seorang ASN yang melanggar sumpahnya menjadi abdi negara-bangsa, adalah seorang pengkhianat yang tak bisa menjaga etik dan moralnya sebagai ASN dan warga Indonesia.

Dan ketika seorang ASN malah terlibat dengan gembong terorisme. Artinya aparatur sipil negara sedang ada masalah. Bila aparatur sipil negara sudah bermasalah, artinya kehidupan yang lebih luas juga mengalami masalah yang lebih kompleks. Lebih luas, Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Dan bagi saya, orang Madura terlibat dalam paham terorisme adalah sebuah keunikan tersendiri. Unik ini lebih dari sekadar terkejut dan terkejut. Kok bisa orang Madura kemasukan paham terorisme? Aneh dan sangat aneh malah. Mengapa saya mengatakan demikian. Sebab, masyarakat Madura secara keagamaan sudah tidak perlu diragukan lagi bagiamana susur galur keagamaannya. Apalagi, Madura lekat dengan ritus dan adat kemaduraan yang maha dahsyat dalam toleransi dan andab ashar (sopan santun, lebih menghargai yang lain).

BACA JUGA  Memberantas HTI di Lapas melalui Humanisme Masyarakat-Pemerintah

Apalagi, masyarakat Madura lekat sekali dengan Nahdlatul Ulama. Demikian lekat terkait NU sehingga ada joke masyarakat Madura di luar NU seakan non-Islam. Maka itu, karaktaer kemaduraan di atas sangat jauh dari sikap keras dan kekerasan. Termasuk juga karakter NU sendiri secara ritus keagamaan, sangat jauh dan bahkan sangat anti kekerasan. Apalagi yang bernuansa kekerasan sistematis seperti terorisme.

Benarkah Orang Madura?

Hingga hari ini, orang-orang yang tertangkap dan mengatasnamakan orang Madura sebagai tempat asalnya, menemukan kejanggalan dan keganjilan. Lebih-lebih Sumenep yang memiliki peradaban sangat kuat karena nilai-nilai luhur kekeratonan Sumekar (Soengenep) tidak luntur sampai sekarang. Oleh sebab itu, ada apa sebenarnya di Madura? Benarkah yang tertangkap merupakan warga Madura. Benar-benar asli warga Madura, yang tak sekedar KTP Madura, sekedar berdomisili di Madura, tapi secara kultural memang Madura?

Hingga hari ini juga, pertanyaan di atas tidak terjawab. Jawaban itu tidak datang. Madura adalah pulau peradaban yang sangat kuat. Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang, banyak oknum yang mencoba dan ingin memanfaatkan ketenangan dan keramahan warga Madura. Contohnya, dari pemberitaan yang dipost secara berlebihan dan membabibuta.

Bagi banyak orang, terlalu jauh warga Madura terlibat dengan terorisme dan tergoda dengan aktivitas terorisme. Sebab, perilaku terorisme adalah kebalikan dari sikap Madura yang tegas dan apa adanya. Sikap terorisme adalah sikap pengecut dan hanya berani menyerang dari belakang dan dilakukan secara sembunyi-bunyi. Bukan duel tatap wajah. Ini sangat kontras dengan karakteristik manusia Madura.

Jika alasannya teroris masuk karena memanfaatkan agama dan relasi sosial ekonomi, warga Madura sudah selesai dengan hal-hal tersebut. Warga Madura dengan nilai-nilai luhur kemaduraannya, serta tradisi KeNUan dan Kemuhammadiyaannya, sangat jauh dari lanksap ajaran dan perilaku kekerasan dan teror bom atas nama agama. Bukankah sangat jelas NU dan MU paling gencar memenangi tindakan teror yang memanipulasi agama selama ini?

Sampai saat ini, kita masih ingin mendengar apa yang sesungguhnya terjadi terkait teroris di Madura? Apa sebenarnya motif yang melatarbelakangi? Target apa yang ingin dicapai para pelaku? Mudura yang ramah, gemulai, toleran, dan berperadaban, mari kita jaga dan lestarikan!

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru