31.1 C
Jakarta
Array

Menelisik Rahasia Hari Tasyrik

Artikel Trending

Menelisik Rahasia Hari Tasyrik
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Di dalam islam ada hari-hari istimewa selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hari-hari tersebut hampir disejajarkan dengan hari raya itu sendiri. Bahkan bisa dikatakan sama dari segi pelarangan puasa pada hari tersebut. Hari itu disebut hari tasyrik.

Mengenai latar belakang penamaan Tasyrik (تشريق) ada beberapa versi. Pertama karena pada hari Tasyriq orang-orang pada menjemur (yusyarriqûn) daging kurban. Kedua تشريق juga berarti membuat daging kurban jadi dendeng. Ketiga tasyrik juga berarti menyinarkan cahaya, ini sesuai dengan arti asal Adha yakni nampak. Sehingga pada hari Adha ‘mulai nampak’ disusul dengan Tasyrik ‘sinar cahaya’.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hari tasyriq itu terdapat pada tiga hari setelah hari Idul Adha. Tiga hari tersebut yang dimaksud dalam firman Allah swt QS al-Baqarah [2]: 203;

﴿وَاذْكُرُوْا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ﴾

Ingatlah Allah swt pada hari-hari tertentu.

Hari-hari tertentu itu ditafsiri dengan hari Tasyrik oleh mayoritas mufasir semisal al-Thabari dan Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsiran Abdullah bin Abbas. Perintah berizikir pada hari Tasyrik ini berangkat dari kebiasaan kaum Arab pra-Islam yang suka menyebut-nyebut dan membanggakan kebaikan leluhur mereka usai melaksanakan ibadah haji. Sehingga turunlah perintah Allah swt untuk berzikir kepada-Nya pada hari-hari terakhir rangkaian ibadah haji yakni hari Tasyrik.

Zikir kepada Allah swt di hari Tasyrik oleh para ulama diartikan dengan takbir seperti halnya takbiran pada malam hari raya. Meskipun zikir takbir pada hari Tasyrik hanya terbatas setelah salat saja baik fardu maupun sunah, sendiri ataupun berjamaah. Coba kita bandingkan dengan hari raya Idul Fitri, hari-hari setelahnya tidak diperkenankan untuk bertakbir. Karena takbir hanya terbatas pada dua hari raya dan hari tasyrik saja. Zikir dengan basmalah dan takbir juga dilakukan saat menyembelih hewan kurban. Takbir juga dianjurkan bagi jamaah haji saat melontar jumrah di Mina saat hari Tasyrik. Selain itu zikir pada hari Tasyrik juga dimaksudkan bagi orang yang membaca bismillah saat makan minum di hari Tasyrik.

Seperti halnya takbir, pada lima hari ini (Idul Fitri, Idul Adha dan tiga hari Tasyrik) juga diistemewakan dengan pelarangan puasa. Jadi dalam satu tahun ada lima hari yang dilarang puasa. Maka bisa dikatakan bahwa hari Tasyrik merupakan hari pesta makan minum dan zikir kepada Allah swt (HR. Muslim). Oleh karenanya puasa menjadi larangan (HR. Ahmad, al-Nasa’i dan Malik).

Jika kita cermati mengapa hari Tasyriq menjadi hari makan dan minum. Sufi kenamaan Mesir, Dzun Nun al-Mishri pernah mengungkapkan hikmah dibalik pelarangan puasa pada hari Tasyrik. Sebab di hari Tasyrik para jamaah haji sedang berkunjung dan bertamu ke Baitullah. Kurang elok rasanya jika orang berpuasa saat bertamu. Tentu hari Tasyrik menjadi hari jamuan Allah swt bagi seluruh umat Islam.

Semua kita sudah mengetahui jika berkurban dilaksanakan pada hari Idul Adha dan hari Tasyrik. Tentunya pada hari-hari tersebut banyak orang menyembelih binatang kurban dan melimpahnya daging kurban. Bisa jadi hari Tasyrik menjadi hari pesta daging. Pada hari itu semua orang bisa mencicipi daging. Mengingat tidak semua orang setiap harinya bisa makan daging. Melalui syariat kurban inilah Allah swt menjamu para hamba-Nya. []

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru