Meneladani Semangat Literasi dari Para Pewaris Nabi

Beragam alasan ulama menulis kitab


1
25 shares, 1 point

Tradisi kenabian mengajarkan, “Ikatlah Ilmu dengan tulisan!”. Para ulama yang didaulat sebagai pewaris para nabi tentu amat sadar akan pentingnya menuliskan ilmu. Dari sinilah lahir motif keagamaan untuk menulis kitab yang pada gilirannya melahirkan tradisi mengabadikan ilmu dalam tulisan yang kuat dalam Islam.

Namun, jauh dari kesan normatif semata, konteks sejarah juga seringkali memberi bingkai bagi berbagai alasan penguat untuk menulis kitab. Ada berbagai situasi yang dialami ulama sehingga mereka terdorong untuk merangkai kalimat yang menyusun satu kitab.

Di antara situasi yang muncul yang menjadi alasan lahirnya sebuah karya adalah karena perintah dari guru. Ambil sebagai contoh lahirnya kitabMursyidul Wajīz karya Kiai Soleh Darat Semarang (w. 1903). Dalam pengantar kitab tersebut Kiai Soleh menuturkan, “Måkå dén perintahi ingsung dené guru ingsun kapurih gawé terjemah cårå Jåwå ing dalem ilmuné tajwidul Qur’ānil ‘aẓīm.” Artinya, “Saya diperintah oleh guru saya untuk menulis kitab berbahasa Jawa berisi ilmu tata-cara baca al-Qur’an yang mulia.” Berlandaskan perintah tersbut, Kiai Soleh menuliskan kitab tajwid dengan tebal 124 halaman.

Konteks lain yang memberikan dorongan untuk menulis adalah sebagai usaha untuk menenangkan hati dalam menghadapi cobaan. Ketika semua usaha rasanya telah dilakukan. Ketika semua dokter telah dikunjungi. Ketika semua obat telah diminum. Dan penyakit tak kunjung sembuh, maka Imam al-Buṣirī menghibur diri dengan menggubah puisi sanjungan untuk sang Nabi saw. Lahirlah kitab yang amat terkenal, yang selalu dilantunkan dalam berbagai situasi keagamaan di Indonesia, yaitual-Burdah fil Maḥabbah wal Madḥi ‘alā Sayyidil Mursalīn ataukasidah Burdah. Justru setelah kerelaan menerima cobaan dan menenangkan diri dengan memuji Nabi saw., kesembuhan yang dicari hadir kepadanya.

Lahirnya sebuah kitab juga bisa diniatkan untuk melanggengkan ajaran guru yang tidak menulis satu pun kitab. Padahal ajaran tersebut sangat penting, terutama di masa mendatang ketika anak-cucu kehilangan teladan dari manusia hidup. Maka mereka yang telah wafat bisa menjadi rujukan. Hal ini adalah yang menjadi konteks lahirnya kitab Laṭā’iful Minan karya ’Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī (w. 1309). Penulis kitab al-Ḥikam tersebut menceritakan, “Guruku (Syaikh ‘Abul Ḥasan asy-Syāżilī [w. 1258]) pernah menyampaikan kepadaku bahwa suatu ketika ia ditanya: ‘Wahai tuan yang mulia mengapa tuan tidak menulis sebuah kitab yang bisa menjadi petunjuk ke jalan Allah swt.?’ Maka beliau menjawab: kitab-kitabku adalah para sahabatku.” Itu adalah simbol. Bila seorang ingin mengetahui ajaran pendiri tarekat Syāżilīyah itu, maka carilah para muridnya. Ia juga berarti bahwa sang guru berharap para muridnya lah yang akan menulis kitab yang memuat ajaran-ajarannya. Dan ini lah yang dipercayai ’Ibnu ‘Aṭā’illāh sehingga beliau menuliskan ajaran sang guru dalam kitab Laṭā’iful Minanini.

Baca Juga:  Perempuan dan Gerakan Literasi Usia Dini

Sikap rendah-hati mencontoh amal ibadah mereka yang alim juga sering menjadi alasan para ulama menulis kitab. Nabi diberitakan pernah bertutur yang kira-kira artinya, “Siapa meniru satu kelompok, maka dia menjadi bagiannya.” Seringkali ucapan ini dimaknai untuk menilai perilaku negatif. Umat muslim yang meniru umat agama lain, laki-laki yang meniru wanita, atau sekedar seorang yang meniru kelompok yang dikenal buruk. Para ulama kita melihatnya dari sisi perilaku positif. Para ulama yang alim dikenal dengan karya-karya agungnya. Maka mencontoh mereka menjadikan seseorang bagian dari kelompok mulia ini. Karya-karya Imam Nawawi al-Bantani (w. 1897) hampir selalu didahului dengan frasa kerendahhatian seperti,“وِانا وِن كنت لست اهلا لهذا الشأن والحال قصدت التشبه بالرجال لما ورد في الخبر من تشبه بقوم فهو منهم ”. Artinya: “Meskipun aku tiada pantas memiliki kehormatan situasi dan kondisi ini (yaitu menjadi penulis kitab), aku hanyalah bermaksud meniru para ulama terkemuka… karena ada satu riwayat ‘siapa meniru satu kelompok maka ia bagian mereka’”. Nampaknya Imam Nawawi merasa bahwa beliau menulis kitab bukan karena beliau adalah seorang yang paling ahli dalam bidang tersebut, namun karena beliau meniru para ulama yang dikenal dengan karya-karyanya.

Yang terakhir, namun tidak kurang pentingnya, cukup banyak kitab yang lahir semata-mata untuk menyebarkan ilmu di masyarakat awam. Ini utamanya terjadi pada masa di mana keislaman masyarakat secara luas masih rendah, karena bahasa ibu masyarakat itu bukan bahasa Arab. Hal ini pernah mendorong Kiai Soleh Darat Semarang untuk menulis kitab-kitabnya dalam aksara asyarakat setempat, yaitu Pegon, dan dalam bahasa Jawa. Dalam menulis tafsir pertama dalam bahasa Jawa, menurut Kiai Soleh sudah masanya umat muslim Jawa diajarkan tafsir al-Qur’an dengan bahasa ibunya, yaitu bahasa Jawa. Mereka lebih butuh akan pemahaman yang benar mengenai al-Qur’an dari pada mengetahui bahasa Arab misalnya. Kiai Soleh menekankan ilmu yang bermanfaat tidak hanya dari kitab bahasa Arab, namun juga dari karya penjelasan baik terjemah maupun syarah, dalam bahasa daerah.

Baca Juga:  Agar Menulis Terasa Mudah

Kiai Soleh berkata,

“Tidak pantas bagi seorang alim menyesatkan orang-orang yang bodoh dalam agama dengan perkataan ‘janganlah belajar kitab berbahasa Jawa atau Melayu karena kitab dalam bahasa Jawa dan Melayu bukanlah ilmu. Yang disebut ilmu adalah kitab berbahasa Arab.’ Maka orang-orang awam mengikuti perkataan itu sehingga justru mereka malah tidak mau mengaji karena susahnya bahasa Arab, akhirnya mereka menjadi bodoh dan tidak tahu agama Islam”.

Jadi menurut Kiai Soleh surga tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang memahami bahasa Arab. Namun bagi siapa saja yang mau menjalankan ajaran agama Islam, dari bahasa apapun mereka memperoleh pemahaman ajaran Islam itu.

Beragam situasi dimaknai oleh para ulama sebagai dorongan untuk menuliskan karya. Mereka bisa berupa cobaan sakit yang tak kunjung sembuh, permintaan dari guru, usaha mencontoh para alim, dan respon terhadap rendahnya pemahaman keislaman di masyarakat. Sekarang ini, karya tulis masih sangat dibutuhkan. Barangkali tujuannya adalah sebagai pengingat kembali kepada masyarakat akan kearifan yang mulai disalahpahami, jika tidak mau dibilang disesat-sesatkan. Mengingatkan kembali akan metode dakwah yang berhasil mengislamkan kakek-kakek buyut kita. Mengingatkan kembali bahwa kita diminta mengajak orang ikut, bukan membuat mereka lari.

Wallahu a´lam.


Like it? Share with your friends!

1
25 shares, 1 point

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Nurahmad