30.3 C
Jakarta

Menelaah Yayasan Radikal Milik HTI: Sayap Penyebaran Ideologi Khilafah

Artikel Trending

KhazanahTelaahMenelaah Yayasan Radikal Milik HTI: Sayap Penyebaran Ideologi Khilafah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Apa yang pertama kali kita bayangkan ketika mendengar kata HTI? Barangkali kita berpikir bahwa, organisasi ini sudah mati dan tidak ada pergerakannya sama sekali. Namun, tidak dengan ideologi khilafah yang menjadi misi dalam gerakannya. Jargon mendirikan pemerintah Islam, selalu digaungkan oleh para aktifis khilafah di berbagai ruang, khususnya di media sosial. Tidak sedikit, media online yang fokus terhadap kampanye narasi khilafah terus ada. Hal ini bisa dilihat melalui: Muslimahnews.net, muslimah.or.id, dll. Di dalam Lembaga pendidikan, salah satunya di kampus, organisasi milik HTI masih tetap eksis melalui keberadaan Gema Pembebasan.

Selain itu, kalau kita cermati, keberadaan organisasi yang membawa misi keislaman dengan label hijrah, cinta Quran dengan kedok sebagai Lembaga, harus kita telisik lebih jauh hubungannya dengan HTI. Mengapa demikian? Faktanya, beberapa Lembaga milik aktifis HTI di masa silam, eksis sampai hari ini dengan branding-nya sebagai NGO yang bertujuan memberikan kemashlahatan umat.

Salah satu Yayasan yang perlu kita lihat adalah Yayasan Cinta Quran Foundation yang didirikan oleh Fatih Karim. Yayasan ini didirikan dengan legalitas akta notaris Andry Surya Darma Sakti, S.H., M.Kn No 01, pada tanggal 20 November 2013 dengan Lembaga Yayasan bersama Yayasan Cinta Quran Global berkedudukan dan berkantor pusat di Kotya Bogor. Berdasarkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Yayasan ini tercatat resmi pada Januari 2012 dan terdaftar sebagai Non-Profi (NGO) di Kemenhukham Republik Indonesia N. AHU-AHU-1713.AH.01.04 Tahun 2014. Ia juga terdaftar di Pemerintah Indonesia sebagai NPO, bernama Cinta Quran Foundation Non-profit Organization resgistration number: 03.337.223.6.404.000 Surat Tanda Pencatatan Yayasan/Orsos, Nomor: 460/1138-Bangsos.

Yayasan di atas hanyalah secuil contoh dari Yayasan milik aktifis HTI. Menjelma sebagai Yayasan yang sangat islami, benarkah Yayasan ini untuk kepentingan Islam, atau justru untuk kepentingan mendirikan negara Islam yang menjadi misi utama HTI?

Penyebaran ideologi khilafah melalui yayasan

Selain Cinta Quran Foundation yang didirikan oleh Fatih Karim, ideolog ulung HTI. Ada pula BWA (Badan Waqaf Al-Quran), milik Heru Binawan yang juga merupakan aktifis HTI di masa silam. Sampai hari ini, pandangan Heru tentang Islam dan negara, tidak lebih dari sekedar pendirian negara khilafah yang harus tegak di Indonesia. Secara ideologi pendiri, kita bisa melacak bahwa Lembaga yang dipimpin oleh Heru memiliki misi yang sama dengan HTI, yakni mendirikan negara Islam di Indonesia.

BACA JUGA  Melihat Kerentanan Anak Pelaku Teroris menjadi Teroris

Tidak bisa dipungkiri bahwa, sejak HTI dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 2017 silam, pergerakannya tidak terlihat seperti sebelumnya. Untuk mendeteksi wajah HTI justru sangat suli. Sebab mereka melakukan gerakan bawah tanah dengan menjelma menjadi banyak hal, termasuk pendirian negara Yayasan. Salah satu Yayasan bisa kita klaim sebagai sayap kanan penyebaran ideologi khilafah adalah Yayasan Cinta Quran Foundation. Pendiri Yayasan ini, yakni Fatih Karim, yang menjadi otak dari penyebaran HTI dengan menjelma menjadi banyak hal.

Fatih Karim, secara personalnya sebagai seorang ustaz, target market para muridnya adalah para artis, influencer, kaya raya yang sedang mengalami kegelisahan dalam hidupnya. Melalui aktifitas itu, ia menjelma menjadi orang kaya yang siap melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung penyebaran ideologi khilafah. Selain itu, sebagai pendiri Yayasan Cinta Quran Foundation, ia masif melakukan gerakan yang berujung pada penyebaran HTI. Ada banyak program yang dilakukan melalui Yayasan tersebut dan berhasil mencapai donasi miliaran rupiah.

Di sisi lain, ada murid lainnya, yakni Felix Siauw, yang berhasil dimualafkan melalui HTI, dan tentunya, memiliki ikatan emosional kuat untuk menyebarkan HTI lebih luas. Buktinya, sampai hari ini, Felix Siauw adalah ustaz yang tidak gentar untuk mengkampanyekan khilafah di berbagai forum.

Terbaru, Yayasan Indonesia Bisa Ngaji juga merupakan afiliasi HTI, yang diprakarsasi oleh Rezaldi Harisman, kader Gema Pembebasan asal Bandung dan pernah menjadi Sekjend Gema Pembebasan Jawa Barat dan menjadi Ketua Gema Pembebasan Banten Raya. Dalam menjalankan roda organisasi tersebut, Nurdin Soga menjadi ktua dan Indra Lesmana sebagai sekretaris. Mereka adalah tokoh yang tidak gentar mengkampanyekan khilafah sampai hari ini. Sampai disini, kita bisa memahami bahwa Yayasan yang didirikan oleh aktifis HTI menjadi sayap penyebaran ideologi khilafah. Mereka menjelma di berbagai spektrum untuk terus konsisten menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Sekalipun kita memberantas organisasinya, yakni HTI. Ada banyak cara yang dilakukan oleh para aktifis khilafah untuk terus menyebarkan ideologi mereka. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru